Siapakah orang yang sombong?
Orang yang sombong adalah orang yang di beri penghidupan tapi tidak mau
sujud pada yang menjadikan kehidupan itu iaitu Allah Rabbul Alaamin,
Tuhan sekelian alam. Maka bertasbihlah segala apa yang ada di bumi dan
langit pada TuhanNya kecuali jin dan manusia yang sombong diri.
Siapakah orang yang telah mati hatinya?
Orang yang telah mati hatinya adalah orang yang diberi petunjuk melalui
ayat-ayat Qur’an, Hadits dan cerita2 kebaikan namun merasa tidak ada
apa2 kesan di dalam jiwa untuk bertaubat.
Siapakah orang dungu kepala otaknya?
Orang yang dunggu kepala otaknya adalah orang yang tidak mau lakukan
ibadat tapi menyangka bahwa Tuhan tidak akan menyiksanya dengan
kelalaiannya itu dan sering merasa tenang dengan kemaksiatannya.
Siapakah orang yang kuat?
Orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan kemarahannya ketika ia di dalam kemarahan.
Siapakah orang yang lemah?
Orang yang lemah adalah orang yang melihat akan kemaksiatan di depan
matanya tidak sedikit pun ada kebencian di dalam hatinya akan
kemungkaran itu.
Siapakah orang yang bakhil?
Orang yang bakhil lagi kedekut adalah orang yang berat lidahnya untuk membaca shalawat keatas junjungan Rasulullah s.a.w.
Siapakah orang yang buta?
Orang yang buta adalah orang yang tidak mau membaca dan meneliti akan
kebesaran Al Qur’an dan tidak mau mengambil pelajaran daripadanya.
Siapakah orang yang tuli?
Orang yang tuli adalah orang yang di beri nasihat dan pengajaran yang baik namun tidak diindahkannya.
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil berat akan waktu
sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi
Sulaiman a.s.
Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa
musibah lalu dia kata “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Lalu sambil
berkata,”Ya Rabbi Aku ridho dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir
senyuman.
Siapakah orang yang menangis airmata mutiara?
Orang yang menangis airmata mutiara adalah orang-orang yang
sedang bersendiri lalu mengingat akan kebesaran Tuhan dan menyesal akan
dosa-dosanya lalu mengalir airmatanya.
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak loba akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada sentiasa menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang pandai?
Orang yang pandai adalah orang yang bersiap siap untuk hari kematiannya
karena dunia ini berusia pendek sedang akhirat kekal abadi
Siapakah orang yang bodoh?
Orang yang bodoh adalah orang yang beriya-iya berusaha sekuat tenaga untuk dunianya sedangkan akhiratnya diabaikan.
Siapakah orang yang maju dalam hidupnya?
Orang yang maju dalam hidupnya adalah orang-orang yang senantiasa mempertingkat ilmu agamanya.
Siapakah orang-orang yang mundur hidupnya?
Orang yang mundur dalam hidupnya adalah orang yang tidak memperdulikan akan halal dan haramnya akan sesuatu perkara itu.
Siapakah orang yang gila itu?
Orang yang gila itu adalah orang yang tidak sembahyang karena hanya dua
syarat saja yang memperbolehkan akan seorang itu meninggalkan
sembahyang, pertama sekiranya ia haid dan kedua ketika ia tidak siuman
akalnya.
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun
masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikkan.
Siapakah orang yang selalu ditipu?
Orang yang selalu di tipu adalah orang muda yang menyangka bahwa kematian itu berlaku hanya pada orang tua.
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati
membawa amal amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan saujana
mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya
.
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak
karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa
neraka.
###
Selasa, 08 Januari 2013
Minggu, 06 Januari 2013
Wanita Penghuni Syurga
Hadits di atas menyebutkan ciri-ciri wanita penghuni surga. Jika seorang wanita memahami hadits tersebut, seyogyanya ia tak perlu repot dengan pelbagai persoalan dan urusan. Isu persamaan gender yang dihembuskan kaum sekuler tidak akan berarti apa-apa bagi wanita yang berharap menjadi penghuni surga.“Apabila seorang wanita telah melaksanakan sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga harga diri, dan taat pada suaminya maka ia dipersilahkan masuk surga dari pintu mana saja yang ia sukai”. (HR. Ahmad)
Sholat dan puasa merupakan kewajiban bagi setiap manusia beriman sebagai bukti pengabdian kepada Allah Swt. aturan dan ketentuannya telah ditetapkan dengan jelas. Hingga tak perlu dipersoalkan tentang jumlah, waktu dan cara pelaksanaannya.
Yang menjadi persoalan adalah sejauh mana kewajiban menjaga diri dan taat kepada suami dilaksanakan. Kewajiban itu memang termasuk ibadah ghoiru mahdloh yang mengenal kerelatifan. Tentu ada batasan-batasan yang tak mungkin dilampaui, suami sebagai kepala rumah tangga, wajib ditaati oleh istri sepanjang perintahnya tidak menentang aturan Allah Swt. Istri yang nusuz (membangkang), tidak mengindahkan perintah suami, merupakan tindak kedurhakaan. Sebab jika dengan landasan iman yang ada didadanya, sudah barang tentu keputusan diambil oleh suami yang sudah lewat pertimbangan-pertimbangan tertentu dan jauh dari tindakan kezaliman.
Sebenarnya, apabila seorang istri dengan penuh kepatuhan mentaati ajaran Islam, pekerjaan ini sudah memberatkan baginya. Tugas istri adalah mengurus rumah tangga. Segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya meski dilalukan dengan sebaik-baiknya. Istri berkewajiban pula melakukan pendidikan kepada anak-anak, agar mereka kenal aturan. Dengan demikian mereka tidak liar, brutal dan tak tahu diri. Ibulah yang harus mengambil alih peran sebagai penguasa di rumah tatkala suami pergi.
Begitupun sikapnya terhadap suami. Dia mesti bermuka manis, menyambut kedatangannya. Menghadirkan wajah cemberut, kusam adalah suatu yang tidak selayaknya, karena hal itu hanya akan menambah beratnya beban suami yang mungkin akan mengakibatkan ketegangan yang tak terselesaikan.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa pelbagai tindak penyelewengan seorang suami terkait erat dengan perlakukan yang diperolehnya dari sang istri sendiri. Boleh jadi memang ia tak memperoleh ketenteraman di rumah. Atau tak menjumpai suasana sejuk yang mampu menurunkan ketegangan yang ada dikepalanya. Atau istri memang tak bisa menjaga diri sepeninggal suami. Meskipun dengan penyelewengan itu suami tak mendapatkan apa yang diinginkan, namun setidaknya perasaannya telah terlampiaskan.
Meskipun tidak dijelaskan secara operasional sejauh mana pelaksanaan kewajiban itu, tapi setidaknya ada batas-batas tertentu yang tidak boleh dilewati. Secara gampang dapat disebutkan misalnya: tidak memberikan peluang kepada laki-laki selain muhrimnya memasuki rumah tanpa sepengetahuan suami. Keluar rumah tidak seorang diri, itupun atas seizin suami. Tidak memamerkan aurat, berlaku sopan sehingga tidak menimbulkan kebencian orang lain. Tidak pula pantas baginya berdandan, berpakaian dan bertingkah yang membuat laki-laki lain tergiur olehnya.
Mencari wanita dengan kualitas surgawi semacam ini merupakan pekerjaan yang teramat sulit. Karena boleh dikatakan kebebasan telah menjadi mode kaum wanita kita saat ini. Mereka semuanya berkeliaran lepas dari kontrol suami, bagi yang bersuami, bagi yang masih lajang juga lepas kontrol dari pengawasan orang tua.
Amanah untuk menjaga rumah, mendesain, dan menata lingkungan rumah tangga yang asri tidak menarik keinginan mereka lagi. Yang didambakan adalah kedudukan seiring dengan suami, bahkan mengambil peran ganda di luar rumah. Urusan-urusan dalam negeri diserahkannya kepada pembantu. Jadilah anak-anak mereka mencontoh pembantu yang mengasuh mereka. Terkadang anak-anak mereka lebih rindu kepada pembantu ketimbang kepada ibunya. Hal itu kerap terjadi ketika pembantu pulang mudik.
Memang, peran pembantu besar sekali, melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin; seperti mencuci pakaian, mengepel lantai dan membereskan barang-barang yang tidak pada tempatnya. Tetapi apakah mungkin ia akan mampu menangani pendidikan anak-anak dengan penuh kasih sayang sebagaimana seorang ibu? Dan mungkinkah ia melayani majikan seperti istri sendiri yang melakukannya? Inilah yang terabaikan selama ini, sehingga banyak suami tak betah tinggal di rumah. Anak-anak juga lebih senang keluyuran kesana kemari tak tentu arah dan tujuan. Kenakalan mereka tidak bisa dikendalikan. Itu semua bisa jadi karena tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, utamanya ibu.
Kenakalan itu merupakan ekspresi jiwanya, pemberontakan naluriahnya. Bahkan seakan menjadi rumus pasti, bahwa hilangnya kasih sayang di rumah akan membawa pengaruh terhadap tingkah lakunya di luar rumah. Penanganan untuk mengatasinya harus dimulai dari keluarga itu sendiri. Lewat ibu sebagai penanggung jawab langsung pendidikan anak-anak di rumah.
Alternatif pemecahannya, seorang istri harus menempatkan diri sebagaimana fitrahnya sebagai wanita. Mengambil tugas yang tidak teremban oleh fitrah dan kemampuan suami, menjadi tulang punggung dan mitra membina kehidupan yang serasi.
Selama suami berada dijalan Allah Swt., istri tak diperkenankan melanggar aturan suami, walau serendah apapun derajat suami dimatanya. Walaupun dia lebih pandai, lebih pintar, lebih kaya dengan segala kelebihan lainnya, adalah menjadi kewajiban baginya untuk senantiasa taat, pada suami.
Bagaimanapun juga kedudukan suami adalah pemimpin rumah tangga. Dialah yang berwenang terhadap segala keputusan. Kebenaran dan kekeliruan di dalam memimpin serta mengatur istri dan anak-anaknya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Swt. Sehingga istri harus memberikan pertimbangan, berkonsultasi terlebih dahulu kepada suaminya. Di sanalah letak kebahagian rumah tangga. Anak-anak yang sholeh, istri yang taat, suami yang setia, akan senantiasa menjadi penyejuk pandangan mata. Suasana yang demikian akan membuat suami lebih betah di rumah. Kemungkinan berbuat untuk macam-macam di luar rumah akan kecil, paling tidak dia akan tak tega melakukannya.
Istri yang mampu menciptakan suasana demikian dengan dilandasi iman adalah profil penghuni surga. Seorang wanita yang senantiasa sibuk mengurusi rumah tangganya, dan memenuhi kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya adalah istri berkualitas surga. Kiranya jangan sampai mengambil tugas lain, yang tak primer, sementara yang wajib terabaikan.
Rabu, 19 Desember 2012
Rahasia Umur Panjang Suku Hunza (Rerata Harapan hidup 200 tahun)
Berdasarkan
hasil penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO), disimpulkan bahwa
orang-orang sehat, kuat & terpanjang usia di dunia dimasa ini adalah
: suku muslim Hunza yang Ting
gal dan hidup di kaki pegunungan Himalaya - Qashmir India, usia mereka rata-rata mencapai 200 Tahun, sebanding dengan orang indonesia berusia 45 Tahun, dan mereka dalam usia tersebut masih melakukan segala aktivitas, baik berladang, bertani, bahkan sering berolah raga seperti umumnya masyarakat Indonesia.
1. Mengapa orang suku Hunza berusia panjang dan tersehat di dunia. Apa Rahasianya ?
Ternyata mereka bergaya hidup ORGANIK, alias kembali ke alam. Gizi (Makanan) sehari-hari orang Suku Hunza terdiri dari biji-bijian, sayur-sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian yang ditanam tanpa melibatkan penggunaan zat-zat kimia. GIZI NABATI MURNI, memelihara saluran (Nadi) tubuh tetap bersih dan lapisan dalam usus tetap utuh tidak berkarat.
Pada umumnya suku Hunza suka hidup bertoleransi, membagi dan pemerhati untuk sesama. mereka tidak ingin hidup berlebihan, kesederhanaan terpancar dari relung kehidupan dan realitas, bahkan mereka lebih senang hidup membantu dan bergotong royong dalam segala hal. aplikasi seperti ini sering mereka lakukan dimana saja, kapan saja, tanpa mengenal waktu serta keadaan. ini merupakan salah satu wujud nyata dalam kehidupan sebagai bentuk ketenangan jiwa dan kepuasan batin. Disinilah mereka mendapat ketenangan untuk berfikir dalam menyelesaikan permasalahan hidup, karena pada jiwa yang tenang terdapat fikiran yang jernih, karena setiap penyakit timbul hampir 45% adalah dari bathin/fikiran.
2. Mengapa usia dan kesehatan manusia zaman modern ini merosot tajam ?
Di Zaman sekarang ini secara sadar atau tidak sadar, makanan kita tercemar oleh zat-zat kimia yang sukar keluar dari tubuh, bahkan menjadi endapan dan kerak pengotor (TOXIN) yang meracuni saluran (nadi), kelenjar pituitary dan usus kita.
Diantaranya zat-zat kimia (anorganis) yang mencemari tubuh kita : obat-obatan, pupuk kimia, pestisida, hormon pemacu pertumbuhan, Zat Narkoba, Perokok (Nikotin), Kafein, serta Obat Analgetikum (penekan terhadap syaraf pusat untuk menhilangkan rasa sakit/nyeri) yang sangat membahayakan kesehatan tubuh dengan memunculkan penyakit-penyakit degeneratif semacam stroke, diabet, asam urat, jantung, tekanan darah tinggi, glukoma, kanker, migrain, kulit rusak, alergi, ambeyen, dll.
Kondisi kesehatan dan usia mengalami kemerosotan tajam antara 40-50% dari usia sesungguhnya.
NAH SIAPA YANG INGIN BERUMUR PANJANG, AWET MUDA, DAN BAHAGIA, MARI KITA BELAJAR DARI SUKU HUNZA
gal dan hidup di kaki pegunungan Himalaya - Qashmir India, usia mereka rata-rata mencapai 200 Tahun, sebanding dengan orang indonesia berusia 45 Tahun, dan mereka dalam usia tersebut masih melakukan segala aktivitas, baik berladang, bertani, bahkan sering berolah raga seperti umumnya masyarakat Indonesia.
1. Mengapa orang suku Hunza berusia panjang dan tersehat di dunia. Apa Rahasianya ?
Ternyata mereka bergaya hidup ORGANIK, alias kembali ke alam. Gizi (Makanan) sehari-hari orang Suku Hunza terdiri dari biji-bijian, sayur-sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian yang ditanam tanpa melibatkan penggunaan zat-zat kimia. GIZI NABATI MURNI, memelihara saluran (Nadi) tubuh tetap bersih dan lapisan dalam usus tetap utuh tidak berkarat.
Pada umumnya suku Hunza suka hidup bertoleransi, membagi dan pemerhati untuk sesama. mereka tidak ingin hidup berlebihan, kesederhanaan terpancar dari relung kehidupan dan realitas, bahkan mereka lebih senang hidup membantu dan bergotong royong dalam segala hal. aplikasi seperti ini sering mereka lakukan dimana saja, kapan saja, tanpa mengenal waktu serta keadaan. ini merupakan salah satu wujud nyata dalam kehidupan sebagai bentuk ketenangan jiwa dan kepuasan batin. Disinilah mereka mendapat ketenangan untuk berfikir dalam menyelesaikan permasalahan hidup, karena pada jiwa yang tenang terdapat fikiran yang jernih, karena setiap penyakit timbul hampir 45% adalah dari bathin/fikiran.
2. Mengapa usia dan kesehatan manusia zaman modern ini merosot tajam ?
Di Zaman sekarang ini secara sadar atau tidak sadar, makanan kita tercemar oleh zat-zat kimia yang sukar keluar dari tubuh, bahkan menjadi endapan dan kerak pengotor (TOXIN) yang meracuni saluran (nadi), kelenjar pituitary dan usus kita.
Diantaranya zat-zat kimia (anorganis) yang mencemari tubuh kita : obat-obatan, pupuk kimia, pestisida, hormon pemacu pertumbuhan, Zat Narkoba, Perokok (Nikotin), Kafein, serta Obat Analgetikum (penekan terhadap syaraf pusat untuk menhilangkan rasa sakit/nyeri) yang sangat membahayakan kesehatan tubuh dengan memunculkan penyakit-penyakit degeneratif semacam stroke, diabet, asam urat, jantung, tekanan darah tinggi, glukoma, kanker, migrain, kulit rusak, alergi, ambeyen, dll.
Kondisi kesehatan dan usia mengalami kemerosotan tajam antara 40-50% dari usia sesungguhnya.
NAH SIAPA YANG INGIN BERUMUR PANJANG, AWET MUDA, DAN BAHAGIA, MARI KITA BELAJAR DARI SUKU HUNZA
Kebahagian Ayah dan Anak.
Ia sangat bangga pada anaknya yang sukses itu. Sekalipun ia tahu bahwa anaknya tak pernah puny
a banyak waktu untuknya kini. Memecah keheningan, sang ayah bertanya pada anaknya...
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
"Ikan koi, ayah. Aku membawanya dari Jepang," jawab si anak.
Merekapun kembali diam. Beberapa menit kemudian sang ayah bertanya lagi.
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
"Kan aku sudah bilang tadi. Ini ikan koi, aku membawanya dari Jepang, kemarin," jawab si anak ketus.
Ayahnya mengangguk-angg uk dan mengagumi ikan-ikan yang berlarian di kolam tersebut.
Selang beberapa menit kemudian, ia kembali bertanya.
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
Dengan geram, si anak tetap fokus pada iPad yang dipegang di tangannya. Tanpa menoleh pada si ayah ia menjawab ketus, "itu namanya ikan koi, yah. Ikan koi!"
Ayahnya tersenyum sambil terus mengagumi ikan-ikan indah tersebut.
Dan untuk kesekian kalinya sang ayah bertanya pada anaknya.
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
Si anak langsung meletakkan iPad di genggamannya. "Ayah, kenapa sih ayah menanyakan hal yang sama berulang-ulang? Bukankah aku sudah bilang ini adalah ikan koi. Kenapa ayah nggak ngerti juga?"
Ayahnya terdiam. Dengan gerakan yang sangat lambat ia mengambil dompet di sakunya. Mengeluarkan sebuah foto masa mudanya. Ketika ia pergi memancing dengan anaknya di sebuah danau dekat rumah.
"Ingatkah kau akan foto ini nak? Saat itu kau masih kecil. Rasa keingintahuanmu sangat besar. Setiap kali ayah mendapat ikan, kau akan bertanya pada ayah 'ikan apakah itu, ayah?' dan ayah akan menjawabnya dengan penuh kesabaran. Tak hanya sekali saja pertanyaan itu keluar dari mulut kecilmu. Kau akan mengulangi sebuah pertanyaan sebanyak 25 kali jika kau sangat ingin tahu. Dan ayah tetap menjawabnya dengan penuh kesabaran. Tetapi, mengapa kini ayah baru bertanya 4 kali saja, kau sudah marah?" tanyanya sambil meneteskan air mata.
***
Kejadian ini mungkin pernah dirasakan oleh kita juga. Saat kondisi orang tua sudah mulai menua. Pertanyaan-pert anyaan atau cerita-cerita yang sudah pernah diucapkan akan terus menerus diucapkan. Beliau mungkin tidak ingat, atau hanya terlalu bersemangat membahas sebuah topik. Dan untuk itulah, kita yang dulu juga pernah menanyakan hal berulang-ulang di saat masih anak-anak, hendaknya bersikap sama sabarnya. Menjawab semua pertanyaan yang sama dengan hati ikhlas. Mendengarkan cerita yang sama terus menerus bak belum pernah mendengar sebelumnya.
Setidaknya bahagia orang tua itu sederhana, didengarkan dengan ikhlas.
a banyak waktu untuknya kini. Memecah keheningan, sang ayah bertanya pada anaknya...
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
"Ikan koi, ayah. Aku membawanya dari Jepang," jawab si anak.
Merekapun kembali diam. Beberapa menit kemudian sang ayah bertanya lagi.
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
"Kan aku sudah bilang tadi. Ini ikan koi, aku membawanya dari Jepang, kemarin," jawab si anak ketus.
Ayahnya mengangguk-angg uk dan mengagumi ikan-ikan yang berlarian di kolam tersebut.
Selang beberapa menit kemudian, ia kembali bertanya.
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
Dengan geram, si anak tetap fokus pada iPad yang dipegang di tangannya. Tanpa menoleh pada si ayah ia menjawab ketus, "itu namanya ikan koi, yah. Ikan koi!"
Ayahnya tersenyum sambil terus mengagumi ikan-ikan indah tersebut.
Dan untuk kesekian kalinya sang ayah bertanya pada anaknya.
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
Si anak langsung meletakkan iPad di genggamannya. "Ayah, kenapa sih ayah menanyakan hal yang sama berulang-ulang? Bukankah aku sudah bilang ini adalah ikan koi. Kenapa ayah nggak ngerti juga?"
Ayahnya terdiam. Dengan gerakan yang sangat lambat ia mengambil dompet di sakunya. Mengeluarkan sebuah foto masa mudanya. Ketika ia pergi memancing dengan anaknya di sebuah danau dekat rumah.
"Ingatkah kau akan foto ini nak? Saat itu kau masih kecil. Rasa keingintahuanmu sangat besar. Setiap kali ayah mendapat ikan, kau akan bertanya pada ayah 'ikan apakah itu, ayah?' dan ayah akan menjawabnya dengan penuh kesabaran. Tak hanya sekali saja pertanyaan itu keluar dari mulut kecilmu. Kau akan mengulangi sebuah pertanyaan sebanyak 25 kali jika kau sangat ingin tahu. Dan ayah tetap menjawabnya dengan penuh kesabaran. Tetapi, mengapa kini ayah baru bertanya 4 kali saja, kau sudah marah?" tanyanya sambil meneteskan air mata.
***
Kejadian ini mungkin pernah dirasakan oleh kita juga. Saat kondisi orang tua sudah mulai menua. Pertanyaan-pert anyaan atau cerita-cerita yang sudah pernah diucapkan akan terus menerus diucapkan. Beliau mungkin tidak ingat, atau hanya terlalu bersemangat membahas sebuah topik. Dan untuk itulah, kita yang dulu juga pernah menanyakan hal berulang-ulang di saat masih anak-anak, hendaknya bersikap sama sabarnya. Menjawab semua pertanyaan yang sama dengan hati ikhlas. Mendengarkan cerita yang sama terus menerus bak belum pernah mendengar sebelumnya.
Setidaknya bahagia orang tua itu sederhana, didengarkan dengan ikhlas.
Mewujudkan KEINGINGAN dengan SEKETIKA Melalui Shalat Hajat
Pernahkah tersirat dalam benak Anda ketika
membutuhkan pertolongan orang lain, kemudian hal tersebut ingin terwujud
seketika? Mungkin saja hal ini bisa terbayang dalam benak banyak
orang. Terutama ketika dalam keadaan terdesak ketika merasa tidak ada
orang lain yang bisa dimintai pertolongan atau bantuan. Namun, menurut
Anda apakah hal tersebut bisa benar-benar terwujud? Misalnya mendadak
datang malaikat menemui kita, lalu membantu apa yang kita harapkan.
Sebenarnya hal tersebut bisa saja terjadi bagi seseorang yang pada hakikatnya sebuah pertolongan dari Allah SWT atas doa kita. Peristiwa ini biasanya dialami oleh para nabi yang mendapatkan mukjizat. Namun, selain para nabi, ada juga kisah yang dikutip dari kitab Abjadul ‘Ulumil Wasyi Al-Marqum fi Bayani Ahwalil ‘Ulum karya Shadiq bin Hasan Al-Qanuji.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, Anas berkata, “Ada seorang pedagang yang biasa dipanggil dengan nama Abu Muqhlaq. Ia merupakan salah satu shahabat Nabi Muhammad saw dari kaum Anshar. Ia mengembara ke berbagai pelosok negeri untuk berdagang. Ia seorang yang taat beribadah dan selalu menjaga dirinya untuk tidak memakan barang subhat, apalagi yang haram.
Suatu ketika, Abu Mughlaq bepergian dan bertemu dengan seorang perampok bertopeng dan bersenjata. Perampok itu berkata kepadanya, “Letakkan apa yang kamu bawa, aku akan membunuhmu!”
Abu Muqhlaq menjawab, “Kenapa kau ingin membunuhku? Ambil saja hartaku sesukamu.”
“Kalau harta, aku sudah punya. Aku hanya menginginkan nyawamu,” hardik perampok itu.
Abu Muqhlaq menjawab, “Jika kamu bersikukuh demikian, izinkan aku mengerjakan shalat empat rakaat -- terlebih dahulu.”
“Lakukan saja!” tegas si perampok.
Abu Mughlaq pun berwudhu, lalu melakukan shalat hajat empat rakaat. Saat melakukan sujud yang terakhir, ia memanjatkan doa, “Wahai Dzat Yang Maha Pecinta, wahai yang memiliki ‘Arsy yang mulia, wahai yang melaksanakan apa yang Engkau inginkan, aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu yang tidak dilemparkan dan kerajaan yang tidak dihimpunkan dan dengan cahaya-Mu yang meliputi rukun ‘Arsy-Mu, cegahlah kejahatan pencuri (perampok) ini. Wahai Dzat Yang Maha Penolong, tolonglah aku.”
Saat itu, secara tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda dengan memegang tombak yang diletakkan di antara telinga kudanya. Penunggang kuda itu lalu mendatangi si perampok dan menikamnya hingga mati. Kemudian ia menemui Abu Muqhlaq yang taat beribadah tersebut dan berkata, “Berdirilah!”
Dengan keheranan, Abu Muqhlaq bertanya, “Demi bapak dan ibumu, siapakah engkau? Allah menyelamatkanku dengan perantaramu hari ini.”
Si penunggang kuda itu menjawab, “Aku adalah malaikat penghuni langit keempat. Ketika engkau memanjatkan doamu yang pertama, aku mendengar pintu langit bergemuruh. Ketika engkau memanjatkan doamu yang kedua, aku mendengar penghuni langit gaduh. Dan, ketika engkau memanjatkan doamu yang ketiga, aku mendapatkan berita, ‘Ini adalah doa orang yang sedang dalam kesusahan.’ Selanjutnya aku memohon kepada Allah agar mewakilkanku untuk membunuh perampok itu.”
Mengenai riwayat ini, Hasan berkata, “Barangsiapa berwudhu, lalu mengerjakan shalat (shalat hajat) empat rakaat dan memanjatkan doa tadi (doa Abu Mughlaq) maka doa itu akan dikabulkan baginya, baik ia sedang dalam kesulitan maupun tidak.”
Dari kisah di atas, kita bisa mengambil hikmahnya. Kita patut mencontoh Abu Mughlaq ketika dalam kesulitan atau masalah. Apa yang dilakukan Abu Mughlaq sangat relevan dengan perintah Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 45. Dan, berkenaan dengan itu, shalat hajat merupakan media shalat yang dikhususkan untuk kita dalam memanjatkan kebutuhan (hajat), keinginan, dan pertolongan kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana pula ditegaskan di dalam hadits Rasulullah saw.
Ingin tahu lebih dalam tentang rahasia shalat hajat dan keajaibannya? Buku The Ultimate Power of Shalat Hajat terbitan QultumMedia ini akan menjelaskannya untuk Anda seputar dahsyatnya shalat hajat dalam mewujudkan keinginan menjadi kenyataan. Buku setebal 186 halaman ini ditulis oleh Ibnu Thahir untuk membantu Anda dalam menyelesaikan setiap problematika hidup dengan mengadukannya langsung kepada Allah melalui shalat hajat.
Sebenarnya hal tersebut bisa saja terjadi bagi seseorang yang pada hakikatnya sebuah pertolongan dari Allah SWT atas doa kita. Peristiwa ini biasanya dialami oleh para nabi yang mendapatkan mukjizat. Namun, selain para nabi, ada juga kisah yang dikutip dari kitab Abjadul ‘Ulumil Wasyi Al-Marqum fi Bayani Ahwalil ‘Ulum karya Shadiq bin Hasan Al-Qanuji.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, Anas berkata, “Ada seorang pedagang yang biasa dipanggil dengan nama Abu Muqhlaq. Ia merupakan salah satu shahabat Nabi Muhammad saw dari kaum Anshar. Ia mengembara ke berbagai pelosok negeri untuk berdagang. Ia seorang yang taat beribadah dan selalu menjaga dirinya untuk tidak memakan barang subhat, apalagi yang haram.
Suatu ketika, Abu Mughlaq bepergian dan bertemu dengan seorang perampok bertopeng dan bersenjata. Perampok itu berkata kepadanya, “Letakkan apa yang kamu bawa, aku akan membunuhmu!”
Abu Muqhlaq menjawab, “Kenapa kau ingin membunuhku? Ambil saja hartaku sesukamu.”
“Kalau harta, aku sudah punya. Aku hanya menginginkan nyawamu,” hardik perampok itu.
Abu Muqhlaq menjawab, “Jika kamu bersikukuh demikian, izinkan aku mengerjakan shalat empat rakaat -- terlebih dahulu.”
“Lakukan saja!” tegas si perampok.
Abu Mughlaq pun berwudhu, lalu melakukan shalat hajat empat rakaat. Saat melakukan sujud yang terakhir, ia memanjatkan doa, “Wahai Dzat Yang Maha Pecinta, wahai yang memiliki ‘Arsy yang mulia, wahai yang melaksanakan apa yang Engkau inginkan, aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu yang tidak dilemparkan dan kerajaan yang tidak dihimpunkan dan dengan cahaya-Mu yang meliputi rukun ‘Arsy-Mu, cegahlah kejahatan pencuri (perampok) ini. Wahai Dzat Yang Maha Penolong, tolonglah aku.”
Saat itu, secara tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda dengan memegang tombak yang diletakkan di antara telinga kudanya. Penunggang kuda itu lalu mendatangi si perampok dan menikamnya hingga mati. Kemudian ia menemui Abu Muqhlaq yang taat beribadah tersebut dan berkata, “Berdirilah!”
Dengan keheranan, Abu Muqhlaq bertanya, “Demi bapak dan ibumu, siapakah engkau? Allah menyelamatkanku dengan perantaramu hari ini.”
Si penunggang kuda itu menjawab, “Aku adalah malaikat penghuni langit keempat. Ketika engkau memanjatkan doamu yang pertama, aku mendengar pintu langit bergemuruh. Ketika engkau memanjatkan doamu yang kedua, aku mendengar penghuni langit gaduh. Dan, ketika engkau memanjatkan doamu yang ketiga, aku mendapatkan berita, ‘Ini adalah doa orang yang sedang dalam kesusahan.’ Selanjutnya aku memohon kepada Allah agar mewakilkanku untuk membunuh perampok itu.”
Mengenai riwayat ini, Hasan berkata, “Barangsiapa berwudhu, lalu mengerjakan shalat (shalat hajat) empat rakaat dan memanjatkan doa tadi (doa Abu Mughlaq) maka doa itu akan dikabulkan baginya, baik ia sedang dalam kesulitan maupun tidak.”
Dari kisah di atas, kita bisa mengambil hikmahnya. Kita patut mencontoh Abu Mughlaq ketika dalam kesulitan atau masalah. Apa yang dilakukan Abu Mughlaq sangat relevan dengan perintah Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 45. Dan, berkenaan dengan itu, shalat hajat merupakan media shalat yang dikhususkan untuk kita dalam memanjatkan kebutuhan (hajat), keinginan, dan pertolongan kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana pula ditegaskan di dalam hadits Rasulullah saw.
Ingin tahu lebih dalam tentang rahasia shalat hajat dan keajaibannya? Buku The Ultimate Power of Shalat Hajat terbitan QultumMedia ini akan menjelaskannya untuk Anda seputar dahsyatnya shalat hajat dalam mewujudkan keinginan menjadi kenyataan. Buku setebal 186 halaman ini ditulis oleh Ibnu Thahir untuk membantu Anda dalam menyelesaikan setiap problematika hidup dengan mengadukannya langsung kepada Allah melalui shalat hajat.
Minggu, 16 Desember 2012
Pesan/SMS Malaikat Maut(Izrail) untuk Nabi Yakub
Nabi Yakub adalah putra Nabi Ishak dan cucu Nabi Ibrahim. Ia dikenal
juga dengan nama Isra’il, sehingga anak keturunannya disebut Bani
Isra’il. Konon, Nabi Yakub bersaudara dengan Malaikat Maut.
Suatu hari, Malaikat Maut datang mengunjungi Nabi Yakub. Melihat kedatangan malaikat itu, Nabi Yakub bertanya, “Wahai Malaikat Maut, engkau datang untuk mencabut nyawaku atau hanya sekedar berkunjung?”
“Aku datang hanya untuk berkunjung saja,” jawab Malaikat Maut.
“Baiklah kalau begitu,” kata Nabi Yakub. Dalam percakapan selanjutnya, Nabi Yakub bertanya pada Malaikat Maut, “Bolehkah aku memohon satu permintaan kepadamu?”
“Apa permintaanmu, wahai Nabi Allah?”
“Jika sudah tiba waktunya nanti, ketika engkau telah diutus untuk mencabut nyawaku, tolong berilah tanda kepadaku sebelumnya.”
“Baiklah,” jawab Malaikat Maut menyanggupi permintaan Nabi Yakub.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti tahun. Malaikat Maut datang kembali dan bertemu Nabi Yakub. Seperti biasa, Nabi Yakub bertanya, “Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku atau sekedar berkunjung?”
“Kali ini aku diutus untuk mencabut nyawamu.”
“Bukankah engkau telah berjanji untuk memberi tanda sebelum saat ini terjadi?” kata Nabi Yakub.
“Benar, dan aku telah melakukan itu. Hanya saja kamu tak menyadarinya. Bukankah kemarin aku datang menjemput keponakanmu, sementara engkau berada di sana?” Ia kemudian melanjutkan, “Aku pun telah mengirim utusan kepadamu. Rambutmu yang dulu hitam kini telah memutih. Tubuhmu yang dulu kekar dan kuat kini melemah. Dulu kamu berjalan dengan tubuh tegak sekarang menjadi bungkuk. Tidakkah kau sadar, semua itu adalah utusanku pada anak Adam sebelum ajal menjemputnya?” «
Dinukil dari kitab al-Buka’ min Khasyatillah karangan Syaikh Abdurrahman as-Sinjari. Juga kisah dari kitab Zahri Riyadh.
Suatu hari, Malaikat Maut datang mengunjungi Nabi Yakub. Melihat kedatangan malaikat itu, Nabi Yakub bertanya, “Wahai Malaikat Maut, engkau datang untuk mencabut nyawaku atau hanya sekedar berkunjung?”
“Aku datang hanya untuk berkunjung saja,” jawab Malaikat Maut.
“Baiklah kalau begitu,” kata Nabi Yakub. Dalam percakapan selanjutnya, Nabi Yakub bertanya pada Malaikat Maut, “Bolehkah aku memohon satu permintaan kepadamu?”
“Apa permintaanmu, wahai Nabi Allah?”
“Jika sudah tiba waktunya nanti, ketika engkau telah diutus untuk mencabut nyawaku, tolong berilah tanda kepadaku sebelumnya.”
“Baiklah,” jawab Malaikat Maut menyanggupi permintaan Nabi Yakub.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti tahun. Malaikat Maut datang kembali dan bertemu Nabi Yakub. Seperti biasa, Nabi Yakub bertanya, “Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku atau sekedar berkunjung?”
“Kali ini aku diutus untuk mencabut nyawamu.”
“Bukankah engkau telah berjanji untuk memberi tanda sebelum saat ini terjadi?” kata Nabi Yakub.
“Benar, dan aku telah melakukan itu. Hanya saja kamu tak menyadarinya. Bukankah kemarin aku datang menjemput keponakanmu, sementara engkau berada di sana?” Ia kemudian melanjutkan, “Aku pun telah mengirim utusan kepadamu. Rambutmu yang dulu hitam kini telah memutih. Tubuhmu yang dulu kekar dan kuat kini melemah. Dulu kamu berjalan dengan tubuh tegak sekarang menjadi bungkuk. Tidakkah kau sadar, semua itu adalah utusanku pada anak Adam sebelum ajal menjemputnya?” «
Dinukil dari kitab al-Buka’ min Khasyatillah karangan Syaikh Abdurrahman as-Sinjari. Juga kisah dari kitab Zahri Riyadh.
Minggu, 09 Desember 2012
Cinta Dunia Takut Mati (hubbuddunya wa karohiatul maut)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “
Akan terjadi masa dimana umat-umat diluar islam berkumpul disamping
kalian wahai umat islam. Sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang
menyantap hidangan. Lalu seorang Sahabat bertanya: ‘Apakah kami pada
saat itu sedikit wahai Rasulullah? “Beliau menjawab: “Tidak. Bahkan
ketika itu jumlah kalian banyak. Akan tetapi kalian ketika itu bagaikan
buih dilautan. Ketika itu Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa
segan dan takut terhadap kalian dan kalian tertimpa penyakit wahn. Sahabat tadi bertanya lagi : ‘wahai Rasulullah apa yang baginda maksud dengan wahn itu? , Rasulullah menjawab: “cinta dunia dan takut mati.
Bagaimana cara mengatasi Wahn tersebut :
Bagaimana cara mengatasi Wahn tersebut :
- Meyakini bahwa dunia adalah alat perjuangan untuk bekal diakhirat berupa Taqwa. Islam menganjurkan kita untuk kaya dengan adanya perintah Zakat, Haji, tapi semuanya kita jadikan alat atau bekal untuk akhirat berupa takwa.
- Meyakini bahwa Allah selalu melihat kita, jika kita berdua, maka yang ketiga adalah Allah, jika kita bertiga maka yang keempat Allah. Jika kita merasa selalu dilihat Allah, maka tidak ada lagi Pegawai yang mencuri/korupsi, tidak ada pedagang yang mengurangi meteran atau timbangan.
- Meyakini dan menyadari bahwa setiap tindakan kita direkam oleh Anggota Badan kita, yang nanti di hari akhir, ; tangan, kaki, lidah kita akan bersaksi di depan Allah
Ringkasan Kutbah Sholat Jumat
Langganan:
Postingan (Atom)





