“Aku adalah orang ketiga yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah,”
Demikianlah
Sa’ad bin Abi Waqqash mengenalkan dirinya. Ia adalah orang ketiga yang
memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah dari
busurnya di jalan Allah.
Sa’ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin
Abdi Manaf hidup di tengah-tengah Bani Zahrah yang merupakan paman
Rasulullah SAW. Wuhaib adalah kakek Sa’ad dan paman Aminah binti Wahab,
ibunda Rasulullah.
Sa’ad dikenal orang karena ia adalah paman
Rasulullah SAW. Dan beliau sangat bangga dengan keberanian dan
kekuatan, serta ketulusan iman Sa'ad. Nabi bersabda, “Ini adalah pamanku, perlihatkan kepadaku paman kalian!”
Keislamannya
termasuk cepat, karena ia mengenal baik pribadi Rasulullah SAW.
Mengenal kejujuran dan sifat amanah beliau. Ia sudah sering bertemu
Rasulullah sebelum beliau diutus menjadi nabi. Rasulullah juga mengenal
Sa’ad dengan baik. Hobinya berperang dan orangnya pemberani. Sa’ad
sangat jago memanah, dan selalu berlatih sendiri.
Kisah keislamannya sangatlah cepat, dan ia pun menjadi orang ketiga dalam deretan orang-orang yang pertama masuk Islam, Assabiqunal Awwalun.
Sa’ad
adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya.
Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah
cintanya hanya untuk sang ibu yang telah memeliharanya sejak kecil
hingga dewasa, dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan.
Ibu
Sa’ad bernama Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita
hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan
anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik
dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek
moyangnya; penyembah berhala.
Pada suatu hari, Abu Bakar
Ash-Shiddiq mendatangi Sa'ad di tempat kerjanya dengan membawa berita
dari langit tentang diutusnya Muhammad SAW, sebagai Rasul Allah. Ketika
Sa’ad menanyakan, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada
Muhammad SAW. Abu Bakar mengatakan dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib,
dan Zaid bin Haritsah.
Seruan ini mengetuk kalbu Sa’ad untuk
menemui Rasulullah SAW, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia pun
memeluk agama Allah pada saat usianya baru menginjak 17 tahun. Sa’ad
termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin
Abi Thalib, Abu Bakar As Siddiq dan Zaid bin Haritsah.
Setelah
memeluk Islam, keadaannya tidak jauh berbeda dengan kisah keislaman para
sahabat lainnya. Ibunya sangat marah dengan keislaman Sa'ad. “Wahai
Sa’ad, apakah engkau rela meninggalkan agamamu dan agama bapakmu, untuk
mengikuti agama baru itu? Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum
sebelum engkau meninggalkan agama barumu itu,” ancam sang ibu.
Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku!”
Sang
ibu tetap nekat, karena ia mengetahui persis bahwa Sa’ad sangat
menyayanginya. Hamnah mengira hati Sa'ad akan luluh jika melihatnya
dalam keadaan lemah dan sakit. Ia tetap mengancam akan terus melakukan
mogok makan.
Namun, Sa’ad lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya.
“Wahai Ibunda, demi Allah, seandainya engkau memiliki 70 nyawa dan
keluar satu per satu, aku tidak akan pernah mau meninggalkan agamaku
selamanya!” tegas Sa'ad.
Akhirnya, sang ibu yakin bahwa anaknya tidak mungkin kembali seperti sedia kala. Dia hanya dirundung kesedihan dan kebencian.
Allah SWT mengekalkan peristiwa yang dialami Sa’ad dalam ayat Al-Qur’an, “Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).
Pada
suatu hari, ketika Rasulullah SAW, sedang duduk bersama para sahabat,
tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat.
Kemudian Rasulullah kembali menatap mereka dengan bersabda, "Sekarang akan ada di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk surga."
Mendengar
ucapan Rasulullah SAW, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada
setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang
menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang
ditunggu-tunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqash.
Disamping
terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi
Waqqash juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela
agama Allah. Ada dua hal penting yang dikenal orang tentang
kepahlawanannya. Pertama, Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan
anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula
terkena anak panah. Ia hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap
pertempuran.
Kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin
oleh Rasulullah SAW dengan jaminan kedua orang tua beliau. Dalam Perang
Uhud, Rasulullah SAW bersabda, "Panahlah, wahai Sa’ad! Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu."
Sa’ad
bin Abi Waqqash juga dikenal sebagai seorang sahabat yang doanya
senantiasa dikabulkan Allah. Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah saw
pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.”
Sejarah
mencatat, hari-hari terakhir Sa’ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia
memasuki usia 80 tahun. Dalam keadaan sakit, Sa’ad berpesan kepada para
sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang
Badar—perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin.
Pahlawan
perkasa ini menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H dengan
meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di
pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada.
Kamis, 07 Februari 2013
Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu
Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu
Aku serahkan diriku kepada Dzat
yang kepada-Nya bumi juga telah berserah diri
dengan memikul batu-batu yang berat
Dzat yang telah menjadikan bumi bulat
Dzat yang telah menciptakan bumi dengan sempurna
Dzat yang telah memancangkan gunung-gunung
dengan kokoh di atasnya
Aku serahkan diriku kepada Dzat
yang kepada-Nya awan-awan telah menyerahkan diri
dengan membawa air yang tawar
Ketika awan-awan itu dibawa ke suatu negeri, dia akan taat
lalu dia akan menurunkan hujan di atasnya…
Zaid bin ‘Amr bin Nufail (ayah Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu) mendendangkan dan melagukan bait-bait syair tersebut, lalu dia memandang ke arah Ka’bah seraya berucap, “Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu, wahai Tuhanku. Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu dengan sebenar-benarnya.”
Zaib bin ‘Amr bin Nufail merupakan putra dari paman ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dia hidup sebelum Islam datang dan sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan fitrah atau tabiatnya yang lurus, dia pun mendapat petunjuk untuk menyembah Allah, sehingga dia tidak pernah menyembah berhala-berhala ataupun menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada berhala-berhala itu seperti yang biasa dilakukan oleh kaum musyrikin di Makkah pada saat itu.
Dia pernah berkata kepada penduduk Makkah, “Wahai kaum Quraisy, Allah telah menurunkan hujan untuk kalian, menumbuhkan tanaman untuk kalian, dan menciptakan kambing untuk kalian, tetapi mengapa kalian menyembelih binatang-binatang ini untuk selain Allah? Bagaimana hal ini bisa terjadi?”
Mendengar ini, Khaththab bin ‘Amr bin Nufail pun berdiri dan memukul wajahnya, lalu dia berkata kepadanya: ”Celakalah kamu, sungguh kita sudah terlalu bersabar terhadapmu.”
Selanjutnya, Khaththab menyiksanya dengan siksaan yang pedih, hingga akhirnya Zaid pun terpaksa keluar dari Makkah. Dia tidak pernah kembali ke Makkah, kecuali dengan sembunyi-sembunyi. Hal itu karena dia merasa takut kepada pamannya, Khaththab ayah ‘Umar radhiallahu ‘anhu.
Di Makkah Zaid bin ‘Amr mengadakan pertemuan dengan Waraqah bin Naufal, ‘Abdullah bin Jahsy, dan Umaimah binti Harits (bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Selain mereka, dalam pertemuan itu ada juga ‘Ustman bin Huwairits.
Zaid berkata kepada mereka, “Demi Allah, kalian semua telah mengetahui bahwa kaum kalian telah menyimpang dari ajaran –ajaran agama Ibrahim. Mengapa kita berthawaf mengelilingi batu yang tidak bisa mendengar dan melihat serta tidak dapat memberikan mudharat dan juga manfaat ? Wahai kaum, carilah agama untuk kalian semua. Demi Tuhan, kita bukanlah apa-apa.”
Mereka kemudian berpencar ke segala penjuru negeri untuk mencari agama yang benar. Adapun Waraqah bin Naufal telah memeluk agama Masehi, sementara ‘Abdullah bin Jahsy dan ‘Utsman bin Huwairits masih melanjutkan pencarian terhadap agama yang benar itu, hingga akhirnya datanglah Islam. ‘Abdullah bin Jahsy radhiallahu ‘anhu pun beriman dan masuk Islam, hingga akhirnya dia terbunuh sebagai syahid dalam perang Uhud, lalu dia dijuluki dengan julukan Asy-Syahid Al-Mujadda’ (syahid yang tangannya terpotong).
Tinggalah Zaid bin ‘Amr yang telah pergi ke negeri Syam untuk mencari agama Ibrahim ‘alaihissalam, hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang pendeta di Syam. Dia menceritakan hal itu kepada pendeta tersebut. Sang pendeta pun berkata, “Sesungguhnya kamu sedang mencari agama yang sudah tidak ada. Oleh karena itu, pulanglah ke Makkah, karena sesungguhnya Allah akan mengutus kepada kalian orang yang memperbaharui agama Ibrahim itu. Pergilah, lalu berimanlah kepadanya dan ikutilah dia!”
Ketika Zaid masih berada dalam perjalanan menuju Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah diutus sebagai rasul. Saat itu Zaid belum mengetahui bahwa Rasulullah telah diutus. Sayangnya, kematian telah lebih dulu menjemputnya sebelum dia beriman. Dia telah dibunuh oleh sebagian orang Badui (Arab pedalaman).
Ketika kisah ini diceritakan kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun menceritakan tentang sosok Zaid, “ Sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat (nanti) seorang diri sebagai satu umat (yang terpisah).”
Menjelang hembusan nafas terakhirnya, Zaid berkata, “Ya Allah, jika Engkau memang tidak menghendaki kebaikan ini (agama Islam) untukku, maka janganlah Engkau halangi anakku (Sa’id) darinya.”
Doa Zaid ini masih menggantung di antara langit dan bumi, hingga pada suatu hari ketika Sa’id sedang berada di Makkah, dia mengetahui bahwa Rasulullah telah diutus. Karenanya, dia beserta istrinya, Fatimah binti Khaththab, yang merupakan saudara perempuan ‘Umar bin Khaththab, segera beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Keislaman mereka berdua itu terjadi pada awal munculnya Islam, sebelum masuknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam rumah Arqam bin Abi Arqam (Daarul Arqam).
Sa’id masih merahasiakan keimanannya dan dia sangat sabar menghadapi siksaan yang berasal dari kaumnya, sehingga dia pun tidak diusir dari Makkah,s eperti yang dialami sebelumnya oleh orang tuanya. Akan tetapi kemudian, ‘Umar mengetahui keimanan Sa’id. ‘Umar pun bermaksud membunuhnya, lalu dia memukulnya hingga darah mengalir dari wajah Sa’id . Akan tetapi, kesabaran Sa’id dalam menghadapi sikap ‘Umar inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab masuknya ‘Umar radhiallahu ‘anhu ke dalam Islam, *seperti yang telah kami sebutkan pada kisah masuknya ‘Umar ke dalam Islam.*
Sa’id pergi berhijrah ke Madinah bersama istrinya, Fathimah. Sebelum terjadinya perang Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memilihnya dan mengutusnya untuk pergi bersama Thalhah bin Ubaidillah dengan tujuan agar dia mengetahui jumlah pasukan kaum musyrikin dan mematai gerak-gerik mereka. Oleh karena itu, Sa’id pun tidak ikut serta dalam peperangan Badar. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberinya bagian ghanimah (harta rampasan) yang diperoleh dalam perang tersebut. Dia dianggap seperti orang yang ikut serta dalam perang itu.
Setelah itu Sa’id ikut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia bertempur dengan menggunakan pedangnya dan beriman dengan menggunakan hatinya. Bahkan pada suatu hari dia pernah berada bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di gua Hira’ dengan para shahabat lainnya. Ketika itu tiba-tiba gunung Hira’ bergetar, maka nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Tenanglah, wahai Hira’, karena sungguhnya tidak ada yang berada di atasmu, kecuali seorang nabi, seorang yang sangat jujur (ash-shiddiq), dan seorang syahid.”
Ketika orang-orang bertanya kepada Sa’id, “Siapa sajakah yang bersamamu pada saat itu ?”
Sa’id pun menjawab, “Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Zubair, Thalhah, ‘Abdur Rahman bin ‘Auf, dan Sa’ad bin Malik.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda tentang Sa’id, “Sa’id bin Zaid di surga.”
Sa’id merupakan salah satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira bakal masuk surga. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhoinya. Dia memegang teguh janjinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di negeri Persia, sehingga melalui tangannya dan juga tangan shahabat-shahabatnya, Allah pun memadamkan api yang menjadi sesembahan kaum Majusi ; dan berkat perjuangannya pula para penduduk Persia beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah penaklukan terhadap negeri Persia selesai, Sa’id tidak tinggal diam. Dia mengangkat pedang dan barang-barangnya untuk pergi ke negeri-negeri lain yang sedang di perangi oleh kaum muslimin. Kali ini sasarannya adalah negeri Syam dimana pada saat itu sedang berlangsung pertempuran yang sangat menentukan antara kaum muslimin dengan bangsa Romawi, yaitu perang Yarmuk.
Di atas kertas, nampaknya kemenangan lebih dekat kepada pasukan Romawi, karena jumlah mereka sangat banyak, sementara jumlah kaum muslimin sangat sedikit.
Kekalahan bangsa Romawi berarti jatuhnya negeri Syam secara keseluruhan ke tangan kaum muslimin. Karenanya, kedua pasukan itu pun sama-sama mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk menghadapi pertempuran ini. Pasukan Romawi datang dengan jumlah personel seratus dua puluh ribu pasukan, sedangan jumlah pasukan kaum muslimin hanya dua puluh empat ribu pasukan saja. Kedua pasukan ini saling berhadap-hadapan.
Para pendeta dan uskup datang sambil membawa salib-salib mereka sambil mengeraskan suara mereka untuk membaca doa-doa. Ketakutan pun merasuk ke dalam hati kaum muslimin ketika pasukan Romawi mengulang-ulang doa-doa tersebut. Suara mereka laksana gunung-gunung yang bergeser dari tempatnya.
Pemimpin kaum muslimin yang bernama Abu Ubaidah bin Jarrah berdiri untuk memberikan khutbah kepada kaum muslimin. Dia berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, tolonglah Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian. Bersabarlah, sesungguhnya kesabaran akan menyelamatkan kalian dari kekufuran dan akan menyebabkan kalian diridhai oleh Tuhan. Tetaplah kalian diam sampai aku memberikan perintah kepada kalian. Ingatlah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Diantara kaum muslimin, keluarlah seorang laki-laki. Dia berkata kepada Abu Ubaidah, “Wahai Abu Ubaidah, sekarang aku akan pergi dengan harapan aku dapat gugur sebagai syahid dan aku akan keluar untuk memerangi mereka. Apakah kamu mempunyai pesan yang akan kamu kirimkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?”
Abu Ubaidah menjawab, “Ya. Kirimkan salam dari kami untuk beliau, dan katakan kepada beliau bahwa kami telah mengetahui bahwa apa yang dijanjikan oleh Tuhan kami kepada kami adalah benar.”
Melihat itu, Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu pun berkata, “Ketika aku melihat lelaki tersebut telah menaiki kudanya, menghunus pedangnya, dan melesat menuju musuh-musuh Allah guna memerangi mereka, aku pun meletakkan lututku ke tanah, lalu aku melemparkan anak panahku ke arah seorang anggota pasukan berkuda dari bangsa Romawi. Saat itu Allah menghilangkan rasa takut dari dalam hatiku. Maka, aku pun langsung masuk menembus barisan musuh. Aku memerangi mereka hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan kepada kami.”
Abu Ubaidillah telah mengetahui dengan baik kesungguhan keimanan Sa’id. Karenanya Abu Ubaidillah pun menyerahkan misi penaklukan Damaskus kepada Sa’id, lalu dia menjadikan Sa’id sebagai wali (gubernur) disana. Ketika semua orang yang hidup pada masanya sudah berpulang keharibaan Allah, Sa’id bin Zaid masih tetap hidup sampai masa Dinasti Bani Umayyah.
Masa-masa akhir hayat Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu
Pada masa Dinasti Bani Umayyah, Sa’id bin Zaid menangisi shahabat-shahabat Islam yang telah meninggal sebelumnya. Tinggalah dia seorang diri menyaksikan terjadinya fitnah (kerusuhan) dan menyaksikan bagaimana kehidupan dunia dengan segala macam perhiasannya telah masuk ke dalam hati kaum muslimin, maka Sa’id pun lebih memilih untuk kembali ke Madinah dan tinggal disana. Pada waktu itu yang menjadi gubernur di Madinah adalah Marwan bin Hakam bin ‘Ash.Saat itu seorang wanita yang bernama Arwa binti Uwais keluar, lalu dia berkata, “Sesungguhnya Sa’id telah mencuri tanahku dan telah memasukkannya ke bagian tanahnya.” Sungguh perkataan itu sangat menyakitkan hati Sa’id bin Zaid, shahabat Rasulullah dan salah satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira berupa surga. Karenanya, Sa’id pun berkata, “Ya Allah, jika dia berbohong, maka hilangkanlah penglihatannya dan bunuhlah ia di tanahnya sendiri.”
Seketika itu pula hujan turun dari langit sampai diperbatasan tanah yang menurut wanita itu Sa’id telah melampaui batas tersebut. Seketika mata wanita itupun menjadi buta dan hanya selang beberapa hari, wanita itu terjatuh dalam sebuah lubang yang berada di tanah miliknya hingga dia meninggal dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabulkan doa Sa’id bin Zaid yang terzhalimi dan telah dituduh sebagai seorang pembohong dan pendusta.
Pada suatu pagi penduduk Madinah dikagetkan oleh suara seorang pelayat yang menangisi kepergian Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Peristiws itu terjadi pada masa kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan, tepatny a pada tahun ke-50 Hijriyah. Dia di kuburkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu dan ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Salam sejahtera baginya.
Sumber: Kisah Teladan 20 Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk Anak, Dr. Hamid Ahmad Ath-Thahir, Irsyad Baitus Salam, 2006 (Dipublikasikan ulang oleh Kisah Muslim)
Abu Ubaidah bin Jarrah, Orang Kuat yang Terpercaya
Nama lengkapnya Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Fihry Al-Quraiys, namun
lebih dikenal dengan Abu Ubaidah bin Jarrah. Wajahnya selalu berseri,
matanya bersinar, ramah kepada semua orang, sehingga mereka simpati
kepadanya. Di samping sifatnya yang lemah lembut, dia sangat tawadhu dan
pemalu. Tapi bila menghadapi suatu urusan penting, ia sangat cekatan
bagai singa jantan.
Abdullah bin Umar pernah berkata tentang orang-orang yang mulia. "Ada tiga orang Quraiys yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlaknya dan sangat pemalu. Bila berbicara mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Jarrah."
Abu Ubaidah termasuk kelompok pertama sahabat yang masuk Islam. Dia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sehari setelah Abu Bakar masuk Islam. Waktu menemui Rasulullah SAW, dia bersama-sama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh'un dan Arqam bin Abi Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau. Oleh sebab itu, mereka tercatat sebagai pilar pertama dalam pembangunan mahligai Islam yang agung dan indah.
Dalam kehidupannya sebagai Muslim, Abu Ubaidah mengalami masa penindasan yang kejam dari kaum Quraiys di Makkah sejak permulaan sampai akhir. Dia turut menderita bersama kaum Muslimin lainnya. Walau demikian, ia tetap teguh menerima segala macam cobaan, tetap setia membela Rasulullah SAW dalam tiap situasi dan kondisi apa pun.
Dalam Perang Badar, Abu Ubaidah berhasil menyusup ke barisan musuh tanpa takut mati. Namun tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan mengejarnya. Kemana pun ia lari, tentara itu terus mengejarnya dengan beringas. Abu Ubaidah menghindar dan menjauhkan diri untuk bertarung dengan pengejarnya. Ketika si pengejar bertambah dekat, dan merasa posisinya strategis, Abu Ubaidah mengayunkan pedang ke arah kepala lawan. Sang lawan tewas seketika dengan kepala terbelah.
Siapakah lawan Abu Ubaidah yang sangat beringas itu? Tak lain adalah Abdullah bin Jarrah, ayah kandungnya sendiri! Abu Ubaidah tidak membunuh ayahnya, tapi membunuh kemusyrikan yang bersarang dalam pribadi ayahnya.
Berkenaan dengan kasus Abu Ubaidah ini, Allah SWT berfirman: "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung." (QS Al-Mujaadalah: 23)
Ayat di atas tidak membuat Abu Ubaidah besar kepala dan membusungkan dada. Bahkan menambah kokoh imannya kepada Allah dan ketulusannya terhadap agama-Nya. Orang yang mendapatkan gelar "kepercayaan umat Muhammad" ini ternyata menarik perhatian orang-orang besar, bagaikan magnet yang menarik logam di sekitarnya.
Pada suatu ketika, utusan kaum Nasrani datang menghadap Rasulullah seraya berkata, "Wahai Abu Qasim, kirimlah kepada kami seorang sahabat anda yang pintar menjadi hakim tentang harta yang menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan kaum Muslimin."
"Datanglah sore nanti, saya akan mengirimkan kepada kalian 'orang kuat yang terpercaya'," kata Rasulullah SAW.
Umar bin Al-Khathab berujar, "Aku ingin tugas itu tidak diserahkan kepada orang lain, karena aku ingin mendapatkan gelar 'orang kuat yang terpercaya'."
Selesai shalat, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Umar sengaja menonjolkan diri agar dilihat Rasulullah. Namun beliau tidak menunjuknya. Ketika melihat Abu Ubaidah, beliau memanggilnya dan berkata, "Pergilah kau bersama mereka. Adili dengan baik perkara yang mereka perselisihkan!"
Abu Ubaidah berangkat bersama para utusan tersebut dengan menyandang gelar "orang kuat yang terpercaya".
Abu Ubaidah selalu mengikuti Rasulullah berperang dalam tiap peperangan yang beliau pimpin, hingga beliau wafat.
Dalam musyawarah pemilihan khalifah yang pertama (Al-Yaum Ats-Tsaqifah), Umar bin Al-Khathab mengulurkan tangannya kepada Abu Ubaidah seraya berkata, "Aku memilihmu dan bersumpah setia, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya tiap-tiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang paling dipercaya dari umat ini adalah engkau."
Abu Ubaidah menjawab, "Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup—Abu Bakar Ash-Shiddiq. Walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia."
Akhirnya mereka sepakat untuk memilih Abu Bakar menjadi khalifah pertama, sedangkan Abu Ubaidah diangkat menjadi penasihat dan pembantu utama khalifah.
Setelah Abu Bakar wafat, jabatan khalifah pindah ke tangan Umar bin Al-Khathab. Abu Ubaidah selalu dekat dengan Umar dan tidak pernah menolak perintahnya. Pada masa pemerintahan Umar, Abu Ubaidah memimpin tentara Muslimin menaklukkan wilayah Syam (Suriah). Dia berhasil memperoleh kemenangan berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk di bawah kekuasaan Islam, dari tepi sungai Furat di sebelah timur hingga Asia kecil di sebelah utara.
Abu Ubaidah meninggal dunia karena terkena penyakit menular yang mewabah di Syam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada seluruh prajuritnya, "Aku berwasiat kepada kalian. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, nasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini."
Kemudian dia menoleh kepada Mu'adz bin Jabal, "Wahai Muadz, sekarang kau yang menjadi imam (panglima)!"
Tak lama kemudian, ruhnya meninggalkan jasad untuk menjumpai Tuhannya.
Abdullah bin Umar pernah berkata tentang orang-orang yang mulia. "Ada tiga orang Quraiys yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlaknya dan sangat pemalu. Bila berbicara mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Jarrah."
Abu Ubaidah termasuk kelompok pertama sahabat yang masuk Islam. Dia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sehari setelah Abu Bakar masuk Islam. Waktu menemui Rasulullah SAW, dia bersama-sama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh'un dan Arqam bin Abi Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau. Oleh sebab itu, mereka tercatat sebagai pilar pertama dalam pembangunan mahligai Islam yang agung dan indah.
Dalam kehidupannya sebagai Muslim, Abu Ubaidah mengalami masa penindasan yang kejam dari kaum Quraiys di Makkah sejak permulaan sampai akhir. Dia turut menderita bersama kaum Muslimin lainnya. Walau demikian, ia tetap teguh menerima segala macam cobaan, tetap setia membela Rasulullah SAW dalam tiap situasi dan kondisi apa pun.
Dalam Perang Badar, Abu Ubaidah berhasil menyusup ke barisan musuh tanpa takut mati. Namun tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan mengejarnya. Kemana pun ia lari, tentara itu terus mengejarnya dengan beringas. Abu Ubaidah menghindar dan menjauhkan diri untuk bertarung dengan pengejarnya. Ketika si pengejar bertambah dekat, dan merasa posisinya strategis, Abu Ubaidah mengayunkan pedang ke arah kepala lawan. Sang lawan tewas seketika dengan kepala terbelah.
Siapakah lawan Abu Ubaidah yang sangat beringas itu? Tak lain adalah Abdullah bin Jarrah, ayah kandungnya sendiri! Abu Ubaidah tidak membunuh ayahnya, tapi membunuh kemusyrikan yang bersarang dalam pribadi ayahnya.
Berkenaan dengan kasus Abu Ubaidah ini, Allah SWT berfirman: "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung." (QS Al-Mujaadalah: 23)
Ayat di atas tidak membuat Abu Ubaidah besar kepala dan membusungkan dada. Bahkan menambah kokoh imannya kepada Allah dan ketulusannya terhadap agama-Nya. Orang yang mendapatkan gelar "kepercayaan umat Muhammad" ini ternyata menarik perhatian orang-orang besar, bagaikan magnet yang menarik logam di sekitarnya.
Pada suatu ketika, utusan kaum Nasrani datang menghadap Rasulullah seraya berkata, "Wahai Abu Qasim, kirimlah kepada kami seorang sahabat anda yang pintar menjadi hakim tentang harta yang menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan kaum Muslimin."
"Datanglah sore nanti, saya akan mengirimkan kepada kalian 'orang kuat yang terpercaya'," kata Rasulullah SAW.
Umar bin Al-Khathab berujar, "Aku ingin tugas itu tidak diserahkan kepada orang lain, karena aku ingin mendapatkan gelar 'orang kuat yang terpercaya'."
Selesai shalat, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Umar sengaja menonjolkan diri agar dilihat Rasulullah. Namun beliau tidak menunjuknya. Ketika melihat Abu Ubaidah, beliau memanggilnya dan berkata, "Pergilah kau bersama mereka. Adili dengan baik perkara yang mereka perselisihkan!"
Abu Ubaidah berangkat bersama para utusan tersebut dengan menyandang gelar "orang kuat yang terpercaya".
Abu Ubaidah selalu mengikuti Rasulullah berperang dalam tiap peperangan yang beliau pimpin, hingga beliau wafat.
Dalam musyawarah pemilihan khalifah yang pertama (Al-Yaum Ats-Tsaqifah), Umar bin Al-Khathab mengulurkan tangannya kepada Abu Ubaidah seraya berkata, "Aku memilihmu dan bersumpah setia, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya tiap-tiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang paling dipercaya dari umat ini adalah engkau."
Abu Ubaidah menjawab, "Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup—Abu Bakar Ash-Shiddiq. Walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia."
Akhirnya mereka sepakat untuk memilih Abu Bakar menjadi khalifah pertama, sedangkan Abu Ubaidah diangkat menjadi penasihat dan pembantu utama khalifah.
Setelah Abu Bakar wafat, jabatan khalifah pindah ke tangan Umar bin Al-Khathab. Abu Ubaidah selalu dekat dengan Umar dan tidak pernah menolak perintahnya. Pada masa pemerintahan Umar, Abu Ubaidah memimpin tentara Muslimin menaklukkan wilayah Syam (Suriah). Dia berhasil memperoleh kemenangan berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk di bawah kekuasaan Islam, dari tepi sungai Furat di sebelah timur hingga Asia kecil di sebelah utara.
Abu Ubaidah meninggal dunia karena terkena penyakit menular yang mewabah di Syam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada seluruh prajuritnya, "Aku berwasiat kepada kalian. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, nasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini."
Kemudian dia menoleh kepada Mu'adz bin Jabal, "Wahai Muadz, sekarang kau yang menjadi imam (panglima)!"
Tak lama kemudian, ruhnya meninggalkan jasad untuk menjumpai Tuhannya.
Angan-Angan Yang Memperdaya
Dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud, Rasulullah, suatu hari, duduk-duduk
santai bersama para sahabatnya. Utusan Allah ini lalu menggambar empat
persegi panjang di atas tanah. Dari tengah empat persegi panjang itu,
kemudian ia menarik garis lurus yang menjulur keluar, lalu memberi
garis-garis kecil menuju garis di tengah tersebut.
Para
sahabat memperhatikan gambar itu penuh tanda tanya. Suasana menjadi
hening. Begitu selesai, Rasulullah lalu menjelaskan, ''Ini, titik yang
berada di ujung garis di tengah, adalah menusia. Sedangkan keempat garis
persegi panjang adalah ajal yang selalu mengitari kehidupannya di dunia
ini.''
Setelah
itu nabi melanjutkan, ''Sedang garis lurus yang menjulur keluar adalah
angannya yang indah dan menyilaukan, sementara garis-garis kecil adalah
kejadian-kejadian yang selalu ia akan hadapi sepanjang hidupnya (seperti
sedih, gembira, panas, lapar, dingin, sakit, sukses, gagal, untung, dan
bangkrut). Bila ia lolos dari yang satu, maka akan ditimpa oleh yang
lain. Bila lolos dari yang terakhir ini, maka ia akan ditimpa oleh yang
lainnya lagi. Demikian seterusnya.''
Inilah
kehidupan dunia, semuanya bergerak sesuai sunnatullah 'hukum alam' yang
tak bakal berubah. Hal yang perlu disadari lebih dalam adalah bahwa
semuanya merupakan bentuk ujian yang akan menentukan kualitas
kehidupannya di sisi Allah.
Namun,
seringkali tujuan hidup seperti ini terhalang oleh kemilaunya
angan-angan yang menyilaukan. Pada hakekatnya semua itu menjebak
dirinya. Angan-angan untuk bisa hidup layak di masa mendatang seringkali
menutup kesadaran manusia bahwa hidup ini, bagaimanapun lamanya, pasti
dibatasi oleh keempat garis ajal. Secepat itu pula kesadaran akan adanya
batas-batas moral dan hukum lenyap di telan ramainya persaingan.
Akhirya kedamaian dan kenyamanan hidup menjadi barang mahal yang tak
sanggup dibeli oleh masyarakat.
Rasulullah dan Pengemis Yahudi Buta
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah
seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang
mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad,
dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila
kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah
SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata
pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu
walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang
bernama Muhammad.
Rasulullah
SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan
Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi
kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu
hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau
bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku
kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau
adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum
ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar
r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan
membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di
sana", kata Aisyah r.ha.
Ke
esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan
untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis
itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai
menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?".
Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan
orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia
datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut
ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi
terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah
itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu
melanjutkan perkataannya.
Abubakar
r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada
pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku
adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada.
Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita
Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?,
selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah
memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap
pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya
bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.
Kisah Sahabat Nabi: Abbas bin Abdul Muthalib, Paman Terkasih Rasulullah
Ia adalah paman Rasulullah SAW dan
salah seorang yang paling akrab di hatinya dan yang paling dicintainya.
Oleh sebab itu, beliau senantiasa berkata, "Abbas adalah saudara kandung
ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku."
Pada
zaman Jahiliyah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani
minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah,
Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pernah menjadi pembantu dan
penasihat utamanya dalam Baiat Aqabah menghadapi kaum Anshar dari
Madinah.
Abbas
adalah saudara bungsu ayah Nabi SAW, Abdullah bin Abdul Muthalib.
Menurut sejarah, ia dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan
Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Makkah. Ibunya, Natilah
binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang
mengenakan kelambu sutra pada Baitullah.
Pada
waktu Abbas masih anak-anak, ia pernah hilang. Sang ibu lalu bernazar,
kalau putranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada
Baitullah. Tak lama kemudian, Abbas ditemukan, maka ia pun menepati
nazarnya itu.
Abbas
kemudian menikah dengan Lubabah binti Harits, juga dikenal dengan
sebutan Ummu Fadhl, yang dalam sejarah Islam menjadi wanita kedua yang
masuk Islam. Lubabah masuk Islam pada hari yang sama dengan sahabatnya,
Khadijah binti Khuwailid, yang tidak lain adalah istri Muhammad SAW.
Abbas dan Lubabah adalah orang tua dari Al-Fadhl, Abdullah, Ubaidillah
dan Qasim bin Abbas.
Pada
tahun-tahun awal perjuangan Nabi SAW menyampaikan dakwah Islam, Abbas
selalu melindungi Rasulullah dari orang-orang Quraisy yang hendak
mencelakakan beliau. Walaupun pada saat itu, ia sendiri belum masuk
Islam.
Para
ahli sejarah berbeda pendapat tentang Islamnya Abbas. Ada yang
mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama
sebelum Perang Badar.
Ketika
Rasulullah SAW berhijrah ke Yatsrib, Abbas tetap tinggal di Makkah,
mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan
berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar.
Abbas,
biasa juga dipanggil Abu Fadhl, pergi berhijrah ke Madinah bersama
Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal
hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah telah memberikan
sebidang tanah kepadanya, berdekatan dengan tempat kediamannya.
Suatu
hari, Abbas datang menghadap Rasulullah dan memohon dengan penuh harap,
"Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat
pemerintahan?"
Berdasarkan
pengalaman, ia seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan
mengetahui liku-liku jiwa orang. Namun Nabi SAW tidak ingin mengangkat
pamannya menjadi kepala pemerintahan. Beliau tidak ingin pamannya
dibebani tugas-tugas pemerintahan. "Wahai paman Nabi, menyelamatkan
sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan,"
kata Rasulullah.
Ternyata
Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah, tetapi malah Ali
bin Abi Thalib yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada Abbas, "Kalau
kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi
pejabat pemungut sedekah!"
Sekali
lagi Abbas menghadap Rasulullah untuk meminta seperti yang dianjurkan
Ali itu. Rasulullah kemudian bersabda kepadanya, "Wahai pamanku, tak
mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang."
Rasulullah
adalah orang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau
mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah. Bahkan
ia tidak diberi kesempatan dan harapan untuk mengurusi soal-soal yang
bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal
ukhrawi.
Ketika
Rasulullah SAW wafat, Abbas adalah orang yang paling merasa kesepian
atas kepergiannya itu. Abbas hidup terhormat di bawah pemerintahan
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq maupun pada masa kepemimpinan Umar bin
Khathab.
Pada
suatu hari dalam pemerintahan Khalifah Umar, terjadi paceklik hebat dan
kemarau ganas. Orang-orang berdatangan kepada Khalifah untuk mengadukan
kesulitan dan kelaparan yang melanda daerahnya masing-masing.
Umar
menganjurkan kepada Muslimin yang berkemampuan supaya mengulurkan
tangan membantu saudara-saudaranya yang ditimpa kekurangan dan
kelaparan. Kepada para penguasa di daerah diperintahkan supaya
mengirimkan kelebihan daerahnya ke pusat.
Ka'ab
menemui Khalifah Umar seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, biasanya
Bani Israel kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan
dengan kelompok para nabi mereka."
Umar berkata, "Ini dia paman Rasulullah dan saudara kandung ayahnya. Lagi pula, ia pimpinan Bani Hasyim."
Khalifah
Umar pergi kepada Abbas dan menceritakan kesulitan besar yang dialami
umat akibat kemarau panjang dan paceklik itu. Kemudian ia naik mimbar
bersama Abbas seraya berdoa, "Ya Allah, kami menghadapkan diri kepada-Mu
bersama dengan paman Nabi kami dan saudara kandung ayahnya, maka
turunkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa!"
Abbas
lalu meneruskan, memulai doanya dengan puja dan puji kepada Allah SWT,
"Ya Allah, Engkau yang mempunyai awan dan Engkau pula yang mempunyai
air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah
semua tumbuh-tumbuhan dan suburkanlah semua air susu. Ya Allah, Engkau
tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa dan Engkau tidak
akan mengangkat bencana kecuali karena tobat. Kini umat ini sudah
menghadapkan dirinya kepada-Mu maka turunkanlah hujan kepada kami..."
Ternyata
doanya itu langsung diterima dan diijabah Allah SWT. Hujan lebat turun
dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Orang-orang bersyukur kepada
Allah dan mengucapkan selamat kepada Abbas, "Selamat kepadamu, wahai
Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Makkah dan Madinah."
Abbas
bin Abdul Muththalib, paman Rasululah SAW dan saudara kandung ayahnya,
termasuk salah seorang tokoh sahabat yang ikut mengibarkan panji Islam.
Sepak terjangnya dicatat sejarah dengan tinta emas dalam Baiat Aqabah
Kubra. Ia bertindak sebagai seorang penasihat dan juru runding,
menyertai keponakannya dalam majelis itu.
Abbas ra wafat pada hari Jumat, 12 Rajab 32 H, dalam usia 82 tahun. Ia dikebumikan di Baqi', Madinah.
Sumber: Dari berbagai sumber
Rabu, 06 Februari 2013
Kisah Sahabat Nabi: Abdullah bin Amr, Ahli Ibadah yang Rajin Tobat
Abdullah bin Amr lebih dulu masuk
Islam ketimbang bapaknya, Amr bin Ash. Dan semenjak ia dibaiat dengan
menaruh telapak tangan kanannya di telapak tangan kanan Rasulullah SAW,
hatinya tak ubahnya seperti cahaya Subuh yang cemerlang diterangi nur
Ilahi dan cahaya ketaatan.
Sejak
awal Abdullah memusatkan perhatiannya terhadap Al-Qur'an. Setiap turun
ayat, maka dihapalkan dan diusahakan untuk memahaminya, hingga setelah
semuanya selesai dan sempurna, ia pun telah hapal seluruhnya.
Abdullah
telah ditakdirkan Allah menjadi seorang suci dan rajin beribadah. Tak
satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu menghalangi terbentuknya bakat
yang suci ini dan tertanamnya nur Ilahi yang telah ditakdirkan bagi
dirinya.
Apabila
tentara Islam maju ke medan laga untuk menghadapi orang-orang musyrik
yang melancarkan peperangan dan permusuhan, maka ia akan dijumpai berada
di barisan terdepan.
Ketika
perang telah usai, ia akan ditemui di mana lagi, kalau tidak masjid
atau mushola rumahnya. Ia berpuasa di waktu siang dan mendirikan shalat
di waktu malam. Lidahnya tak kenal akan percapakan soal dunia, walaupun
yang tidak terlarang. Sebaliknya, lidahnya tiada henti berdzikir kepada
Allah, bertasbih dan memuji-Nya.
Untuk
mengetahui betapa jauhnya Abdullah terlibat dalam ibadah, cukuplah kita
perhatikan Rasulullah yang sengaja datang menyeru manusia untuk
beribadah kepada Allah, terpaksa campur tangan agar ia tidak sampai
keterlaluan dan berlebihan. Demikianlah salah satu pelajaran yang dapat
ditarik dari kehidupan Abdullah bin Amr.
Suatu
hari Rasulullah memanggilnya, dan menasihatinya agar tidak berlebihan
dalam beribadah. Rasulullah SAW bertanya, "Kabarnya engkau selalu puasa
di siang hari tak pernah berbuka, dan shalat di malam hari tak pernah
tidur? Cukuplah puasa tiga hari setiap bulan!"
Abdullah berkata, "Saya sanggup lebih banyak dari itu."
"Kalau begitu, cukup dua hari dalam seminggu."
"Aku sanggup lebih banyak lagi."
"Jika demikian, baiklah kamu lakukan puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud, puasa sehari lalu berbuka sehari!"
Dan
benarlah ketika Abdullah bin Amr dikarunia usia lanjut,
tulang-belulangnya menjadi lemah. Ia selalu ingat nasihat Rasulullah
dulu. "Wahai malang nasibku, kenapa dulu tidak melaksanakan keringanan
dari Rasulullah."
Pada
saat terakhir, Rasulullah menasihatinya agar tidak berlebih-lebihan
dalam beribadah sambil membatasi waktu-waktunya. Amr bin Ash, bapaknya,
kebetulan hadir. Rasulullah mengambil tangan Abdullah dan meletakkannya
di tangan bapaknya. "Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah
bapakmu!" pesan Rasulullah SAW.
Dan
sepanjang usianya, sesaat pun Abdullah tidak lupa akan kalimat pendek
itu, "Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah bapakmu!"
Dan
ketika terjadi Perang Shiffin (perang antara Ali dan Muawiyah), Amr bin
Ash berpihak kepada Muawiyah. Dia pun mengajak anaknya, Abdullah bin
Amr, untuk turut serta bersamanya membela Muawiyah.
Demikianlah,
Abdullah berangkat demi ketaatannya terhadap sang ayah. Namun ia
berjanji takkan pernah memanggul senjata dan tidak akan berperang dengan
seorang Muslim pun.
Pada
suatu hari, ketika ia sedang duduk-duduk dengan beberapa sahabatnya di
Masjid Rasul, lewatlah Husein bin Ali bin Abi Thalib. Mereka pun
bertukar salam. Tatkala Husein berlalu, berkatalah Abdullah kepada
orang-orang di sekelilingnya, "Sukakah kalian aku tunjukkan penduduk
bumi yang paling dicintai oleh penduduk langit? Dialah yang baru saja
lewat di hadapan kita tadi, Husein bin Ali. Semenjak Perang Shiffin, ia
tak pernah berbicara denganku. Sungguh ridhanya terhadap diriku, lebih
kusukai dari barang berharga apa pun juga."
Abdullah
berunding dengan Abu Said Al-Khudri untuk berkunjung kepada Husein.
Demikianlah, akhirnya kedua orang mulia itu bertemu di muka rumah
Husein. Abdullah bin Amr terlebih dahulu membuka percakapan, hingga
menjurus ke Perang Shiffin.
Husein mengalihkan pembicaraan ini sambil bertanya, "Apa yang membawamu hingga kau ikut berperang di pihak Muawiyah?"
Abdullah
menjawab, "Pada suatu hari, aku diadukan bapakku Amr bin Ash menghadap
Rasulullah SAW. Kata bapakku, 'Abdullah ini puasa setiap hari dan
beribadah setiap malam.' Rasulullah berpesan kepadaku, 'Hai Abdullah,
shalat dan tidurlah, serta berpuasa dan berbukalah, dan taatilah
bapakmu!' Maka sewaktu Perang Shiffin itu, bapakku mendesakku dengan
keras agar ikut bersamanya. Aku pun pergi, tetapi demi Allah aku tidak
pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah!"
Tatkala
usianya mencapai 72 tahun, ia sedang berada di musholanya, beribadah
dan bermunajat. Tiba-tiba ada suara memanggil untuk melakukan perjanalan
jauh, yaitu perjalanan abadi yang takkan pernah kembali. Abdullah bin
Amr wafat dan menyusul mereka yang telah mendahuluinya menghadap Ilahi.
Langganan:
Postingan (Atom)


