siang itu Rasululah sedang sholat berjama’ah di masjid bersama para
sahabat beliau. Diantara sederetan para sahabat yang makmum di belakang
Rasulullah, nampak seorang tengah baya yang kusut rambutnya dengan
berpakaian lusuh. Ia dikenal sebagai seorang sahabat Rasululah yang
tekun beribadah.
SETELAH Rasulullah menyelesaikan sholat, sahabat berpakaian lusuh itu
segera beranjak pulang tanpa membaca wirid dan berdoa terlebih dahulu.
Rasulullah menegurnya, “Tsa’labah!… Mengapa engkau tergesa-gesa pulang?
Tidakah engkau berdoa terlebih dahulu? Bukankah tergesa-gesa keluar dari
masjid adalah kebiasaan orang-orang munafik?”
Tsa’labah menghentikan langkahnya, ia sangat malu ditegur oleh
Rasulullah, tetapi apa mau dikata, terpaksa ia berterus terang kepada
Rasulullah,
“Wahai Rasululah…. Kami hanya memiliki sepasang pakaian untuk sholat dan
saat ini istriku di rumah belum melaksanakan sholat karena menunggu
pakaian yang aku kenakan ini. Pakaian yang hanya sepasang ini kami
pergunakan sholat secara bergantian. Kami sangat miskin. Untuk itu,
Wahai Rasul…. jika engkau berkenan, doakanlah kami agar Allah
menghilangkan semua kemiskinan kami dan memberi rejeki yang banyak.”
Rasulullah tersenyum mendengar penuturan Tsa’labah, lalu beliau berkata,
“Tsa’labah sahabatku…, engkau dapat mensyukuri hartamu yang sedikit, itu
lebih baik daripada engkau bergelimang harta tetapi engkau menjadi
manusia yang kufur”.
Nasehat Rasulullah sedikit menghibur hati Tsa’labah, karena sesungguhnya
yang ada dalam benaknya adalah ia sudah bosan menjalani hidup yang
serba kekurangan. Satu-satunya cara agar cepat menjadi kaya adalah
memohon doa kepada Rasulullah, karena doa seorang utusan Allah pasti
didengar Allah. Itulah yang selalu menjadi angan-angan Tsa’labah, hingga
keesokan harinya ia kembali menemui Rasulullah dan memohon agar beliau
mau medoakannya agar menjadi orang kaya.
Rasulullah kembali menasehati, “Wahai Tsa’labah.. Demi Dzat diriku
berada di tanganNya. Seandainya aku memohon kepada Allah agar gunung
Uhud menjadi emas, Allah pasti mengabulkan. Tetapi apa yang terjadi jika
gunung Uhud benar-benar menjadi emas, masjid-masjid akan sepi!. Semua
orang akan sibuk menumpuk kekayaan dari gunung itu! Aku khawatir jika
engkau menjadi orang kaya, engkau akan lupa beribadah kepada Allah..”
Tsa’labah terdiam mendengar nasehat Rasulullah namun dalam hatinya terkecamuk,
“Aku mengerti Rasulullah tidak mau mendoakan karena beliau sayang
kepadaku. Beliau khawatir jika aku menjadi orang kaya, aku akan menjadi
golongannya orang-orang yang kufur. Tetapi aku tidak seburuk itu, justru
dengan kekayaan yang kumiliki aku akan membela agama ini dengan
hartaku…”
Akhirnya Tsa’labah pulang. Ia merasa malu apabila terus memaksa
Rasulullah agar mau mendoakannya. Namun keesokan harinya ia tidak kuasa
menahan dorongan hatinya untuk segera terbebas dari belenggu kemiskinan
yang kian menghimpitnya. Ditemuinya Rasulullah, ia memohon untuk yang
ketiga kalinya agar Rasulullah mau mendoakannya. Kali ini Rasulullah
tidak bisa menolak keinginan Tsa’labah, beliau mengadahkan tangan ke
langit… “Ya Allah… Limpahkanlah rejekiMu kepada Tsa’labah”
Kemudian Rasulullah memberikan kambing betina yang sedang bunting kepada
Tsa’labah. “Peliharalah kambing ini baik-baik….” pesan Rasulullah.
Tsa’labah pulang membawa kambing pemberian Rasulullah dengan hati yang
berbunga-bunga. “Dengan modal kambing serta doa Rasulullah, aku yakin
aku akan menjadi orang yang kaya raya”.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Tsa’labah yang dulu miskin dan
lusuh telah berubah menjadi orang kaya yang terpandang. Kambingnya
berjumlah ribuan. Disetiap lembah dan bukit terdapat kambing-kambing
Tsa’labah.
Pagi itu Tsa’labah berjalan-jalan meninjau kandang-kandang kambing yang
sudah tidak sesuai dengan jumlah kambing yang terus berkembang biak.
“Hmm.. Aku harus pindah dari sini, mencari lahan yang lebih luas untuk menampung kambing-kambingku…”
Akhirnya Tsa’labah menemukan lahan yang luas di pinggiran madinah. Di
sana ia membangun kandang-kandang baru yang lebih besar. Namun demikian
perkembangan kambing-kambing Tsa’labah bagaikan air bah yang sulit di
bendung. Kandang-kandang yang baru dibangun itu pun sudah penuh sesak
oleh ribuan kambing. Dengan demikian setiap hari Tsa’labah disibukkan
mengurus harta kekayaannya. Ia yang dulu setiap sholat lima waktu selalu
berjamaah di masjid, sekarang hanya datang ke masjid pada waktu sholat
Dzuhur dan Ashar saja.
Kini kandang-kandang yang baru dibangun Tsa’ labah di pinggiran Madinah
sudah tidak lagi memenuhi syarat. Maka ia memutuskan untuk mencari area
yang lebih luas lagi. Tentu saja area yang masih sangat luas itu berada
jauh di luar Madinah. Tsa’labah sudah tidak memikirkan lagi bagaimana
ibadahnya bila jauh dari Madinah. Kepalanya sudah dipenuhi dengan
hubbuddunya, hingga ia datang ke masjid hanya seminggu sekali yaitu pada
waktu sholat Jum’at. Dengan semakin derasnya harta yang mengalir
dirumah Tsa’labah, kini ia lebih senang tinggal dirumah daripada
jauh-jauh datang ke masjid, bahkan sholat Jum’at pun ia tidak datang ke
masjid..!
Sampai Rasulullah bertanya-tanya, “Wahai sahabatku… sudah sekian lama
Tsa’labah tidak kelihatan di masjid. Tahukah kalian bagaimana keadaannya
sekarang?”
“Wahai Rasulullah… Tsa’labah sudah menjadi orang kaya. Lembah-lembah di
Madinah maupun diluar Madinah, telah penuh sesak dengan kambing-kambing
Tsa’labah…”
“Benarkah? Mengapa ia tidak pernah menyerahkan shodakohnya sedikitpun?”
Setelah Allah menurunkan ayat tentang kewajiban zakat. Rasulullah
mengutus dua orang sahabat untuk menjadi amil zakat. Seluruh umat Islam
di Madinah yang hartanya dipandang sudah nishob zakat didatangi, tak
terkecuali Tsa’labah pun mendapat giliran. Kedua utusan Rasulullah
membacakan ayat zakat dihadapan Tsa’labah. Kemudian setelah dihitung
dari seluruh harta kekayaannya ternyata memang banyak harta Tsa’labah
yang harus diserahkan sebagai zakat. Tak disangka, Tsa’labah mukanya
berubah merah, ia berang…
“Apa-apaan ini! Kalian mengatakan ini zakat..! Tetapi menurutku ini
lebih tepat disebut upeti! Pajak! Sejak kapan Rasulullah menarik upeti!
Hahh..?! Aku bisa rugi! Kalian pulang saja. Aku tidak mau menyerahkan
hartaku..!”
Kedua utusan Rasulullah kembali menghadap Rasulullah dan menceritakan
semua perbuatan Tsa’labah. Beliau bersedih telah kehilangan seorang
sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin namun setelah kaya ia
telah terpengaruh dengan harta kekayaannya.
“Sungguh celaka Tsa’labah! Celakalah ia!”
Kemudian Allah menurunkan ayat 75 dalam surat At Taubah, tentang ciri-ciri orang munafik.
Ayat itu segera menyebar ke seluruh muslimin di Madinah, hingga ada
salah seorang kerabat Tsa’labah yang datang memberitahunya..” Celakalah
engkau Tsa’labah! Allah telah menurunkan ayat karena perbuatanmu!”
Tsa’labah tertegun, ia baru sadar bahwa nafsu angkara murka telah lama
memperbudaknya. Kini ia bergegas menghadap Rasulullah dengan membawa
zakat dari seluruh hartanya. Namun Rasulullah tidak berkata apa-apa
kecuali hanya sepatah kata, “Sebab kedurhakaanmu, Allah melarangku untuk
menerima zakatmu!”
Rasulullah mengambil segenggam tanah lalu ditaburkan diatas kepala
Tsa’labah…“Inilah perumpamaan amalanmu selama ini… sia-sia belaka! Aku
telah peintahkan agar engkau menyerahkan zakat, tetapi engkau menolak.
Celakalah engkau Tsa’labah!”
Tsa’labah berjalan lunglai kembali kerumahnya. Hari-hari dalam hidupnya
hanya dipenuhi dengan penyesalan yang tiada arti. Sampai suatu hari
terdengar kabar Rasulullah telah wafat, ia semakin bersedih karena
taubatnya tidak diterima oleh Rasulullah hingga beliau wafat.
Tsa’labah mencoba mendatangi khalifah Abu Bakar sebagai pengganti
Rasulullah. Ia datang dengan membawa zakatnya. Apakah Abu Bakar
menerimanya? Abu Bakar hanya berkata, “Rasulullah saja tidak mau
menerima zakatmu, bagaimana mungkin aku menerima zakatmu?”
Demikian pula di jaman kekhalifahan Umar bin Khattab, Tsa’labah mencoba
menyerahkan zakatnya. Umar pun tidak mau menerima sebagaimana Rasulullah
dan Abu Bakar tidak mau menerima zakatnya. Bahkan sampai khalifah
Utsman bin Affan juga tidak mau menerima zakat Tsa’labah karena
Rasulullah, Abu Bakar dan Umar tidak mau menerima zakatnya.
Kehidupan yang hina dan penuh kemurkaan Allah telah menimpa seorang
sahabat Rasulullah yang telah tenggelam di dalam gelimang harta hingga
menyeretnya ke lembah kemunafikan. Ia telah melalaikan kewajibannya. Ia
telah mengingkari janji-janjinya. Ia telah melecehkan kemuliaan Allah
dan RasulNya, sehingga membuahkan penderitaan yang kekal abadi di dalam
neraka.***
HR “IBNU JARIR”
DALAM TAFSIR IBNU KATSIR
Minggu, 02 September 2012
Jumat, 31 Agustus 2012
Sebab utama laki2 di tarik ke neraka oleh wanita
Di akhirat nanti ada 4 golongan lelaki yg akan ditarik masuk
ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yg tidak
member
ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yg tidak
member
ikan hak kpd wanita dan tidak menjaga amanah itu.
Mereka ialah:
1. Ayahnya
Apabila seseorang yg bergelar ayah tidak mempedulikan
anak2 perempuannya didunia. Dia tidak memberikan segala
keperluan agama seperti mengajar solat,mengaji dan
sebagainya Dia membiarkan anak2 perempuannya tidak
menutup aurat. Tidak cukup kalau dgn hanya memberi
kemewahan dunia sahaja. Maka dia akan ditarik ke neraka
oleh anaknya. (p/s; Duhai lelaki yg bergelar ayah,
bagaimanakah hal keadaan anak perempuanmu sekarang?.
Adakah kau
mengajarnya bersolat ... ..menutup aurat?.. pengetahuan
agama?.. Jika tidak cukup salah satunya, maka bersedialah
utk menjadi bahan bakar neraka jahannam.)
2. Suaminya
Apabila sang suami tidak mempedulikan tindak tanduk
isterinya. Bergaul! bebas di pejabat, memperhiaskan diri
bukan utk suami tapi utk pandangan kaum lelaki yg bukan
mahram. Apabila suami mendiam diri walaupun seorang yg
alim dimana solatnya tidak pernah bertangguh, maka dia
akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dlm
neraka.
(p/s; Duhai lelaki yg bergelar suami, bagaimanakah hal
keadaan isteri tercintamu sekarang?. Dimanakah dia?
Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau menjaganya mengikut
ketetapan syari'at, maka terimalah hakikat yg kau akan
sehidup semati bersamanya di 'taman' neraka sana.)
3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada,tanggungjawab menjaga
maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya dan saudara
lelakinya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya
sahaja dan adiknya dibiar melencong dari ajaran
Islam,tunggulah tarikan adiknya di akhirat
kelak.
(p/s; Duhai lelaki yg mempunyai adik perempuan, jgn hanya
menjaga amalmu, dan jgn ingat kau terlepas...
kau juga akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak...jika
membiarkan adikmu bergelumang dengan maksiat... dan
tidak menutup aurat.)
4. Anak2 lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal
kelakuan yg haram disisi Islam. bila ibu membuat
kemungkaran mengumpat, memfitnah, mengata dan
sebagainya...maka anak itu akan disoal dan
dipertanggungjawabkan di akhirat kelak....dan nantikan
tarikan ibunya ke neraka.
(p/s; Duhai anak2 lelaki.... sayangilah ibumu....
nasihatilah dia jika tersalah atau terlupa.... krn ibu juga insan
biasa... x lepas dr melakukan dosa...
selamatkanlah dia dr menjadi 'kayu api' neraka....jika tidak,
kau juga akan ditarik menjadi penemannya.)
..................................................
Lihatlah.....betapa hebatnya tarikan wanita bukan sahaja di
dunia malah diakhirat pun tarikannya begitu hebat. Maka
kaum lelaki yg bergelar ayah/suami/abang atau anak harus
memainkan peranan mereka.
Firman Allah S.W.T;
"Hai anak Adam, peliharalah diri kamu serta ahlimu dari api
neraka dimana bahan bakarnya ialah manusia, jin dan batu-
batu...."
Salam santun silaturahmi
Mereka ialah:
1. Ayahnya
Apabila seseorang yg bergelar ayah tidak mempedulikan
anak2 perempuannya didunia. Dia tidak memberikan segala
keperluan agama seperti mengajar solat,mengaji dan
sebagainya Dia membiarkan anak2 perempuannya tidak
menutup aurat. Tidak cukup kalau dgn hanya memberi
kemewahan dunia sahaja. Maka dia akan ditarik ke neraka
oleh anaknya. (p/s; Duhai lelaki yg bergelar ayah,
bagaimanakah hal keadaan anak perempuanmu sekarang?.
Adakah kau
mengajarnya bersolat ... ..menutup aurat?.. pengetahuan
agama?.. Jika tidak cukup salah satunya, maka bersedialah
utk menjadi bahan bakar neraka jahannam.)
2. Suaminya
Apabila sang suami tidak mempedulikan tindak tanduk
isterinya. Bergaul! bebas di pejabat, memperhiaskan diri
bukan utk suami tapi utk pandangan kaum lelaki yg bukan
mahram. Apabila suami mendiam diri walaupun seorang yg
alim dimana solatnya tidak pernah bertangguh, maka dia
akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dlm
neraka.
(p/s; Duhai lelaki yg bergelar suami, bagaimanakah hal
keadaan isteri tercintamu sekarang?. Dimanakah dia?
Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau menjaganya mengikut
ketetapan syari'at, maka terimalah hakikat yg kau akan
sehidup semati bersamanya di 'taman' neraka sana.)
3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada,tanggungjawab menjaga
maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya dan saudara
lelakinya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya
sahaja dan adiknya dibiar melencong dari ajaran
Islam,tunggulah tarikan adiknya di akhirat
kelak.
(p/s; Duhai lelaki yg mempunyai adik perempuan, jgn hanya
menjaga amalmu, dan jgn ingat kau terlepas...
kau juga akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak...jika
membiarkan adikmu bergelumang dengan maksiat... dan
tidak menutup aurat.)
4. Anak2 lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal
kelakuan yg haram disisi Islam. bila ibu membuat
kemungkaran mengumpat, memfitnah, mengata dan
sebagainya...maka anak itu akan disoal dan
dipertanggungjawabkan di akhirat kelak....dan nantikan
tarikan ibunya ke neraka.
(p/s; Duhai anak2 lelaki.... sayangilah ibumu....
nasihatilah dia jika tersalah atau terlupa.... krn ibu juga insan
biasa... x lepas dr melakukan dosa...
selamatkanlah dia dr menjadi 'kayu api' neraka....jika tidak,
kau juga akan ditarik menjadi penemannya.)
..................................................
Lihatlah.....betapa hebatnya tarikan wanita bukan sahaja di
dunia malah diakhirat pun tarikannya begitu hebat. Maka
kaum lelaki yg bergelar ayah/suami/abang atau anak harus
memainkan peranan mereka.
Firman Allah S.W.T;
"Hai anak Adam, peliharalah diri kamu serta ahlimu dari api
neraka dimana bahan bakarnya ialah manusia, jin dan batu-
batu...."
Salam santun silaturahmi
" NASIHAT IMAM ASY SYAFI'I "
Imam Muzany bercerita,”Aku menemui
Imam Asy-Syafi’iy menjelang wafatnya, lalu aku berkata,”bagaimana
keadaanmu pagi ini , wahai ustadzku?” beliau menjawab, “Pagi ini aku
akan melakukan parjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan
kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada
Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tau; apakah
diriku berjalan ke syurga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan ,
atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”
Kepada-Mu -wahai Ilâh segenap makhluq, wahai pemilik anugerah dan kebaikan-,
kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa.
Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku,
kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, namun tatkala dosa-dosa itu
kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar
Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus-menerus
Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan.
Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh iblis
bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu, Adam.
Kalaulah Engkau memaafkan aku, maka Engkau telah memaafkan
seorang yang congkak, zholim lagi sewenang-wenang, yang masih terus berbuat dosa.
Andai kata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,
walaupun diriku telah Engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku.
Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang, namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar.”
Aku (Al-Muzany) berkata, “Nasihatilah aku”.
Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertaqwalah kepada Allah,
parmisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua
matamu dan jangan lupa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah
kepada Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah apa-apa yang Dia haramkan,
laksanakanlah segala yang Dia wajibkan, hendaknya engkau bersama Allah
di manapun engkau berada. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur,
pembicaraanmu sebagai Dzikir dan pandanganmu sebagai pelajaran.
Maafkanlah orang yang mendzolimimu, sambunglah orang yang memutus
silaturrahmi kepadamu, berbuat baiklah kepada siapa yang bebuat jelek
kepadamu, bersabarlah tehadap segala musibah, berlindunglah kepada
Allah dari api neraka dengan ketaqwaan.”
Aku (Al-Muzany) berkata “Tambahkanlah (nasihatmu) kepadaku.”
Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati
janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran
sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang
adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan
sebagai mata pencaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah
penglihatanmu, rasa harap adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai
jilbabmu, shadaqoh sebagai pelindungmu dan zakat sebagai bentengmu.
Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tidak tegesa-gesa
sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai
penjaramu dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran
sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur’an sebagai
pembicaramu dengan kejelasan, jadikanlah Allah sebagai penyejukmu.
Siapa yang sifatnya seperti ini maka syurga adalah tempat
tinggalnya.”
Kemudian Asy-Syafi’i mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersyair:
Kepada-Mu -wahai Ilâh segenap makhluq, wahai pemilik anugerah dan kebaikan-,
kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa.
Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku,
kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, namun tatkala dosa-dosa itu
kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar
Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus-menerus
Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan.
Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh iblis
bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu, Adam.
Kalaulah Engkau memaafkan aku, maka Engkau telah memaafkan
seorang yang congkak, zholim lagi sewenang-wenang, yang masih terus berbuat dosa.
Andai kata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,
walaupun diriku telah Engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku.
Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang, namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar.”
" PENTINGNYA ILMU DARIPADA HARTA "
BismillaahirRahmaanirRahii m.
Assalaamu'alaykum WarahmatuLlaahi Wabarakaatuh.
~~ ANTARA ILMU & HARTA,,MANAKAH YG LEBIH BERHARGA,,,,,??~~
Pada suatu ketika, Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam pernah menyatakan “Bahwa dirinya diibaratkan seperti kota ilmu, sedangkan Ali Bin Abi Thalib Ra adalah gerbang ilmu”. Mendengar pernyataan yang demikian sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya, mereka tidak percaya apa benar Ali Bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan”Gerbangnya Ilmu” dari Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam.
Lalu berkumpullah 10 orang dari kaum Khawarij, kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam tersebut, seorang diantara mereka berkata, “Mari kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja, dari bagaimana jawaban Ali tentang suatu masalah itu, kita bisa menilai seberapa jauh kepandainnya, bagaimana apakah kalian setuju?”, “Setuju!!!!” Jawab mereka serentak. “Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja”, saran yang lain. Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali, Namun bila jawaban Ali berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas”. Baik juga saranmu itu, mari kita laksanakan!” sahut lainnya.
Hari yang telah ditentukan telah tiba,
Orang pertama datang menemui Ali, lalu bertanya, “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”, ”Tentu saja lebih utama ilmu”, jawab Ali tegas. Kemudian Ali pun menerangkan, “Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun, Namrud, dan lain-lainnya”. Setelah mendengar jawaban Ali yang demikian, orang (pertama) itu kemudian mohon diri.
Tak lama kemudian datang orang yang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama ilmu atau harta?”, “Lebih utama ilmu dibandingkan harta” Jawab Ali, Mengapa ? “Karena Ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya engkau harus menjaganya”. Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar Jawaban Ali seperti itu.
Orang yang ketigapun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya, “Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?” Ali kemudian menjawab bahwa, ”Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu”, Mengapa demikian tuan ? Tanya orang itu penasaran. “Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh, sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya”.
Setelah orang (ketiga) ini pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menenyakan permasalahan yang sama, setelah mendengar pertanyaan tersebut, Ali pun kemudian menjawab, “Ya jelas-jelas lebih utama Ilmu”, Apakah yang menyebabkan demikian ?, Tanya orang itu mendesak, “Karena bila engkau pergunakan harta, jelas-jelas harta akan semakin berkurang, namun bila Ilmu yang engkau pergunakan maka akan semakin bertambah banyak” , Jawab Ali.
Orang kelima pun datang setelah kepergian orang yang keempat dari hadapan Ali, Setelah menjawab pertanyaan orang ini dengan jawaban yang sama yaitu “Lebih utama Ilmu dibandingkan Harta”, Ali pun kemudian menerangkan, “Jika pemilik harta akan ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik Ilmu akan dihargai akan di hargai dan disegani”.
Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula, Ali pun menjawab dengan dengan jawaban yang sama, namun Ali juga tetap memberikan alasan yang berbeda pula. Jawaban Ali tersebut ialah, “Harta akan selalu kita jaga dari kejahatan, sedangkan ilmu akan menjagamu”.
Dengan pertanyaan yang sama, orang ketujuh datang kepada Ali, pertanyaan itu kemudian di jawab Ali. “Pemilik ilmu akan diberi syafaat oleh Allah dihari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak”. Kemudian kesepuluh orang tersebut berkumpul lagi, mereka sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali, mereka tak menduga setelah setiap jawaban yang Ali berikan, ternyata selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugsanya, mereka yakin bahwa ketiga orang itu akan mendapat celah kelemahan Ali, sebab ketiga orang itu dianggap orang yang paling pandai diantara mereka.
Orang kedelapan menghadap Ali, lalu bertanya, “Antara Ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali ?”, Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu”, jawab Ali, “kenapa begitu ?” tanyanya lagi. “Dalam waktu yang lama harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi” kata Ali menerangkan. Orang kesembilan datang dengan pertanyaan yang sama, Alipun menjawab dengan pertanyaan yang sama, namun tetap dengan alasan yang berbeda, ”Seseorang yang banyak harta akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya, sedangkan orang kaya ilmu akan dianggap intelektual” Jawab Ali.
Sampailah pada giliran orang terakhir , ia pun bertanya pada Ali dengan pertanyaan yang sama, kemudian Alipun menjawab, “Harta akan membuatmu tidak senang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu, tetapi Ilmu sebaliknya akan menyinari hatimu hingga hatimu menjadi tenang dan tentram karenanya”. Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji atau dites oleh orang-orang itu, sehingga ia berkata “Andaikata engkau datangkan orang untuk bertanya, Insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula selagi aku masih hidup”.
Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah, mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah itu benar adanya, dan Ali memang pantas mendapat julukan “Gerbang Ilmu”, sedangkan mengenai diri Rasulullah sudah tidak perlu diragukan lagi.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : “Dan Allah Ta'ala telah menundukan apa-apa yang ada dilangit dan dibumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala) bagi kaum yang berfikir” . (QS. Al Jasiyah ayat 13)
Dalam ayat lain Allah Ta'ala juga berfirman : “Hai jamaah jin dan manusia jika kamu sanggup melintasi (menembus) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, niscaya kamu tidak akan dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (ilmu pengetahuan)”. (QS AR Rohman ayat 33).
Di ayat lain Allah juga berfirman : “.........Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat ,mengambil pelajaran”. (QS Ar Ra’d ayat 19)
Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam juga bersabda : “Amal yang sedikit akan bermanfaat dengan ilmu, dan amal benyak tidak akan bermanfaat dengan kebodohan“. (Diriwayatkan oleh Ad Dailami dari Anas Bin Malik).
Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat”.(Qs Al Mujadilah ayat 11)
Semoga Bermanfaat,,
Assalaamu'alaykum WarahmatuLlaahi Wabarakaatuh.
~~ ANTARA ILMU & HARTA,,MANAKAH YG LEBIH BERHARGA,,,,,??~~
Pada suatu ketika, Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam pernah menyatakan “Bahwa dirinya diibaratkan seperti kota ilmu, sedangkan Ali Bin Abi Thalib Ra adalah gerbang ilmu”. Mendengar pernyataan yang demikian sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya, mereka tidak percaya apa benar Ali Bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan”Gerbangnya Ilmu” dari Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam.
Lalu berkumpullah 10 orang dari kaum Khawarij, kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam tersebut, seorang diantara mereka berkata, “Mari kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja, dari bagaimana jawaban Ali tentang suatu masalah itu, kita bisa menilai seberapa jauh kepandainnya, bagaimana apakah kalian setuju?”, “Setuju!!!!” Jawab mereka serentak. “Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja”, saran yang lain. Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali, Namun bila jawaban Ali berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas”. Baik juga saranmu itu, mari kita laksanakan!” sahut lainnya.
Hari yang telah ditentukan telah tiba,
Orang pertama datang menemui Ali, lalu bertanya, “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”, ”Tentu saja lebih utama ilmu”, jawab Ali tegas. Kemudian Ali pun menerangkan, “Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun, Namrud, dan lain-lainnya”. Setelah mendengar jawaban Ali yang demikian, orang (pertama) itu kemudian mohon diri.
Tak lama kemudian datang orang yang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama ilmu atau harta?”, “Lebih utama ilmu dibandingkan harta” Jawab Ali, Mengapa ? “Karena Ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya engkau harus menjaganya”. Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar Jawaban Ali seperti itu.
Orang yang ketigapun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya, “Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?” Ali kemudian menjawab bahwa, ”Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu”, Mengapa demikian tuan ? Tanya orang itu penasaran. “Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh, sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya”.
Setelah orang (ketiga) ini pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menenyakan permasalahan yang sama, setelah mendengar pertanyaan tersebut, Ali pun kemudian menjawab, “Ya jelas-jelas lebih utama Ilmu”, Apakah yang menyebabkan demikian ?, Tanya orang itu mendesak, “Karena bila engkau pergunakan harta, jelas-jelas harta akan semakin berkurang, namun bila Ilmu yang engkau pergunakan maka akan semakin bertambah banyak” , Jawab Ali.
Orang kelima pun datang setelah kepergian orang yang keempat dari hadapan Ali, Setelah menjawab pertanyaan orang ini dengan jawaban yang sama yaitu “Lebih utama Ilmu dibandingkan Harta”, Ali pun kemudian menerangkan, “Jika pemilik harta akan ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik Ilmu akan dihargai akan di hargai dan disegani”.
Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula, Ali pun menjawab dengan dengan jawaban yang sama, namun Ali juga tetap memberikan alasan yang berbeda pula. Jawaban Ali tersebut ialah, “Harta akan selalu kita jaga dari kejahatan, sedangkan ilmu akan menjagamu”.
Dengan pertanyaan yang sama, orang ketujuh datang kepada Ali, pertanyaan itu kemudian di jawab Ali. “Pemilik ilmu akan diberi syafaat oleh Allah dihari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak”. Kemudian kesepuluh orang tersebut berkumpul lagi, mereka sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali, mereka tak menduga setelah setiap jawaban yang Ali berikan, ternyata selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugsanya, mereka yakin bahwa ketiga orang itu akan mendapat celah kelemahan Ali, sebab ketiga orang itu dianggap orang yang paling pandai diantara mereka.
Orang kedelapan menghadap Ali, lalu bertanya, “Antara Ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali ?”, Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu”, jawab Ali, “kenapa begitu ?” tanyanya lagi. “Dalam waktu yang lama harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi” kata Ali menerangkan. Orang kesembilan datang dengan pertanyaan yang sama, Alipun menjawab dengan pertanyaan yang sama, namun tetap dengan alasan yang berbeda, ”Seseorang yang banyak harta akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya, sedangkan orang kaya ilmu akan dianggap intelektual” Jawab Ali.
Sampailah pada giliran orang terakhir , ia pun bertanya pada Ali dengan pertanyaan yang sama, kemudian Alipun menjawab, “Harta akan membuatmu tidak senang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu, tetapi Ilmu sebaliknya akan menyinari hatimu hingga hatimu menjadi tenang dan tentram karenanya”. Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji atau dites oleh orang-orang itu, sehingga ia berkata “Andaikata engkau datangkan orang untuk bertanya, Insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula selagi aku masih hidup”.
Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah, mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah itu benar adanya, dan Ali memang pantas mendapat julukan “Gerbang Ilmu”, sedangkan mengenai diri Rasulullah sudah tidak perlu diragukan lagi.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : “Dan Allah Ta'ala telah menundukan apa-apa yang ada dilangit dan dibumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala) bagi kaum yang berfikir” . (QS. Al Jasiyah ayat 13)
Dalam ayat lain Allah Ta'ala juga berfirman : “Hai jamaah jin dan manusia jika kamu sanggup melintasi (menembus) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, niscaya kamu tidak akan dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (ilmu pengetahuan)”. (QS AR Rohman ayat 33).
Di ayat lain Allah juga berfirman : “.........Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat ,mengambil pelajaran”. (QS Ar Ra’d ayat 19)
Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam juga bersabda : “Amal yang sedikit akan bermanfaat dengan ilmu, dan amal benyak tidak akan bermanfaat dengan kebodohan“. (Diriwayatkan oleh Ad Dailami dari Anas Bin Malik).
Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat”.(Qs Al Mujadilah ayat 11)
Semoga Bermanfaat,,
~~BUMI DAN KUBUR MEMANGGIL~~
BismiLlaahirRahmaanirRahii m,
Assalaamu'alaykum WarahmatuLlaahi Wabarakaatuh.
Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu berkata,bahwa bumi setiap hari memanggil dengan sepuluh kalimat:
1.Wahai Anak Adam,engkau berjalan diatass punggungku dan engkau akan kembali kedalam perutku.
2.Engkau bermaksiat diatas punggungku,maka engkau akan disiksa didalam perutku.
3.Engkau tertawa diatas punggungku,maka engkau akan menangis didalam perutku.
4.Engkau makan barang haram diatas punggungku,maka engkau akan dimakan ulat didalam perutku.
5.Engkau bergembira diatas punggungku,maka engkau akan bersedih didalam perutku.
6.EngkaU mengumpulkan barang haram diatas punggungku,maka engkau akan hancur didalam perutku.
7.Engkau berlaku sombong diatas punggungku,maka engkau akan terhina didalam perutku.
8.Engkau berjalan dengan senang diatas punggungku,maka engkau akan jatuh susah didalam perutku.
9.Engkau berjalan dibawah cahaya diatas punggungku,maka engkau akan duduk dalam gelapnya perutku.
10.Engkau berjalan dengan orang banyak diatas punggungku,maka engkau akan duduk sendirian didalam perutku.
Dalam hadits lain dijelaskan,bahwa kubur itu setiap hari memanggil dengan tiga kali seruan,yaitu:
1.Aku ini adalah rumahnya orang sendirian,rumah duka cita,rumah kalajengking,dan rumah ular.
2.Aku adalah rumah kegelapan.
3.Aku adalah rumah ulat,
Dan apa persiapanmu sebelum memasuki aku??
Ada pula yang mengatakan,bahwa kubur itu setiap hari memanggil dengan lima kali panggilan,yaitu:
1.Aku adalah rumah orang sendirian,maka carilah teman yang setia untukmu,dengan banyak membaca Al Qur'an.
2.Aku adalah rumah kegelapan,maka terangilah aku dengan shalat malam.
3.Aku adalah rumah debu,maka bawalah tikar dengan banyak beramal shalih.
4.Aku adalah rumah ular besar,maka bawalah penawarnya dengan membaca: BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHII M yang disertai mengalirkan air mata(karena rasa takutnya kepada Allah)
5.Aku adalah rumah pertanyaan Munkar dan Nakir,maka perBanyaklah diatas punggungku dengan membaca :LAA ILAAHA ILLALLAH,MUHAMMADAR RASUULULLAH,
Supaya dirimu bisa menjawab pertanyaan dari Munkar dan Nakir.
Wallahu A'lam Bis Shawab.
Semoga Bermanfaat..
Assalaamu'alaykum WarahmatuLlaahi Wabarakaatuh.
Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu berkata,bahwa bumi setiap hari memanggil dengan sepuluh kalimat:
1.Wahai Anak Adam,engkau berjalan diatass punggungku dan engkau akan kembali kedalam perutku.
2.Engkau bermaksiat diatas punggungku,maka engkau akan disiksa didalam perutku.
3.Engkau tertawa diatas punggungku,maka engkau akan menangis didalam perutku.
4.Engkau makan barang haram diatas punggungku,maka engkau akan dimakan ulat didalam perutku.
5.Engkau bergembira diatas punggungku,maka engkau akan bersedih didalam perutku.
6.EngkaU mengumpulkan barang haram diatas punggungku,maka engkau akan hancur didalam perutku.
7.Engkau berlaku sombong diatas punggungku,maka engkau akan terhina didalam perutku.
8.Engkau berjalan dengan senang diatas punggungku,maka engkau akan jatuh susah didalam perutku.
9.Engkau berjalan dibawah cahaya diatas punggungku,maka engkau akan duduk dalam gelapnya perutku.
10.Engkau berjalan dengan orang banyak diatas punggungku,maka engkau akan duduk sendirian didalam perutku.
Dalam hadits lain dijelaskan,bahwa kubur itu setiap hari memanggil dengan tiga kali seruan,yaitu:
1.Aku ini adalah rumahnya orang sendirian,rumah duka cita,rumah kalajengking,dan rumah ular.
2.Aku adalah rumah kegelapan.
3.Aku adalah rumah ulat,
Dan apa persiapanmu sebelum memasuki aku??
Ada pula yang mengatakan,bahwa kubur itu setiap hari memanggil dengan lima kali panggilan,yaitu:
1.Aku adalah rumah orang sendirian,maka carilah teman yang setia untukmu,dengan banyak membaca Al Qur'an.
2.Aku adalah rumah kegelapan,maka terangilah aku dengan shalat malam.
3.Aku adalah rumah debu,maka bawalah tikar dengan banyak beramal shalih.
4.Aku adalah rumah ular besar,maka bawalah penawarnya dengan membaca: BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHII
5.Aku adalah rumah pertanyaan Munkar dan Nakir,maka perBanyaklah diatas punggungku dengan membaca :LAA ILAAHA ILLALLAH,MUHAMMADAR RASUULULLAH,
Supaya dirimu bisa menjawab pertanyaan dari Munkar dan Nakir.
Wallahu A'lam Bis Shawab.
Semoga Bermanfaat..
Kamis, 30 Agustus 2012
~~ PEDIHNYA SAKARATUL MAUT ~~
~~ PEDIHNYA SAKARATUL MAUT BAGI ORANG YANG TIDAK BERIMAN DAN ORANG KAFIR ~~
BismiLlaahirRahmaanirRahiim
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Assalaamu'alaykum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Saudara – saudariku sekalian, inilah suatu perkara yang sebahagian kamu selalu ingin lari daripadanya yaitu KEMATIAN. Sesungguhnya tiap – tiap yang bernyawa mesti merasai mati, walau ia tengah berada dirumah yang kokoh sekalipun, atau kiranya memiliki ribuan prajurit yang kuat dan tangguh niscaya tiadalah ia dapat berlindung daripadanya. Hilanglah sudah gemerlap dunianya pada kala itu, rumah mewah dan kokoh dengan jerih payah yang telah bertahun – tahun dibangun, istri / suami dan anak – anak tercinta yang melekat padanya baik darah maupun daging kedua orang tuanya dan yang selama ini menyertai kebahagiaan si jasad yang tak lagi bernyawa itu. Perusahaan yang mati – matian kita habiskan waktu untuknya, mobil mewah yang selalu ia bangga – banggakan sedang pada saat itu hari yang sedemikian berarti adanya itupun telah pergi demikian pula masa – masa dimana ia tidak lagi bisa menikmatinya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya). ( HR. Imam Ahmad, dan Ibnu Majah )
Pada riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Bila orang jahat (kafir) hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Mereka berwajahkan hitam kelam,membawa kain yang kasar, dan selanjutnya mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang buruk, bergegas engkau keluarlah dari ragamu menuju kepada kebencian dan kemurkaan Allah”. Segera ruh orang jahat itu menyebar keseluruh raganya. Tanpa menunda-nunda malaikat maut segera mencabut ruhnya dengan keras, bagaikan mencabut kawat bergerigi dari bulu domba yang basah. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat Maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangannya. Para malaikat segera mengambil ruh orang jahat itu dan membukusnya dengan kain kasar yang mereka bawa. Dari kain itu tercium aroma busuk bagaikan bau bangkai paling menyengat yang pernah tercium di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruh itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu busuk.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terburuk yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).” ( HR. Imam Ahmad, dan Ibnu Majah )
Adakah engkau mengira bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang mukmin yang paling sempurna keimanannya sedang beliau dapat terlindung dari perihnya sakratul maut?? Sekali – kali tidak, tatkala beliau menghadapi sakaratul maut, beliau begitu gundah. Beliau berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam bejana berisi air. Beliau mengusap wajahnya berkali-kali, sambil bersabda;
“Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih.” [HR. Imam Bukhari]
Pada suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Ka’ab al Ahbaar.
“Wahai Ka’ab: Ceritakan kepada kita tentang kematian!. Ka’abpun berkata: Wahai Amirul Mukminin! Gambaran sakitnya kematian adalah bagaikan sebatang dahan yang banyak berduri tajam, tersangkut di kerongkongan anda, sehingga setiap duri menancap di setiap syarafnya. Selanjutnya dahan itu sekonyong-konyong ditarik dengan sekuat tenaga oleh seorang yang gagah perkasa. Bayangkanlah, apa yang akan turut tercabut bersama dahan itu dan apa yang akan tersisa!” [HR. Abu Nu'aim Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya']
Syaddaad bin Al Aus berkata: “Kematian adalah pengalaman yang paling menakutkan bagi seorang mukmin, baik di dunia ataupun di akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding anda digergaji, atau dipotong dengan gunting, atau direbus dalam periuk. Andai ada seseorang yang telah mati diizinkan untuk menceritakan tentang apa yang ia rasakan pada saat menghadapi kematian, niscaya mereka tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan dan juga tidak akan pernah tidur nyenyak.
Maka saudara – saudariku gerangan apakah yang tengah engkau persiapkan untuk menghadapinya?? Sudah cukupkah amalan yang engkau kerjakan selama ini??
Sedang pada hari itu, tertutuplah bagimu segala perkara dunia yang engkau pernah tekuni sebelumnya semasa jasad masih bernyawa. Lilitan hutang yang belum dibayar, banyaknya amanah lagi kepercayaan yang dititipkan oleh orang lain atas kamu namun belum juga tersampaikan, ribuan janji yang telah diingkari, tumpukan uang atau deposito di bank yang tak ternilai jumlahnya..
Namun kala itu, tiadalah daya dan upayamu perihal yang sedemikian itu sedang pintu bagimu telah tertutup rapat…
Wallahu A’lam Bish Showab, Semoga Bermanfaat..!!
BismiLlaahirRahmaanirRahiim
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Assalaamu'alaykum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Saudara – saudariku sekalian, inilah suatu perkara yang sebahagian kamu selalu ingin lari daripadanya yaitu KEMATIAN. Sesungguhnya tiap – tiap yang bernyawa mesti merasai mati, walau ia tengah berada dirumah yang kokoh sekalipun, atau kiranya memiliki ribuan prajurit yang kuat dan tangguh niscaya tiadalah ia dapat berlindung daripadanya. Hilanglah sudah gemerlap dunianya pada kala itu, rumah mewah dan kokoh dengan jerih payah yang telah bertahun – tahun dibangun, istri / suami dan anak – anak tercinta yang melekat padanya baik darah maupun daging kedua orang tuanya dan yang selama ini menyertai kebahagiaan si jasad yang tak lagi bernyawa itu. Perusahaan yang mati – matian kita habiskan waktu untuknya, mobil mewah yang selalu ia bangga – banggakan sedang pada saat itu hari yang sedemikian berarti adanya itupun telah pergi demikian pula masa – masa dimana ia tidak lagi bisa menikmatinya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya). ( HR. Imam Ahmad, dan Ibnu Majah )
Pada riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Bila orang jahat (kafir) hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Mereka berwajahkan hitam kelam,membawa kain yang kasar, dan selanjutnya mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang buruk, bergegas engkau keluarlah dari ragamu menuju kepada kebencian dan kemurkaan Allah”. Segera ruh orang jahat itu menyebar keseluruh raganya. Tanpa menunda-nunda malaikat maut segera mencabut ruhnya dengan keras, bagaikan mencabut kawat bergerigi dari bulu domba yang basah. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat Maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangannya. Para malaikat segera mengambil ruh orang jahat itu dan membukusnya dengan kain kasar yang mereka bawa. Dari kain itu tercium aroma busuk bagaikan bau bangkai paling menyengat yang pernah tercium di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruh itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu busuk.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terburuk yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).” ( HR. Imam Ahmad, dan Ibnu Majah )
Adakah engkau mengira bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang mukmin yang paling sempurna keimanannya sedang beliau dapat terlindung dari perihnya sakratul maut?? Sekali – kali tidak, tatkala beliau menghadapi sakaratul maut, beliau begitu gundah. Beliau berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam bejana berisi air. Beliau mengusap wajahnya berkali-kali, sambil bersabda;
“Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih.” [HR. Imam Bukhari]
Pada suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Ka’ab al Ahbaar.
“Wahai Ka’ab: Ceritakan kepada kita tentang kematian!. Ka’abpun berkata: Wahai Amirul Mukminin! Gambaran sakitnya kematian adalah bagaikan sebatang dahan yang banyak berduri tajam, tersangkut di kerongkongan anda, sehingga setiap duri menancap di setiap syarafnya. Selanjutnya dahan itu sekonyong-konyong ditarik dengan sekuat tenaga oleh seorang yang gagah perkasa. Bayangkanlah, apa yang akan turut tercabut bersama dahan itu dan apa yang akan tersisa!” [HR. Abu Nu'aim Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya']
Syaddaad bin Al Aus berkata: “Kematian adalah pengalaman yang paling menakutkan bagi seorang mukmin, baik di dunia ataupun di akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding anda digergaji, atau dipotong dengan gunting, atau direbus dalam periuk. Andai ada seseorang yang telah mati diizinkan untuk menceritakan tentang apa yang ia rasakan pada saat menghadapi kematian, niscaya mereka tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan dan juga tidak akan pernah tidur nyenyak.
Maka saudara – saudariku gerangan apakah yang tengah engkau persiapkan untuk menghadapinya?? Sudah cukupkah amalan yang engkau kerjakan selama ini??
Sedang pada hari itu, tertutuplah bagimu segala perkara dunia yang engkau pernah tekuni sebelumnya semasa jasad masih bernyawa. Lilitan hutang yang belum dibayar, banyaknya amanah lagi kepercayaan yang dititipkan oleh orang lain atas kamu namun belum juga tersampaikan, ribuan janji yang telah diingkari, tumpukan uang atau deposito di bank yang tak ternilai jumlahnya..
Namun kala itu, tiadalah daya dan upayamu perihal yang sedemikian itu sedang pintu bagimu telah tertutup rapat…
Wallahu A’lam Bish Showab, Semoga Bermanfaat..!!
✿ 4 Langkah Syar’i Menuju Jenjang Pernikahan ✿
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sahabat, saudaraku fillah, Masih banyak orang salah paham mengenai proses menuju jenjang pernikahan. Mereka tidak tahu bagaimana syariat Islam yang sempurna ini telah mengajarkan jalan untuk mencari jodoh. Sehingga banyak di antara mereka terjatuh dalam hubungan yang tidak halal seperti pacaran atau tunangan. Menurut mereka, mencari jodoh itu perlu interaksi langsung yang tidak sebentar, bahkan bertahun-tahun.
Maka berlalulah waktu yang panjang itu dengan dipermainkan oleh syaithan dalam kubangan dosa dan fitnah tanpa kepastian dan kejelasan. Walaupun akhirnya ada yang menjadi pasangan suami istri, tapi pernikahan yang terjadi dibangun di atas cinta yang terlarang. Sehingga menjadi hilanglah nilai ibadah dari pernikahan, karena tidak bermula dari niat yang tulus dan suci dalam bingkai ketaatan untuk meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam serta untuk mewujudkan tujuan syar’i pernikahan.
Oleh karena itu, agar pernikahan menjadi sebuah amalan ibadah yang berat dalam timbangan, marilah kita pelajari bimbingan agama Islam yang mulia ini tentang cara mencari pasangan hidup.
1. Ta’aruf (berkenalan dengan pasangan)
“ Hai manusia,sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal....”(QS. Al Hujurat : 13).
Sahabat saudaraku fillah ..ayat tersebut berisi perintah agar kita saling mengenal (ta’aruf) agar saling memahami karena jelas laki-laki dan perempuan saling membutuhkan.Demikian juga jika laki-laki dan perempuan yang akan menikah hendaklah terlebih dahulu saling mengenal.Namun dalam masa ta’aruf (mengenal) jangan diwarnai oleh aktifitas pacaran yang akan mendatangkan murka-Nya yang berakibat pernikahan kita tidak barakah. Aktifitas pacaran walau sedemikian kita pandai mengendalikan tetap sulit untuk menghindari dari hal yang dilarang. Saudaraku..mari kita renungkan kembali;
“ Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”(QS.Al-Isra:32).
“janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahramnya.”(HR.Bukhari)
“Janganlah kalian berbuat zina, karena sesungguhnya perbuatan zina itu mengundang empat perkara yakni; dapat melenyapkan wibawa dari penampilan,dapat memutuskan rezeki,dapat membuat murka Allah dan menyebabkan ke neraka.”(HR.Thabrani melalui Ibnu Abbas).
2. Nazhar (melihat calon pasangan)
Mengenal jati diri calon pasangan terkadang belum cukup memantapkan hati untuk selanjutnya menjatuhkan lamaran. Terlebih, informasi dari pihak ketiga atau orang lain tentang sifat dari rupa seseorang merupakan penilaian yang masih relatif. Sehingga ada perasaan mengganjal di hati manakala sosok yang akan terpilih menjadi pasangan hidup tidak diketahui jelas akan parasnya.
Segala puji bagi Allah, keganjalan hati tersebut sirna dengan syariat nazhar yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada seorang sebelum memutuskan untuk meminang wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang artinya,
“Lihatlah wanita tersebut, karena dengan seperti itu akan lebih pantas untuk melanggengkan hubungan di antara kalian berdua.” (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi dishahihkan Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah)
Melalui nazhar, seseorang dapat menemukan sesuatu yang bisa menarik hatinya untuk kemudian menikahinya. Dan melalui nazhar keputusan akhir akan mengkhitbah (melamar) atau tidak lebih mudah untuk ditetapkan.
Namun, perintah nazhar tentu bukanlah sekedar perintah tanpa ada batasan. Terlebih mengingat bahwa wanita yang sedang di-nazhar adalah wanita ajnabi (asing) yang statusnya masih haram untuknya. Oleh karena itu, ketika nazhar hendaknya disertai oleh mahram dari wanita dan melihat pada bagian yang biasa nampak darinya berupa anggota wudhu tanpa diikuti oleh syahwat.
3. Khitbah (proses melamar)
Setelah melewati nazhar dan hati menjadi yakin untuk merajut tali pernikahan, maka sebelum meminang sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan shalat istikharah. Bahkan shalat istikharah disunnahkan sebelu melakukan segala sesuatu. Tidak lain agar dimudahkan sebab-sebab yang mengantarkan pada perkara yang sedang dihadapi. Setelah itu barulah ia utarakan maksud hatinya untuk memperistri wanita tersebut kepada walinya.
Namun sebelum disampaikan lamaran seseorang harus mengetahui adab dalam meng-khitbah agar kelanjutan proses pernikahannya tidak terkotori dengan rasa permusuhan antara sesama muslim. Adab meng-khitbah yaitu seseorang tidak boleh meminang wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga saudaranya itu menikahi wanita tersebut atau meninggalkannya.
Demikianlah syariat Islam menjaga kesucian proses pernikahan dari noda-noda yang bisa merusak persaudaraan.
4. Akad Nikah
Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan sudah seharusnya menjadi hal yang selalu dikedepankan dalam setiap urusan yang sedang kita hadapi. Terlebih bagi seorang yang akan melangsungkan peristiwa penting berupa akad nikah. Sebuah perjanjian untuk menjadi pasangan suami istri. Allah menamakannya dengan mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat) untuk sebuah ikatan suci dan agung berupa pernikahan.
Oleh karenanya, sebelum melangsungkan akad nikah seseorang perlu mengetahui rukun dan syarat dari akad nikah. Karena keberadaan keduanya menentukan sah tidaknya pernikahan dari segi hukum syariat. Ketidaktahuan terhadap perkara tersebut akan memunculkan permasalahan yang besar, sebagaimana ketika seorang wanita menikah tanpa wali maka tentu pernikahannya tidak sah. Rukun akad yaitu adanya calon mempelai laki-laki dan wanita, saksi, mahar, serta ijab dan qabul. Syarat akad yaitu kejelasan individu kedua mempelai, keridhaan masing-masing pihak untuk menikah, mahar dan wali bagi wanita.
Demikian tahapan-tahapan yang dituntunkan dalam menapaki tangga menuju pernikahan yang teruntai pada kesempurnaan syariat Islam nan suci. Semoga Allah senantiasa membimbing setiap langkah kita dalam perjalanan menuju kepada-Nya.
Aamiin.
Wallahu a’lam.
☆ Semoga Bermanfaat ☆
Sahabat, saudaraku fillah, Masih banyak orang salah paham mengenai proses menuju jenjang pernikahan. Mereka tidak tahu bagaimana syariat Islam yang sempurna ini telah mengajarkan jalan untuk mencari jodoh. Sehingga banyak di antara mereka terjatuh dalam hubungan yang tidak halal seperti pacaran atau tunangan. Menurut mereka, mencari jodoh itu perlu interaksi langsung yang tidak sebentar, bahkan bertahun-tahun.
Maka berlalulah waktu yang panjang itu dengan dipermainkan oleh syaithan dalam kubangan dosa dan fitnah tanpa kepastian dan kejelasan. Walaupun akhirnya ada yang menjadi pasangan suami istri, tapi pernikahan yang terjadi dibangun di atas cinta yang terlarang. Sehingga menjadi hilanglah nilai ibadah dari pernikahan, karena tidak bermula dari niat yang tulus dan suci dalam bingkai ketaatan untuk meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam serta untuk mewujudkan tujuan syar’i pernikahan.
Oleh karena itu, agar pernikahan menjadi sebuah amalan ibadah yang berat dalam timbangan, marilah kita pelajari bimbingan agama Islam yang mulia ini tentang cara mencari pasangan hidup.
1. Ta’aruf (berkenalan dengan pasangan)
“ Hai manusia,sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal....”(QS. Al Hujurat : 13).
Sahabat saudaraku fillah ..ayat tersebut berisi perintah agar kita saling mengenal (ta’aruf) agar saling memahami karena jelas laki-laki dan perempuan saling membutuhkan.Demikian juga jika laki-laki dan perempuan yang akan menikah hendaklah terlebih dahulu saling mengenal.Namun dalam masa ta’aruf (mengenal) jangan diwarnai oleh aktifitas pacaran yang akan mendatangkan murka-Nya yang berakibat pernikahan kita tidak barakah. Aktifitas pacaran walau sedemikian kita pandai mengendalikan tetap sulit untuk menghindari dari hal yang dilarang. Saudaraku..mari kita renungkan kembali;
“ Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”(QS.Al-Isra:32).
“janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahramnya.”(HR.Bukhari)
“Janganlah kalian berbuat zina, karena sesungguhnya perbuatan zina itu mengundang empat perkara yakni; dapat melenyapkan wibawa dari penampilan,dapat memutuskan rezeki,dapat membuat murka Allah dan menyebabkan ke neraka.”(HR.Thabrani melalui Ibnu Abbas).
2. Nazhar (melihat calon pasangan)
Mengenal jati diri calon pasangan terkadang belum cukup memantapkan hati untuk selanjutnya menjatuhkan lamaran. Terlebih, informasi dari pihak ketiga atau orang lain tentang sifat dari rupa seseorang merupakan penilaian yang masih relatif. Sehingga ada perasaan mengganjal di hati manakala sosok yang akan terpilih menjadi pasangan hidup tidak diketahui jelas akan parasnya.
Segala puji bagi Allah, keganjalan hati tersebut sirna dengan syariat nazhar yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada seorang sebelum memutuskan untuk meminang wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang artinya,
“Lihatlah wanita tersebut, karena dengan seperti itu akan lebih pantas untuk melanggengkan hubungan di antara kalian berdua.” (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi dishahihkan Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah)
Melalui nazhar, seseorang dapat menemukan sesuatu yang bisa menarik hatinya untuk kemudian menikahinya. Dan melalui nazhar keputusan akhir akan mengkhitbah (melamar) atau tidak lebih mudah untuk ditetapkan.
Namun, perintah nazhar tentu bukanlah sekedar perintah tanpa ada batasan. Terlebih mengingat bahwa wanita yang sedang di-nazhar adalah wanita ajnabi (asing) yang statusnya masih haram untuknya. Oleh karena itu, ketika nazhar hendaknya disertai oleh mahram dari wanita dan melihat pada bagian yang biasa nampak darinya berupa anggota wudhu tanpa diikuti oleh syahwat.
3. Khitbah (proses melamar)
Setelah melewati nazhar dan hati menjadi yakin untuk merajut tali pernikahan, maka sebelum meminang sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan shalat istikharah. Bahkan shalat istikharah disunnahkan sebelu melakukan segala sesuatu. Tidak lain agar dimudahkan sebab-sebab yang mengantarkan pada perkara yang sedang dihadapi. Setelah itu barulah ia utarakan maksud hatinya untuk memperistri wanita tersebut kepada walinya.
Namun sebelum disampaikan lamaran seseorang harus mengetahui adab dalam meng-khitbah agar kelanjutan proses pernikahannya tidak terkotori dengan rasa permusuhan antara sesama muslim. Adab meng-khitbah yaitu seseorang tidak boleh meminang wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga saudaranya itu menikahi wanita tersebut atau meninggalkannya.
Demikianlah syariat Islam menjaga kesucian proses pernikahan dari noda-noda yang bisa merusak persaudaraan.
4. Akad Nikah
Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan sudah seharusnya menjadi hal yang selalu dikedepankan dalam setiap urusan yang sedang kita hadapi. Terlebih bagi seorang yang akan melangsungkan peristiwa penting berupa akad nikah. Sebuah perjanjian untuk menjadi pasangan suami istri. Allah menamakannya dengan mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat) untuk sebuah ikatan suci dan agung berupa pernikahan.
Oleh karenanya, sebelum melangsungkan akad nikah seseorang perlu mengetahui rukun dan syarat dari akad nikah. Karena keberadaan keduanya menentukan sah tidaknya pernikahan dari segi hukum syariat. Ketidaktahuan terhadap perkara tersebut akan memunculkan permasalahan yang besar, sebagaimana ketika seorang wanita menikah tanpa wali maka tentu pernikahannya tidak sah. Rukun akad yaitu adanya calon mempelai laki-laki dan wanita, saksi, mahar, serta ijab dan qabul. Syarat akad yaitu kejelasan individu kedua mempelai, keridhaan masing-masing pihak untuk menikah, mahar dan wali bagi wanita.
Demikian tahapan-tahapan yang dituntunkan dalam menapaki tangga menuju pernikahan yang teruntai pada kesempurnaan syariat Islam nan suci. Semoga Allah senantiasa membimbing setiap langkah kita dalam perjalanan menuju kepada-Nya.
Aamiin.
Wallahu a’lam.
☆ Semoga Bermanfaat ☆
Langganan:
Postingan (Atom)






