Manusia terus berbondong-bondong dan
berlomba mengejar kehidupan yang fana. Seakan
lupa, bahwa bukan untuk ini Allah
menciptakannya. Kebutaan akan hakikat
kehidupan semakin kentara. Selimut kecintaan
mendalam terhadap dunia dan takut akan
kematian semakin menebal. Isyarat ini telah lama
disampaikan oleh Rasulullah, namun sedikit yang
memahaminya.
Apabila membaca, mendengar, melihat dan
mengetahui berita tentang gejala keruntuhan
akhlak di kalangan masyarakat - dari yang
sekecil-kecilnya hingga yang paling besar - hati
kecil ini sering merintih sendirian. Terfikirkan
tentang keadaan diri manusia akhir zaman ini
yang mulai jauh dengan petunjuk dari langit.
Kehidupan seakan-akan terasing dari
petunjuk ini. Seolah-olah diri ini tidak pernah
didatangi Nabi. Seolah-olah Quran tidak pernah
muncul. Seolah-olah wahyu dan Nur hidayah
tidak pernah datang menjenguk diri manusia.
Kenapa berlaku demikian? Bukankah Allah
telah membangkitkan RasulNya untuk
menunjukkan jalan hidup kepada manusia?
Bukankah Allah-dengan rahmatNya-menurunkan
wahyuNya sebagai pedoman hidup manusia?
Sejarah kehidupan manusia pernah
menyaksikan kehidupan manusia terbaik di muka
bumi. Dari manusia ganas, zalim, penindas, sesat
bertukar menjadi manusia baik, adil, penyayang
dan berjalan menurut petunjuk. Generasi para
Sahabat didikan Rasulullah saw melalui bentuk
pendidikan yang menyadarkan manusia arti hidup
dan mati adalah contoh terbaik umat sepanjang
zaman.
Kenapa mereka bisa bertukar dari jahiliah
kepada Islam? Mengapa mereka bisa berubah dari
manusia ‘pagan’ menjadi manusia berbudaya
tinggi dan berperadaban ulung? Tidakkah dengan
sebab petunjuk dari langit?
Petunjuk itulah juga yang sebenarnya
pernah menjenguk dan mengintai hati kita.
Sayangnya, diri kita tidak pernah merasai bahwa
ia sebagai sesuatu yang cukup berharga dalam
hidup. Bahkan, tidak ada cara, tidak ada jalan,
tidak ada kaedah melainkan masyarakat ini mesti
kembali kepada petunjuk dan bimbingan dari
langit itu. Hanya dengan jalan demikian, kita
semua akan selamat dunia Akhirat.
Manusia diciptakan Allah hanya untuk
beribadah kepadaNya saja. Apa yang hendak
dicari di dunia?
Saatnya kembali di atas jalur yang benar.
Jalur yang mengantarkan ke pintu syurga.
Menyiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat.
Minggu, 26 Agustus 2012
Jumat, 10 Agustus 2012
Tiga Tugas Manusia
Bila semua yang dilakukan kita niatkan sebagai ibadah; sebagai sarana
meraih ridha Allah, pasti hidup kita akan tenang. Saudaraku, satu hal
penting dalam hidup adalah memiliki tujuan. Kita harus bisa menjawab:
untuk apa kita hidup dan apa yang harus kita lakukan untuk mengisinya.
Memahami secara benar tujuan hidup, akan membuat semua yang kita lakukan lebih terarah, terfokus dan kita pun bisa terhindar dari perbuatan sia-sia. Orang yang memiliki tujuan, walau lambat jalannya, jauh lebih baik dari orang yang melakukan percepatan tapi tidak memiliki tujuan. Walau lambat, asal istikamah melangkah, insya Allah ia akan sampai ke tempat tujuan.
Setidaknya ada tiga tugas utama yang menanti kita, dan ke sanalah tujuan hidup kita arahkan. Tugas pertama adalah beribadah kepada Allah SWT. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” demikian firman Allah dalam QS Adz Dzaariyat [51] ayat 56. Jadi, kita adalah hamba Allah. Kita harus yakin tiada penguasa yang kekal abadi selain Allah. Kita harus yakin bahwa semua yang ada di dunia ini seratus persen ada dalam genggaman Allah. Juga, semua yang terjadi mutlak atas izin Allah. Hikmahnya, kita tidak boleh menjadi hamba apa pun, selain menjadi hamba Allah.
Saudaraku, bila semua yang dilakukan kita niatkan sebagai ibadah; sebagai sarana meraih ridha Allah, pasti hidup kita akan tenang. Jaminan Allah tidak akan tertukar. Masalahnya, sudah ikhlas atau belum niat kita; sudah benar atau belum ikhtiar kita?
Kedua, tugas sebagai khalifah. Allah Yang Mahamulia menjadikan kita sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Maka, jangan pernah terbetik dalam pikiran untuk menyia-nyiakan amanah besar ini. Jangan pernah terpikir untuk bertindak setengah-setengah, delapan puluh persen, atau sembilan puluh persen. Lakukanlah seratus persen. Lakukan secara maksimal, agar hasil yang kita dapatkan maksimal pula.
Saudaraku, hidup hanya sekali. Maka lakukanlah yang terbaik, agar saat kematian kelak, kita tengah berada di puncak prestasi. Boleh jadi inilah rahasia mengapa Allah merahasiakan kematian kita. Tujuannya tidak lain agar kita bersungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik kapan pun dan di mana pun. Kita harus maksimal dalam bekerja agar mendapatkan uang banyak. Kiat pun harus maksimal dalam belajar agar menjadi pintar. Tentu, semuanya bukan untuk memperkaya dan memintarkan diri, kita mampu mensejahterakan dan memintarkan orang lain. Kita cukup menjadi perantara saja. Jadilah manusia terbaik. Yaitu manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Ketiga, tugas untuk berdakwah. Saudaraku, di mana pun kita ada, kita harus berdakwah menyebarkan nilai-nilai Islam. Tentu, cara dakwah kita harus sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah SAW. Setidaknya ada dua formula dakwah yang bisa kita terapkan, yaitu (1) menjadi bukti keindahan Islam. Akhlak kita harus mencerminkan nilai-nilai Islam, mulai dari cara makan, bergaul, berkata, bersikap, berkeluarga, hingga berpolitik harus bisa mencerminkan indahnya Islam. (2) Dakwah yang kita lakukan bukan untuk menghakimi, tapi untuk membantu; membantu orang yang tidak paham, menjadi paham Islam; membantu orang yang lupa menjadi ingat; membantu orang bodoh menjadi pintar; membantu orang lalai menjadi sungguh-sungguh, dst. Tugas kita hanyalah memberi peringatan. Wallahu a’lam.
Memahami secara benar tujuan hidup, akan membuat semua yang kita lakukan lebih terarah, terfokus dan kita pun bisa terhindar dari perbuatan sia-sia. Orang yang memiliki tujuan, walau lambat jalannya, jauh lebih baik dari orang yang melakukan percepatan tapi tidak memiliki tujuan. Walau lambat, asal istikamah melangkah, insya Allah ia akan sampai ke tempat tujuan.
Setidaknya ada tiga tugas utama yang menanti kita, dan ke sanalah tujuan hidup kita arahkan. Tugas pertama adalah beribadah kepada Allah SWT. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” demikian firman Allah dalam QS Adz Dzaariyat [51] ayat 56. Jadi, kita adalah hamba Allah. Kita harus yakin tiada penguasa yang kekal abadi selain Allah. Kita harus yakin bahwa semua yang ada di dunia ini seratus persen ada dalam genggaman Allah. Juga, semua yang terjadi mutlak atas izin Allah. Hikmahnya, kita tidak boleh menjadi hamba apa pun, selain menjadi hamba Allah.
Saudaraku, bila semua yang dilakukan kita niatkan sebagai ibadah; sebagai sarana meraih ridha Allah, pasti hidup kita akan tenang. Jaminan Allah tidak akan tertukar. Masalahnya, sudah ikhlas atau belum niat kita; sudah benar atau belum ikhtiar kita?
Kedua, tugas sebagai khalifah. Allah Yang Mahamulia menjadikan kita sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Maka, jangan pernah terbetik dalam pikiran untuk menyia-nyiakan amanah besar ini. Jangan pernah terpikir untuk bertindak setengah-setengah, delapan puluh persen, atau sembilan puluh persen. Lakukanlah seratus persen. Lakukan secara maksimal, agar hasil yang kita dapatkan maksimal pula.
Saudaraku, hidup hanya sekali. Maka lakukanlah yang terbaik, agar saat kematian kelak, kita tengah berada di puncak prestasi. Boleh jadi inilah rahasia mengapa Allah merahasiakan kematian kita. Tujuannya tidak lain agar kita bersungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik kapan pun dan di mana pun. Kita harus maksimal dalam bekerja agar mendapatkan uang banyak. Kiat pun harus maksimal dalam belajar agar menjadi pintar. Tentu, semuanya bukan untuk memperkaya dan memintarkan diri, kita mampu mensejahterakan dan memintarkan orang lain. Kita cukup menjadi perantara saja. Jadilah manusia terbaik. Yaitu manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Ketiga, tugas untuk berdakwah. Saudaraku, di mana pun kita ada, kita harus berdakwah menyebarkan nilai-nilai Islam. Tentu, cara dakwah kita harus sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah SAW. Setidaknya ada dua formula dakwah yang bisa kita terapkan, yaitu (1) menjadi bukti keindahan Islam. Akhlak kita harus mencerminkan nilai-nilai Islam, mulai dari cara makan, bergaul, berkata, bersikap, berkeluarga, hingga berpolitik harus bisa mencerminkan indahnya Islam. (2) Dakwah yang kita lakukan bukan untuk menghakimi, tapi untuk membantu; membantu orang yang tidak paham, menjadi paham Islam; membantu orang yang lupa menjadi ingat; membantu orang bodoh menjadi pintar; membantu orang lalai menjadi sungguh-sungguh, dst. Tugas kita hanyalah memberi peringatan. Wallahu a’lam.
Kamis, 09 Agustus 2012
Air Mata Pemadam Api Neraka
Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Bahwa tidak akan masuk neraka orang
menangis karena takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke
tempat asalnya." Dalam sebuah kitab Daqa'iqul Akhbar menerangkan Bahwa
akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat nanti, dan sangat
beratlah timbangan kejahatannya, dan telah diperintahkan untuk
dimasukkan ke dalam neraka.
Maka salah satu daripada rambut-rambut matanya berkata, "Wahai Tuhanku, Rasul Engkau Nabi Muhammad S.A.W telah bersabda, sesiapa yang menangis karenana takut kepada Allah S.W.T, maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku menangis karena amat takut kepada-Mu."
Akhirnya Allah S.W.T mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka berkat sehelai rambut yang pernah menangis karena takut kepada Allah SWT. Malaikat Jibril as mengumumkan, telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut." Dalam sebuah kitab lain, Bidayatul-Hidayah, diceritakan bahwa pada hari kiamat nanti, akan didatangkan neraka jahanam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyala api yang sangat menggetarkan, semua umat menjadi berlutut karena kesusahan menghadapinya. Allah S.W.T berfirman yang artinya, "Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalas menurut apa-apa yang telah kau kerjakan." (QS al-Jatsiyah ayat 28)
Baru saja mereka mendekati neraka, mereka mendengar kegeraman api neraka dengan nyala apinya. Dan diterangkan dalam kitab tersebut bahwa suara nyala api neraka itu dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan. Pada waktu itu, akan berkata setiap orang hingga Nabi-nabi dengan ucapan, "Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Allah) kecuali hanya seorang nabi saja yang akan berkata,"Umatku, umatku."
Beliau ialah junjungan besar kita Nabi Muhammad S.A.W. Pada masa itu akan keluarlah api neraka jahim seperti gunung- gunung, umat Nabi Muhammad berusaha menghalanginya dengan berkata, "Wahai api! Demi hak orang-orang yang sholat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyuk, demi hak orang-orang yang berpuasa, supaya engkau kembali."
Walaupun dikata demikian, api neraka itu tetap tidak mau kembali, lalu malaikat Jibril berkata, "Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Muhammad S.A.W"
Kemudian Jibril membawa semangkuk air dan Rasulullah meraihnya. Berkata Jibril A.S. "Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya." Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, maka padamlah api itu. Setelah itu Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada Jibril A.S. "Wahai Jibril, Apakah air itu?" Maka Jibril berkata, "Itulah air mata orang durhaka di kalangan umatmu yang menangis karena takut kepada Allah S.W.T. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu." Maka padamlah api itu dengan izin Allah S.W.T. Telah bersabda Rasulullah SAW, "Ya Allah anugerahilah kepada kami dua buah mata yang menangis karena takut kepada- Mu, sebelum tidak ada lagi air mata."
Maka salah satu daripada rambut-rambut matanya berkata, "Wahai Tuhanku, Rasul Engkau Nabi Muhammad S.A.W telah bersabda, sesiapa yang menangis karenana takut kepada Allah S.W.T, maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku menangis karena amat takut kepada-Mu."
Akhirnya Allah S.W.T mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka berkat sehelai rambut yang pernah menangis karena takut kepada Allah SWT. Malaikat Jibril as mengumumkan, telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut." Dalam sebuah kitab lain, Bidayatul-Hidayah, diceritakan bahwa pada hari kiamat nanti, akan didatangkan neraka jahanam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyala api yang sangat menggetarkan, semua umat menjadi berlutut karena kesusahan menghadapinya. Allah S.W.T berfirman yang artinya, "Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalas menurut apa-apa yang telah kau kerjakan." (QS al-Jatsiyah ayat 28)
Baru saja mereka mendekati neraka, mereka mendengar kegeraman api neraka dengan nyala apinya. Dan diterangkan dalam kitab tersebut bahwa suara nyala api neraka itu dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan. Pada waktu itu, akan berkata setiap orang hingga Nabi-nabi dengan ucapan, "Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Allah) kecuali hanya seorang nabi saja yang akan berkata,"Umatku, umatku."
Beliau ialah junjungan besar kita Nabi Muhammad S.A.W. Pada masa itu akan keluarlah api neraka jahim seperti gunung- gunung, umat Nabi Muhammad berusaha menghalanginya dengan berkata, "Wahai api! Demi hak orang-orang yang sholat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyuk, demi hak orang-orang yang berpuasa, supaya engkau kembali."
Walaupun dikata demikian, api neraka itu tetap tidak mau kembali, lalu malaikat Jibril berkata, "Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Muhammad S.A.W"
Kemudian Jibril membawa semangkuk air dan Rasulullah meraihnya. Berkata Jibril A.S. "Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya." Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, maka padamlah api itu. Setelah itu Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada Jibril A.S. "Wahai Jibril, Apakah air itu?" Maka Jibril berkata, "Itulah air mata orang durhaka di kalangan umatmu yang menangis karena takut kepada Allah S.W.T. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu." Maka padamlah api itu dengan izin Allah S.W.T. Telah bersabda Rasulullah SAW, "Ya Allah anugerahilah kepada kami dua buah mata yang menangis karena takut kepada- Mu, sebelum tidak ada lagi air mata."
12 Barisan DI Hari Kiamat
"Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris" (An-Naba':18 ).
Dalam sebuah riwayat diriwayatkan, suatu ketika, Muadz bin Jabal ra menghadap Rasulullah saw dan bertanya: "Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT: "Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris" (An-Naba':18 ).
Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: 'wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris menjadi 12 barisan, masing-masing dengan pembawaan mereka sendiri'. Maka ditanyakan apakah 12 barisan tersebut? Yaitu;
BARISAN PERTAMA. Digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih. "Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEDUA. Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: "Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya menyia-nyiakan sholat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KETIGA. Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kalajengking. "Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEEMPAT. Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. "Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli, maka inilah balasannya dan tempat mereka adalah neraka..."
BARISAN KELIMA. Digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. "Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEENAM. Digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. "Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KETUJUH. Digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. "Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEDELAPAN. Digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. "Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KESEMBILAN. Digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. "Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KESEPULUH. Digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit kulit dan kusta. "Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KESEBELAS. Digiring dari kubur mereka dalam keadaan buta, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut dan keluar beraneka kotoran. "Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEDUA BELAS. Mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian shirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang
Maha Pengasih memaklumkan: "Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah surga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keridhaan Allah Yang Maha Pengasih..."
Semoga kita semua di shaf yang Ke-12 yang mendapat rahmat dari Allah SWT... Amin... Wallahu a’lam.
Dalam sebuah riwayat diriwayatkan, suatu ketika, Muadz bin Jabal ra menghadap Rasulullah saw dan bertanya: "Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT: "Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris" (An-Naba':18 ).
Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: 'wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris menjadi 12 barisan, masing-masing dengan pembawaan mereka sendiri'. Maka ditanyakan apakah 12 barisan tersebut? Yaitu;
BARISAN PERTAMA. Digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih. "Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEDUA. Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: "Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya menyia-nyiakan sholat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KETIGA. Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kalajengking. "Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEEMPAT. Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. "Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli, maka inilah balasannya dan tempat mereka adalah neraka..."
BARISAN KELIMA. Digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. "Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEENAM. Digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. "Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KETUJUH. Digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. "Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEDELAPAN. Digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. "Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KESEMBILAN. Digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. "Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KESEPULUH. Digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit kulit dan kusta. "Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KESEBELAS. Digiring dari kubur mereka dalam keadaan buta, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut dan keluar beraneka kotoran. "Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
BARISAN KEDUA BELAS. Mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian shirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang
Maha Pengasih memaklumkan: "Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah surga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keridhaan Allah Yang Maha Pengasih..."
Semoga kita semua di shaf yang Ke-12 yang mendapat rahmat dari Allah SWT... Amin... Wallahu a’lam.
Surat Terbuka Dari Iblis
Hai manusia yang tersayang, tadi malam waktu akan tidur, aku lihat
engkau tidak memuji Allah, tidak bersholawat, tidak membaca Ayat Kursi
dan Al Ikhlas. Ini bagus sekali karena waktu akan tidur adalah waktu
untuk tidur, bukan untuk membaca Al- Qur’an. Sungguh engkau tidak
membuang- buang waktu.
Pagi ini aku lihat engkau tidak bangun mengerjakan sholat subuh. Bagus sekali! Engkau telah membuktikan bahwa engkau adalah sahabatku yang budiman. Janganlah engkau susah-susah bangun dan memendekkan tidurmu. Tidurlah dengan nyenyak dan nyaman. Jangan hiraukan suara ayam berkokok yang membangunkanmu dari tidurmu. Bila subuh datang menjelang, udara masih dingin, tariklah selimutmu dan tidurlah sayangku seperti puteri kayangan.
Aku lihat engkau jarang-jarang mengambil wudhu’. Ini bagus sekali karena engkau tidak memubadzirkan air dan tidak meninggikan tagihan air PAM rumahmu. Aku lihat engkau tak pernah membaca Bismillah sewaktu akan makan. Ini yang kusuka, kerena aku bisa ikut makan denganmu. Dan bila sudah kenyang, engkau tak pernah menyebut Alhamdulillah. Ini bagus juga. Cukuplah bersendawa kuat-kuat seperti lembu.
Hai manusia yang kucintai, Kemarin ada seorang peminta sedekah datang ke rumahmu. Engkau menghalau dia suruh pergi tanpa engkau memberikan duit serupiah ataupun seteguk air. Ini sangat
bagus dan terpuji, karena engkau tidak membuang-buang duit dan tak memubadzirkan rejekimu yang melimpah- ruah yang diberi Allah kepadamu. Engkau seorang yang hemat dan cermat. Biarlah rejekimu untuk kegunaan engkau seorang, untuk menonton film, berholiday di Eropa dan membeli kemewahan-kemewahan dunia.
Aku lihat bila engkau bertemu dengan sahabatmu, engkau tidak mengucapkan Assalamualaikum. Engkau mengucapkan “Hi Everybody!” Ini bagus juga karena engkau menunjukkan bahwa engkau mengerti gaya orang kafir dan engkau mengerti bahasa Inggris. Tak perlu engkau belajar membaca bahasa Arab karena ini bukan bahasa internasional. Engkau telah membuktikan bahwa engkau dan aku adalah sahabat sejati. Sudah tentu engkau adalah seorang yang budiman kepada kaumku.
Duhai manusia, Di sepanjang Ramadhan, telah lemah seluruh urat sendiku, telah terbakar seluruh jasadku, merintih ku kesakitan, bila setiap kali kulihat hamba- hambaNya yang penat berpuasa di malam hari dan menghabiskan waktu malam dengan bertarawih, berzikir dan merintih mengenang dosa-dosanya yang lampau, karena pintu taubat telah dibuka oleh Allah dengan seluas-luasnya...
Namun, aku tetap gembira karena ada di antara kalian yang masih sudi menjadi temanku.. melepaskan peluang rahmat Allah dengan mengucap perkataan yang sia-sia, mengumpat, tidak bertarawih, malah mencipta persengketaan... aduhai tubuh badanku yang terbelenggu telah segar kembali... cukuplah nafsu manusia sendiri menjadi penyambung tugasku di sepanjang bulan yang dirahmati ini... Di akhirat nanti, engkau dan aku dapat berjalan bersama-sama.... kita berpegang-tangan menuju Neraka Jahannam. Sahabatmu Yang Tercinta, Iblis Laknatullah
Pagi ini aku lihat engkau tidak bangun mengerjakan sholat subuh. Bagus sekali! Engkau telah membuktikan bahwa engkau adalah sahabatku yang budiman. Janganlah engkau susah-susah bangun dan memendekkan tidurmu. Tidurlah dengan nyenyak dan nyaman. Jangan hiraukan suara ayam berkokok yang membangunkanmu dari tidurmu. Bila subuh datang menjelang, udara masih dingin, tariklah selimutmu dan tidurlah sayangku seperti puteri kayangan.
Aku lihat engkau jarang-jarang mengambil wudhu’. Ini bagus sekali karena engkau tidak memubadzirkan air dan tidak meninggikan tagihan air PAM rumahmu. Aku lihat engkau tak pernah membaca Bismillah sewaktu akan makan. Ini yang kusuka, kerena aku bisa ikut makan denganmu. Dan bila sudah kenyang, engkau tak pernah menyebut Alhamdulillah. Ini bagus juga. Cukuplah bersendawa kuat-kuat seperti lembu.
Hai manusia yang kucintai, Kemarin ada seorang peminta sedekah datang ke rumahmu. Engkau menghalau dia suruh pergi tanpa engkau memberikan duit serupiah ataupun seteguk air. Ini sangat
bagus dan terpuji, karena engkau tidak membuang-buang duit dan tak memubadzirkan rejekimu yang melimpah- ruah yang diberi Allah kepadamu. Engkau seorang yang hemat dan cermat. Biarlah rejekimu untuk kegunaan engkau seorang, untuk menonton film, berholiday di Eropa dan membeli kemewahan-kemewahan dunia.
Aku lihat bila engkau bertemu dengan sahabatmu, engkau tidak mengucapkan Assalamualaikum. Engkau mengucapkan “Hi Everybody!” Ini bagus juga karena engkau menunjukkan bahwa engkau mengerti gaya orang kafir dan engkau mengerti bahasa Inggris. Tak perlu engkau belajar membaca bahasa Arab karena ini bukan bahasa internasional. Engkau telah membuktikan bahwa engkau dan aku adalah sahabat sejati. Sudah tentu engkau adalah seorang yang budiman kepada kaumku.
Duhai manusia, Di sepanjang Ramadhan, telah lemah seluruh urat sendiku, telah terbakar seluruh jasadku, merintih ku kesakitan, bila setiap kali kulihat hamba- hambaNya yang penat berpuasa di malam hari dan menghabiskan waktu malam dengan bertarawih, berzikir dan merintih mengenang dosa-dosanya yang lampau, karena pintu taubat telah dibuka oleh Allah dengan seluas-luasnya...
Namun, aku tetap gembira karena ada di antara kalian yang masih sudi menjadi temanku.. melepaskan peluang rahmat Allah dengan mengucap perkataan yang sia-sia, mengumpat, tidak bertarawih, malah mencipta persengketaan... aduhai tubuh badanku yang terbelenggu telah segar kembali... cukuplah nafsu manusia sendiri menjadi penyambung tugasku di sepanjang bulan yang dirahmati ini... Di akhirat nanti, engkau dan aku dapat berjalan bersama-sama.... kita berpegang-tangan menuju Neraka Jahannam. Sahabatmu Yang Tercinta, Iblis Laknatullah
Ibu oh Ibu....
Tubuh manusia hanya dapat menahan rasa sakit hingga 45 del (unit) rasa
sakit. Namun pada saat melahirkan, seorang ibu merasakan hingga 57 del
(unit) rasa sakit. Ini setara dengan mengalami 20 patah tulang dalam
satu waktu. Dapatkah Engkau bayangkan sekarang, penderitaan dan rasa
cinta para Ibu? Kasih Sayang Seorang Ibu? Wallaahi, pengorbanan kita,
sama sekali belum dapat membayar desak napas beliau ketika melahirkan..
Ketika mengalami kesulitan, hati tak bersinar, suram.. Datangilah
orangtua, minta lah do`a beliau. Sebab, do`a seorang ibu adalah do`a
yang dikabulkan.
Ibu.... Tak akan pernah mendo`akan kejelekan kepada anaknya,. Walau bagaimana pun marahnya, namun hatinya amat lembut, bagai air di tengah gurun, Sungguh, aku tak dapat berkata apa2 lagi. Seorang Ulama besar, kala itu beliau tengah memberi kajian di Majlis `Ilmu, kemudian Ibu beliau memanggil untuk pulang memberi makan hewan ternak, beliau tutupKitab, dan berlanjut pulang. Setelah selesai, beliau balik lagi ke Majlis `Ilmu, dan Jama`ah masih diisana menunggu beliau. Begitu juga Do`a Ibu Imam Bukhari, ketika beliau waktu kecil mengalami kebutaan.
Beliau menagis berdo`a pada Allah, dan dalam mimpi beliau bertemu dengan Abu Bakar, dan Abu Bakar berkata bahwamam Bukhari akan disembuhkan. Ternyata memang benar, Imam Bukhari sembuh. Subhaanallaah, Imam Bukhari hanya dibesarkan dan dididik dengan tangan seorang Ibu. Ada sebuah kisah dari Salaf. Iyas bin Muawiyyah radhiyallaahu `anhu, Ibu beliau meninggal. Dan beliau menangis. Kemudian ada yg bertanya kepada beliau, "Kenapa engkau menangisi kematian Ibumu..?", beliau menjawab, "Aku tak menangisi kematian beliau, yg aku tagiskan adalah, 1 pintu pembuka surga ku tertutup..." Begitu juga, kisah Zainul Abidin. Beliau adalah orang yg paling berbakti pada Ibunya. Sso bertanya pada beliau, "Aku tak pernah melihatmu makan bersama orangtuamu, kenapa begitu..?", beliau menjawab, "Aku takut, mengambil makanan yang orangtua ku juga menginginkan itu..." Selanjutnya, silahkan buka Kitab Syi`ar A`lamu An Nubala`, karya Imam Adz Dzahabi rahimahullaah, salah satu murid kesayangan Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullaah.
Subhaanallaah Kalau lah disediakan halaman untuk menukil bakti para Salaf kepada orangtua beliau, baik itu orangtua yg masih belum mendapat hidayah, masih kafir, atau yg sudah shalih, sungguh aku tak dapat menuliskannya, karena salaf adalah orang2 yg terkenal paling taat pada orangtua beliau. Saudari, jika sekiranya kalian berada dekat dengan orangtua, apakah serumah, berdekatan rumah, sedesa, dst, manfaatkanlah dan maksimalkanlah untuk berbakti dan berbuat baik pada mereka, apalagi kalau beliau sudah tua renta, udzur. Tidakkah kalian merasakan ketika berada jauh dengan mereka, kalian akan merasa rindu sekali. Jika, yang dahulu pernah durhaka pada mereka, dan belum sempat meminta maaf, sedangkan mereka sudah meninggal, satu-satu nya cara adalah taubatlah pada Allaah dan perbanyaklah beramal shalih. Ingatlah, jika sudah tiada, baru terasa... Bagaimana perlakuan kita thd orangtua, begitu pula lah perlakuan anak kita pada kita.
Renungkanlah... Jangan lupa mendo`akan beliau, baik itu orangtua yg masih ada ataupun yg sudah meninggal (inilah dedikasi anak shalih yg terus mengalir pahala amalan anaknya pada orangtua, krn itu adalah jerih payah orangtua) Sambung silaturrahmi dengan teman2 atau kerabat orangtua.... Baarakallaahu fiik Nasihat buat saya khususnya, dan saudari semua,. Semoga manfaat,
Ibu.... Tak akan pernah mendo`akan kejelekan kepada anaknya,. Walau bagaimana pun marahnya, namun hatinya amat lembut, bagai air di tengah gurun, Sungguh, aku tak dapat berkata apa2 lagi. Seorang Ulama besar, kala itu beliau tengah memberi kajian di Majlis `Ilmu, kemudian Ibu beliau memanggil untuk pulang memberi makan hewan ternak, beliau tutupKitab, dan berlanjut pulang. Setelah selesai, beliau balik lagi ke Majlis `Ilmu, dan Jama`ah masih diisana menunggu beliau. Begitu juga Do`a Ibu Imam Bukhari, ketika beliau waktu kecil mengalami kebutaan.
Beliau menagis berdo`a pada Allah, dan dalam mimpi beliau bertemu dengan Abu Bakar, dan Abu Bakar berkata bahwamam Bukhari akan disembuhkan. Ternyata memang benar, Imam Bukhari sembuh. Subhaanallaah, Imam Bukhari hanya dibesarkan dan dididik dengan tangan seorang Ibu. Ada sebuah kisah dari Salaf. Iyas bin Muawiyyah radhiyallaahu `anhu, Ibu beliau meninggal. Dan beliau menangis. Kemudian ada yg bertanya kepada beliau, "Kenapa engkau menangisi kematian Ibumu..?", beliau menjawab, "Aku tak menangisi kematian beliau, yg aku tagiskan adalah, 1 pintu pembuka surga ku tertutup..." Begitu juga, kisah Zainul Abidin. Beliau adalah orang yg paling berbakti pada Ibunya. Sso bertanya pada beliau, "Aku tak pernah melihatmu makan bersama orangtuamu, kenapa begitu..?", beliau menjawab, "Aku takut, mengambil makanan yang orangtua ku juga menginginkan itu..." Selanjutnya, silahkan buka Kitab Syi`ar A`lamu An Nubala`, karya Imam Adz Dzahabi rahimahullaah, salah satu murid kesayangan Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullaah.
Subhaanallaah Kalau lah disediakan halaman untuk menukil bakti para Salaf kepada orangtua beliau, baik itu orangtua yg masih belum mendapat hidayah, masih kafir, atau yg sudah shalih, sungguh aku tak dapat menuliskannya, karena salaf adalah orang2 yg terkenal paling taat pada orangtua beliau. Saudari, jika sekiranya kalian berada dekat dengan orangtua, apakah serumah, berdekatan rumah, sedesa, dst, manfaatkanlah dan maksimalkanlah untuk berbakti dan berbuat baik pada mereka, apalagi kalau beliau sudah tua renta, udzur. Tidakkah kalian merasakan ketika berada jauh dengan mereka, kalian akan merasa rindu sekali. Jika, yang dahulu pernah durhaka pada mereka, dan belum sempat meminta maaf, sedangkan mereka sudah meninggal, satu-satu nya cara adalah taubatlah pada Allaah dan perbanyaklah beramal shalih. Ingatlah, jika sudah tiada, baru terasa... Bagaimana perlakuan kita thd orangtua, begitu pula lah perlakuan anak kita pada kita.
Renungkanlah... Jangan lupa mendo`akan beliau, baik itu orangtua yg masih ada ataupun yg sudah meninggal (inilah dedikasi anak shalih yg terus mengalir pahala amalan anaknya pada orangtua, krn itu adalah jerih payah orangtua) Sambung silaturrahmi dengan teman2 atau kerabat orangtua.... Baarakallaahu fiik Nasihat buat saya khususnya, dan saudari semua,. Semoga manfaat,
Ada satu hari yang sudah pasti akan ditentukanNya pada saat yang tak seorang manusiapun bisa meramalkannya. Tahukah engkau, saat hari itu tiba, apa yang akan Ia tanyakan padamu? 1. Tuhan tak bertanya jenis kendaraan apa yang kau gunakan, Dia akan bertanya berapa banyak orang yang kau berikan tumpangan. 2. Tuhan takkan bertanya berapa luas halaman rumahmu, Ia bertanya berapa banyak orang yg kau terima dirumahmu. 3. Tuhan tidak bertanya tentang pakaian yang kau simpan dilemari, Ia bertanya berapa banyak orang yg telah kau berikan pakaian. 4. Tuhan tidak bertanya berapa besar gajimu, Ia akan bertanya apakah engkau menjual hati nuranimu untuk memperolehnya. 5. Tuhan takkan bertanya apakah pekerjaanmu, Ia akan bertanya apakah engkau menjalankan pekerjaanmu dengan kemampuaan terbaik yg kau miliki. 6. Tuhan takkan bertanya berapa banyak teman yg kau miliki, Ia akan bertanya berapa banyak orang yg mengalami bahwa engkau adalah teman. 7. Tuhan takkan bertanya dengan tetangga seperti apa engkau tinggal, Ia akan bertanya bagaimana engkau memperlakukan tetanggamu. 8. Tuhan takkan bertanya mengenai warna kulitmu, Dia akan bertanya putihk
Langganan:
Postingan (Atom)




