Oleh M Husnaini
Sekiranya ada kata yang begitu akrab di telinga semua orang, itulah
rezeki. Tidak ada orang yang tidak mengharapkan rezeki. Bahkan, muara
dari hampir setiap usaha manusia adalah mencari rezeki. Pendidikan,
kedudukan, dan pekerjaan kerap dimaknai sebagai wasilah menuju rezeki.
Sayang, makna rezeki pada sebagian orang telah mengalami penyempitan.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rezeki adalah segala sesuatu
pemberian Tuhan yang dipakai untuk memelihara kehidupan. Dengan
demikian, rezeki bukan melulu makanan dan uang. Masih banyak rezeki yang
kita terima bukan berwujud materi atau benda. Bahkan, menurut
Rasulullah, “dua nikmat (rezeki) yang sering dilupakan kebanyakan orang
adalah kesehatan dan kesempatan” (HR Bukhari).
Dalam hidup ini,
ada dua jenis rezeki yang diberikan Allah kepada manusia: rizqi kasbi
(bersifat usaha) dan rizqi wahbi (hadiah). Rizqi kasbi diperoleh lewat
jalur usaha dan kerja. Terutama jika menyangkut kekayaan dunia, rezeki
jenis ini tidak mensyaratkan kualitas keimanan penerimanya. Tidak jarang
kita jumpai orang yang ingkar kepada Allah tetapi hidupnya sukses.
Selain
sebagai hasil kerja, karena rizqi kasbi memang berasal dari sifat
rahman atau pemberian Allah. Rumusnya, siapa mau berusaha, dia akan
dapat. Karena itu, rezeki berupa kekayaan dunia tidak selalu
mencerminkan cinta Allah kepada pemiliknya. Juga karena kekayaan harta
memang tidak bernilai di hadapan Allah. “Sekiranya bobot kenikmatan
dunia di sisi Allah seberat sayap nyamuk, maka Dia tidak akan memberi
minum kepada orang kafir meski hanya seteguk air” (HR Tirmidzi).
Lain
dari itu adalah rizqi wahbi. Rezeki ini datangnya di luar prediksi
pikiran manusia. Kadang malah tidak memerlukan jerih payah. Pegawai
rendahan bisa saja memiliki harta melimpah. Kiai desa yang miskin papa
mendadak mendapatkan biaya haji dari pemerintah. Itulah rizqi wahbi.
Perolehannya lebih karena sifat rahim atau kasih sayang Allah.
Itulah
kenapa yang paling berpeluang mendapatkan rizqi wahbi adalah hamba yang
bertakwa. Kesuksesan orang bertakwa itu lebih ditentukan oleh kualitas
keimanannya daripada profesinya. “Barangsiapa yang bertakwa kepada
Allah, Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah
yang tidak dia sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah,
niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (QS At-Thalaq: 2-3).
Seolah
mengonfirmasi ayat di atas, Rasulullah bahkan menyatakan, istighfar
secara rutin dapat mengundang rezeki dari arah yang tidak kita duga.
“Barangsiapa melanggengkan istighfar, Allah akan melapangkan
kegalauannya, memberikan solusi atas kerumitannya, dan memberikan rezeki
dari arah yang tidak dia sangka sebelumnya” (HR Ibnu Majah).
Tetapi,
sekali lagi, rezeki bukan melulu harta. Hidup dijauhkan dari
kemaksiatan adalah rezeki. Juga gairah untuk beribadah. Kemudahan
menyerap ilmu jelas rezeki. Kesempatan beraktualisasi diri juga rezeki.
Dan termasuk rezeki adalah ketika kita dihidupkan dalam lingkungan yang
baik. Apalagi memiliki keluarga sakinah. Banyak orang stress akibat
ditimpa problem keluarga. Seperti diingatkan Allah, “Wahai orang-orang
beriman, sungguh di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang
menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah terhadap mereka” (QS
At-Taghabun: 14).
Ayat di atas jelas menegaskan bahwa istri dan
anak potensial membuat hidup manusia merana. Harta yang melimpah tidak
mampu menghapus duka ketika badai rumah tangga melanda. Begitu juga
ketika penyakit mendera. Hidup kehilangan gairah. Berpenampilan serba
mewah tetapi hati selalu berselimut duka.
Mari meluruskan cara
pandang. Alangkah meruah rezeki yang telah kita terima. Limpahan rezeki
materi itu memang wajib disyukuri. Tetapi sungguh naif ketika bermacam
rezeki nonmateri justru kita ingkari. Hanya kepada Allah, senantiasa
kita langitkan doa agar diberikan limpahan rezeki berupa harta yang
halal, pasangan yang baik, anak-anak yang berbakti, rumah atau
lingkungan yang nyaman, dan kehidupan yang bertabur berkah.
Senin, 20 Mei 2013
" Nasehat Orang Tua Untuk Anaknya " Bismillahirrahmaanirrahiim
Sahabat ..
Lukmanul Hakim kisah hidupnya diabadikan dalam Al-Qur’an karena kehidupannya penuh hikmah.
Sebagai orang tua menasehati anaknya tentang aktifitas hidup di dunia ini yang akan jadi bekal bahagia dunia dan akherat.
Ananda... jiwailah nasehat sayang berikut ini,niscaya Ananda akan selalu mendapatkan kasih sayang-Nya:
Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya (Tsaran) dan ia menasehatinya:"Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala,sesungguhnya mempersekutukan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala adalah benar-benar kezaliman yang besar,"(Qs Lukman (31):13)
Hai anaku,sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau berada di dalam bumi, niscaya ALLAH akan mendatangkannya (membawanya) sesungguhnya ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala maha halus lagi maha mengetahui."(Qs Lukman (31):16)
Hai anaku,dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) me-ngerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan ALLAH."(Qs Lukman : 17)
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh.Sesungguhnya ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri( Qs Lukman : 18)
Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara ialah suara keledai.(Qs Lukman:19)
Ada lagi nasehat sayangnya…
Wahai Anakku yang kusayangi,..Ketahuilah sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam di dalamnya.Bila engkau ingin selamat,layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama taqwa,isinya iman dan layarnya adalah tawakkal kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.
Wahai anakku yang kusayangi .. Sesungguhnya orang-orang yang selalu menyediakan dirinya untuk menerima nasihat,maka dirinya akan mendapat perjuangan dari ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.Orang yang insyaf dan sadar telah menerima kemuliaaan dari ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala..
Wahai anakku yang kusayangi ...Orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadah dan taat kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala,maka dia bertawadhu' kepada-Nya.Dia akan lebih taat kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dan selalu berusaha menghindari maksiat.
Wahai anakku yang kusayangi... Seandainya orang tuamu marah kepadamu(karena kesalahanmu) maka marahnya orang tuamu itu adalah bagaikan pupuk bagi tanaman.
Wahai anakku yang kusayangi ..selalu berharap kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala tentang segala sesuatu yang menyebabkan dirimu tidak durhaka kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.Takutlah kepadaNya dengan sebenar takut,tentulah engkau akan terlepas sifat putus asa dari rahmat ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala..
Wahai anakku yang kusayangi...Seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercaya orang dan seseorang yang telah bejat akhlaknya akan senantiasa melamunkan hal-hal yang tidak benar,ketahuilah memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah dari mengembalikan nama baik atau kehormatan.
Wahai anaku,janganlah mencampuri urusan duniamu terlalu dalam yang membuat rusak urusan akhiratmu dan janganlah meninggalkan dunia sama sekali sehingga engkau menjadi beban orang lain.
Wahai anakku apabila terdapat pada diri seseorang 5 hal: agama,harta,sifat malu,baik budi dan dermawan,maka ia seorang yang bersih lagi takwa menjadi kekasih ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dan lepas dari gangguan syaithan.
Wahai anaku,aku menasehati engkau dengan sifat-sifat yang apabila engkau berpegang teguh dengannya niscaya engkau selalu menjadi orang terhormat,yaitu bentangkanlah sifat bijakmu kepada orang yang dekat maupun yang jauh darimu.
Wahai anakku... janganlah engkau perlihatkan kebodohanmu kepada orang yang jujur maupun terhadap orang yang culas khianat.Bersilaturahmilah terhadap kaum kerabatmu.Pelihara dan jagalah teman-temanmu.
Janganlah sampai menerima orang yang berusaha berbuat jahat,yang menginginkan kerusakanmu dan bermaksud menipumu.
Anakku sayang... dan jadikanlah teman-temanmu tergolong orang-orang yang apabila engkau berpisah dengan mereka dan berpisah denganmu engkau tidak menggemukan cacat mereka dan mereka tidak pula mengungkapkan cacatmu.
Wahai anakku ! Tidaklah dinamakan kebaikan sekalipun kamu sibuk mencari dan mengumpul ilmu pengetahuan tetapi tidak pernah mengamalkannya.Perbuatan ini tak ubah seperti seorang pencari kayu api yang sentiasa menambah timbunan kayunya sedangkan ia tidak mampu untuk mengangkatnya.
Wahai anakku... Berhati-hatilah terhadap tutur tata dan bicaramu,peliharalah budi bahasamu dan sentiasalah bermanis muka niscaya kamu akan disenangi dan disukai oleh orang yang berada di sekelilingmu.Perumpamaannya seolah mereka telah mendapat barang yang amat berharga darimu.
Wahai anakku ... Jika kamu mahu mencari sahabat sejati maka kamu ujilah ia terlebih dahulu dengan berpura-pura membuatkan ia marah terhadapmu.Sekiranya dalam kemarahan itu ia masih mahu menasihati,menyedarkan dan menginsafkan kamu,maka dialah sahabat yang dicari.Jika berlaku sebaliknya maka berwaspadalah kamu terhadapnya.
Wahai anakku ! Bila kamu mempunyai teman yang karib maka jadikanlah dirimu sebagai seorang yang tidak mengharapkan sesuatu apapun darinya sebaliknya biarkanlah temanmu itu saja yang mengharapkan sesuatu darimu.
Wahai anakku ! Jagalah dirimu selalu supaya tidak terlalu condong kepada dunia dan segala kesenangan dan kemewahannya kerana ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala tidak menciptakan kamu hanya untuk kehidupan di dunia sahaja. Ketahuilah tidak ada makhluk yang lebih hina selain dari mereka yang telah diperdayakan oleh dunia.
Wahai anakku sayang...janganlah kamu ketawa jika tiada sesuatu yang menggelikan,janganlah kamu berjalan jika tiada arah tujuan,janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang tidak memberi apa-apa faedah pun kepadamu dan janganlah kamu mensia-siakan hartamu pada jalan maksiat.
Wahai anakku sayang..Siapa yang bersifat penyayang sudah tentu dia akan disayang, siapa yang bersifat pendiam sudah tentu dia akan selamat dari mengeluarkan perkataan yang sia-sia.Ketahuilah siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari mengeluarkan ucapan kotor,sudah tentu ia akan menyesal kelak.
Wahai anakku ... Bergaul dan berkawanlah dengan orang-orang yang soleh dan berilmu.Bukalah pintu hatimu dan dengarlah segala nasihat dan tunjuk ajar darinya. Sesungguhnya nasihat dari mereka bagaikan mutiara hikmah yang bercahaya yang dapat menyuburkan hatimu seperti tanah kering lalu disirami air hujan.
Wahai anakku... Carilah harta di dunia ini sekadar keperluanmu sahaja dan nafkahkanlah hartamu yang selebihnya pada jalan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala sebagai bekalan di akhirat.Janganlah kamu membuat dunia ini kelak dirimu akan menjadi pengemis dan membebankan pula orang lain tetapi jangan pula kamu terlalu mengejar dunia sehingga terlupa bahawa kamu akan mati.Ketahuilah, apa yang kamu makan dan pakai itu semuanya dari tanah belaka.
Anakku,kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu.Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.
Anakku,aku sudah pernah memikul batu-batu besar,aku juga sudah mengangkat besi-besi berat.Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.
Anakku,aku sudah merasakan semua benda yang pahit.Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.
Anakku,sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi.Kalimat itu adalah:
1. Jika kau beribadah pada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala,jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain,maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis,jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan,jagalah perangaimu.
5. Ingatlah ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu.
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.
Mudah-mudahan bermanfaat...
Lukmanul Hakim kisah hidupnya diabadikan dalam Al-Qur’an karena kehidupannya penuh hikmah.
Sebagai orang tua menasehati anaknya tentang aktifitas hidup di dunia ini yang akan jadi bekal bahagia dunia dan akherat.
Ananda... jiwailah nasehat sayang berikut ini,niscaya Ananda akan selalu mendapatkan kasih sayang-Nya:
Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya (Tsaran) dan ia menasehatinya:"Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala,sesungguhnya mempersekutukan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala adalah benar-benar kezaliman yang besar,"(Qs Lukman (31):13)
Hai anaku,sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau berada di dalam bumi, niscaya ALLAH akan mendatangkannya (membawanya) sesungguhnya ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala maha halus lagi maha mengetahui."(Qs Lukman (31):16)
Hai anaku,dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) me-ngerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan ALLAH."(Qs Lukman : 17)
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh.Sesungguhnya ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri( Qs Lukman : 18)
Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara ialah suara keledai.(Qs Lukman:19)
Ada lagi nasehat sayangnya…
Wahai Anakku yang kusayangi,..Ketahuilah sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam di dalamnya.Bila engkau ingin selamat,layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama taqwa,isinya iman dan layarnya adalah tawakkal kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.
Wahai anakku yang kusayangi .. Sesungguhnya orang-orang yang selalu menyediakan dirinya untuk menerima nasihat,maka dirinya akan mendapat perjuangan dari ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.Orang yang insyaf dan sadar telah menerima kemuliaaan dari ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala..
Wahai anakku yang kusayangi ...Orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadah dan taat kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala,maka dia bertawadhu' kepada-Nya.Dia akan lebih taat kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dan selalu berusaha menghindari maksiat.
Wahai anakku yang kusayangi... Seandainya orang tuamu marah kepadamu(karena kesalahanmu) maka marahnya orang tuamu itu adalah bagaikan pupuk bagi tanaman.
Wahai anakku yang kusayangi ..selalu berharap kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala tentang segala sesuatu yang menyebabkan dirimu tidak durhaka kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.Takutlah kepadaNya dengan sebenar takut,tentulah engkau akan terlepas sifat putus asa dari rahmat ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala..
Wahai anakku yang kusayangi...Seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercaya orang dan seseorang yang telah bejat akhlaknya akan senantiasa melamunkan hal-hal yang tidak benar,ketahuilah memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah dari mengembalikan nama baik atau kehormatan.
Wahai anaku,janganlah mencampuri urusan duniamu terlalu dalam yang membuat rusak urusan akhiratmu dan janganlah meninggalkan dunia sama sekali sehingga engkau menjadi beban orang lain.
Wahai anakku apabila terdapat pada diri seseorang 5 hal: agama,harta,sifat malu,baik budi dan dermawan,maka ia seorang yang bersih lagi takwa menjadi kekasih ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dan lepas dari gangguan syaithan.
Wahai anaku,aku menasehati engkau dengan sifat-sifat yang apabila engkau berpegang teguh dengannya niscaya engkau selalu menjadi orang terhormat,yaitu bentangkanlah sifat bijakmu kepada orang yang dekat maupun yang jauh darimu.
Wahai anakku... janganlah engkau perlihatkan kebodohanmu kepada orang yang jujur maupun terhadap orang yang culas khianat.Bersilaturahmilah terhadap kaum kerabatmu.Pelihara dan jagalah teman-temanmu.
Janganlah sampai menerima orang yang berusaha berbuat jahat,yang menginginkan kerusakanmu dan bermaksud menipumu.
Anakku sayang... dan jadikanlah teman-temanmu tergolong orang-orang yang apabila engkau berpisah dengan mereka dan berpisah denganmu engkau tidak menggemukan cacat mereka dan mereka tidak pula mengungkapkan cacatmu.
Wahai anakku ! Tidaklah dinamakan kebaikan sekalipun kamu sibuk mencari dan mengumpul ilmu pengetahuan tetapi tidak pernah mengamalkannya.Perbuatan ini tak ubah seperti seorang pencari kayu api yang sentiasa menambah timbunan kayunya sedangkan ia tidak mampu untuk mengangkatnya.
Wahai anakku... Berhati-hatilah terhadap tutur tata dan bicaramu,peliharalah budi bahasamu dan sentiasalah bermanis muka niscaya kamu akan disenangi dan disukai oleh orang yang berada di sekelilingmu.Perumpamaannya seolah mereka telah mendapat barang yang amat berharga darimu.
Wahai anakku ... Jika kamu mahu mencari sahabat sejati maka kamu ujilah ia terlebih dahulu dengan berpura-pura membuatkan ia marah terhadapmu.Sekiranya dalam kemarahan itu ia masih mahu menasihati,menyedarkan dan menginsafkan kamu,maka dialah sahabat yang dicari.Jika berlaku sebaliknya maka berwaspadalah kamu terhadapnya.
Wahai anakku ! Bila kamu mempunyai teman yang karib maka jadikanlah dirimu sebagai seorang yang tidak mengharapkan sesuatu apapun darinya sebaliknya biarkanlah temanmu itu saja yang mengharapkan sesuatu darimu.
Wahai anakku ! Jagalah dirimu selalu supaya tidak terlalu condong kepada dunia dan segala kesenangan dan kemewahannya kerana ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala tidak menciptakan kamu hanya untuk kehidupan di dunia sahaja. Ketahuilah tidak ada makhluk yang lebih hina selain dari mereka yang telah diperdayakan oleh dunia.
Wahai anakku sayang...janganlah kamu ketawa jika tiada sesuatu yang menggelikan,janganlah kamu berjalan jika tiada arah tujuan,janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang tidak memberi apa-apa faedah pun kepadamu dan janganlah kamu mensia-siakan hartamu pada jalan maksiat.
Wahai anakku sayang..Siapa yang bersifat penyayang sudah tentu dia akan disayang, siapa yang bersifat pendiam sudah tentu dia akan selamat dari mengeluarkan perkataan yang sia-sia.Ketahuilah siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari mengeluarkan ucapan kotor,sudah tentu ia akan menyesal kelak.
Wahai anakku ... Bergaul dan berkawanlah dengan orang-orang yang soleh dan berilmu.Bukalah pintu hatimu dan dengarlah segala nasihat dan tunjuk ajar darinya. Sesungguhnya nasihat dari mereka bagaikan mutiara hikmah yang bercahaya yang dapat menyuburkan hatimu seperti tanah kering lalu disirami air hujan.
Wahai anakku... Carilah harta di dunia ini sekadar keperluanmu sahaja dan nafkahkanlah hartamu yang selebihnya pada jalan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala sebagai bekalan di akhirat.Janganlah kamu membuat dunia ini kelak dirimu akan menjadi pengemis dan membebankan pula orang lain tetapi jangan pula kamu terlalu mengejar dunia sehingga terlupa bahawa kamu akan mati.Ketahuilah, apa yang kamu makan dan pakai itu semuanya dari tanah belaka.
Anakku,kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu.Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.
Anakku,aku sudah pernah memikul batu-batu besar,aku juga sudah mengangkat besi-besi berat.Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.
Anakku,aku sudah merasakan semua benda yang pahit.Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.
Anakku,sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi.Kalimat itu adalah:
1. Jika kau beribadah pada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala,jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain,maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis,jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan,jagalah perangaimu.
5. Ingatlah ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu.
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.
Mudah-mudahan bermanfaat...
Rabu, 15 Mei 2013
Tiga Hari Bersama Calon Penghuni Surga
Tiga Hari Bersama Calon Penghuni Surga
Oleh Afriza Hanifa
“Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga.” Ucapan Rasulullah ini serta-merta membuat riuh para sahabat yang tengah berada di masjid. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan sang penghuni surga itu. Apakah dia salah satu sahabat yang paling rajin shalatnya atau yang paling rajin puasanya? Atau, yang paling banyak sedekahnya atau mungkin yang tak pernah absen dalam jihad?
Tak lama, para sahabat pun melihat seorang laki-laki Anshar dengan wajah basah. Air wudhu menetes dari janggutnya. Tangannya menjinjing sepasang sandal jepit. Tak ada yang spesial secara fisik. Para sahabat pun bertanya-tanya alasan apa yang membuat laki-laki tersebut menjadi penghuni surga.
Tentu saja itu derajat tinggi yang sangat diinginkan setiap Muslim, apalagi para sahabat Rasul. Mereka semua menginginkan jaminan surga.
Keesokan hari belum terjawab rasa penasaran para sahabat, Rasulullah kembali mengucapkan hal sama. “Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga.” Mereka pun kembali riuh bertanya-tanya, siapa lagi yang dipastikan merasakan nikmat Allah yang kekal.
Namun, justru laki-laki dengan wajah basah wudhu dan membawa sandal itu lagi yang muncul. Para sahabat semakin bertanya-tanya, namun tak ada satu pun yang berani bertanya pada Rasulullah.
****
Hingga ketiga kalinya, Rasulullah mengucapkan hal yang sama. Namun, tetap saja yang muncul laki-laki tadi. Para sahabat pun yakin laki-laki itulah calon penghuni surga. Tapi, tak satu pun sahabat yang mengetahui alasan di balik rahmat Allah memasukkan laki-laki itu dalam golongan yang selamat pada hari akhir.
Namun, mereka tetap merasa tak enak hati jika menanyakannya hal itu kepada Rasulullah. Tinggallah para sahabat terus dirundung keingintahuan. Salah satu sahabat yang amat penasaran, yakni Abdullah bin Amr bin Ash, memilih inisiatif untuk mencari tahu sendiri.
Hari ketiga setelah Rasulullah mengucapkan hal yang sama, Abdullah bin Amr bin Ash bermaksud mengikuti si laki-laki penghuni surga. Ia pun membuntutinya hingga tiba di rumah laki-laki itu. Abdullah berpikir bagaimana cara agar ia dapat mengetahui amalan apa yang mengantarkan pria itu meraih keistimewaan sebagai penghuni surga. Ia pun kemudian menyapa pria tersebut dan bermaksud meminta izin untuk menginap di rumahnya.
Abdullah bermaksud tinggal di sana agar dapat mengetahui amalan si penghuni surga.
“Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Jika boleh, aku ingin tinggal bersamamu selama tiga hari,” ujar Abdullah kepada laki-laki itu. Si penghuni surga tersebut dengan senang hati menyambut Abdullah. “Tentu, silakan,” ujarnya gembira. Maka, tinggallah Ibnu Amr di rumah calon penghuni surga itu selama tiga hari.
****
Selama tinggal di sana, Abdullah mengamati setiap ibadah dan amalan yang dilakukan si calon penghuni surga. Hari pertama, Abdullah tak menemukan adanya amalan spesial dari laki-laki itu. Hari kedua, ibadahnya masih sama, tak ada yang istimewa. Hingga hari terakhir, Abdullah tak juga menemukan ibadah yang luar biasa dari si laki-laki yang berhasil meraih keutamaan surga tersebut.
Abdullah hanya melihat ibadah si laki-laki yang biasa, hanya menjalankan ibadah wajib saja. Di sepertiga malam, pria itu tak pernah bangun shalat Tahajud. Meski Abdullah bin Amr selalu mendengar laki-laki itu berzikir dan bertakbir acap kali terjaga dari tidur, pria itu baru bangun saat waktu shalat subuh tiba. Luput dari shalat malam, pria penghuni surga itu pun tak menjalankan puasa sunnah. Namun, Abdullah juga tak pernah mendengar pria itu berbicara, kecuali ucapan yang baik.
Tiga hari terlewat tanpa menemukan jawaban apa pun. Bahkan, hampir saja Abdullah meremehkan amalan di penghuni surga jika tak mendapat jawaban sebelum pamit. Ketika izin pulang setelah menginap tiga hari, Abdullah mengakui maksudnya untuk mencari keutamaan amalan si laki-laki itu hingga beruntung menjadi salah satu penghuni surga Allah yang dipenuhi segala kenikmatan.
****
Kepada pria itu Abdullah berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuanku menginap di rumahmu adalah karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Aku bermaksud dengan melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Tapi, ternyata kau tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai sesuatu yang dikatakan Rasulullah sebagai penghuni surga?” tanyanya.
Laki-laki itu pun tersenyum dan menjawab ringan, “Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat selama tiga hari ini.” Jawabannya itu tak memuaskan hati Abdullah ibn Amr. Namun, ketika Abdullah melangkah keluar dari rumah, laki-laki tersebut memanggilnya.
Ia berkata kepada Abdullah, “Benar, amalanku hanya yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada Muslimin ataupun selainnya. Aku juga tidak pernah iri ataupun hasad kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.”
Mendengarnya perkataan tersebut, takjublah Abdullah bin Amr bin Ash. Ia yakin sifat tak pernah iri, dengki, dan hasad membuat pria itu masuk surga. Ia pun malu karena banyak dari Muslimin yang tak memperhatikan akhlak tersebut.
Tak hanya ibadah semata yang mengantarkan manusia merasakan surga Allah, tetapi juga amalan kebaikan, termasuk sifat dan akhlakul karimah. “Kemungkinan amalan inilah yang membuatmu mendapatkan derajat yang tinggi. Ini adalah amalan yang sangat sulit untuk dilakukan,” ujar Abdullah girang mendapat jawaban sekaligus pelajaran berharga.
****
Tak sia-sia Abdullah menginap tiga hari bersama sang calon penghuni surga. Karena, ia mendapatkan pelajaran yang amat patut dicontoh dirinya maupun Muslimin secara umum.
Berdasarkan kisah tersebut, banyak pelajaran yang dapat dipetik Muslimin. Sifat hasad, baik iri dan dengki, sangat dilarang dalam Islam. Bahkan, dari kisah ini tampak seorang yang tak pernah memiliki sifat itu merupakan penghuni surga Allah. Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian saling iri dan dengki.” (HR Muslim).
Oleh Afriza Hanifa
“Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga.” Ucapan Rasulullah ini serta-merta membuat riuh para sahabat yang tengah berada di masjid. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan sang penghuni surga itu. Apakah dia salah satu sahabat yang paling rajin shalatnya atau yang paling rajin puasanya? Atau, yang paling banyak sedekahnya atau mungkin yang tak pernah absen dalam jihad?
Tak lama, para sahabat pun melihat seorang laki-laki Anshar dengan wajah basah. Air wudhu menetes dari janggutnya. Tangannya menjinjing sepasang sandal jepit. Tak ada yang spesial secara fisik. Para sahabat pun bertanya-tanya alasan apa yang membuat laki-laki tersebut menjadi penghuni surga.
Tentu saja itu derajat tinggi yang sangat diinginkan setiap Muslim, apalagi para sahabat Rasul. Mereka semua menginginkan jaminan surga.
Keesokan hari belum terjawab rasa penasaran para sahabat, Rasulullah kembali mengucapkan hal sama. “Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga.” Mereka pun kembali riuh bertanya-tanya, siapa lagi yang dipastikan merasakan nikmat Allah yang kekal.
Namun, justru laki-laki dengan wajah basah wudhu dan membawa sandal itu lagi yang muncul. Para sahabat semakin bertanya-tanya, namun tak ada satu pun yang berani bertanya pada Rasulullah.
****
Hingga ketiga kalinya, Rasulullah mengucapkan hal yang sama. Namun, tetap saja yang muncul laki-laki tadi. Para sahabat pun yakin laki-laki itulah calon penghuni surga. Tapi, tak satu pun sahabat yang mengetahui alasan di balik rahmat Allah memasukkan laki-laki itu dalam golongan yang selamat pada hari akhir.
Namun, mereka tetap merasa tak enak hati jika menanyakannya hal itu kepada Rasulullah. Tinggallah para sahabat terus dirundung keingintahuan. Salah satu sahabat yang amat penasaran, yakni Abdullah bin Amr bin Ash, memilih inisiatif untuk mencari tahu sendiri.
Hari ketiga setelah Rasulullah mengucapkan hal yang sama, Abdullah bin Amr bin Ash bermaksud mengikuti si laki-laki penghuni surga. Ia pun membuntutinya hingga tiba di rumah laki-laki itu. Abdullah berpikir bagaimana cara agar ia dapat mengetahui amalan apa yang mengantarkan pria itu meraih keistimewaan sebagai penghuni surga. Ia pun kemudian menyapa pria tersebut dan bermaksud meminta izin untuk menginap di rumahnya.
Abdullah bermaksud tinggal di sana agar dapat mengetahui amalan si penghuni surga.
“Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Jika boleh, aku ingin tinggal bersamamu selama tiga hari,” ujar Abdullah kepada laki-laki itu. Si penghuni surga tersebut dengan senang hati menyambut Abdullah. “Tentu, silakan,” ujarnya gembira. Maka, tinggallah Ibnu Amr di rumah calon penghuni surga itu selama tiga hari.
****
Selama tinggal di sana, Abdullah mengamati setiap ibadah dan amalan yang dilakukan si calon penghuni surga. Hari pertama, Abdullah tak menemukan adanya amalan spesial dari laki-laki itu. Hari kedua, ibadahnya masih sama, tak ada yang istimewa. Hingga hari terakhir, Abdullah tak juga menemukan ibadah yang luar biasa dari si laki-laki yang berhasil meraih keutamaan surga tersebut.
Abdullah hanya melihat ibadah si laki-laki yang biasa, hanya menjalankan ibadah wajib saja. Di sepertiga malam, pria itu tak pernah bangun shalat Tahajud. Meski Abdullah bin Amr selalu mendengar laki-laki itu berzikir dan bertakbir acap kali terjaga dari tidur, pria itu baru bangun saat waktu shalat subuh tiba. Luput dari shalat malam, pria penghuni surga itu pun tak menjalankan puasa sunnah. Namun, Abdullah juga tak pernah mendengar pria itu berbicara, kecuali ucapan yang baik.
Tiga hari terlewat tanpa menemukan jawaban apa pun. Bahkan, hampir saja Abdullah meremehkan amalan di penghuni surga jika tak mendapat jawaban sebelum pamit. Ketika izin pulang setelah menginap tiga hari, Abdullah mengakui maksudnya untuk mencari keutamaan amalan si laki-laki itu hingga beruntung menjadi salah satu penghuni surga Allah yang dipenuhi segala kenikmatan.
****
Kepada pria itu Abdullah berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuanku menginap di rumahmu adalah karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Aku bermaksud dengan melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Tapi, ternyata kau tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai sesuatu yang dikatakan Rasulullah sebagai penghuni surga?” tanyanya.
Laki-laki itu pun tersenyum dan menjawab ringan, “Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat selama tiga hari ini.” Jawabannya itu tak memuaskan hati Abdullah ibn Amr. Namun, ketika Abdullah melangkah keluar dari rumah, laki-laki tersebut memanggilnya.
Ia berkata kepada Abdullah, “Benar, amalanku hanya yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada Muslimin ataupun selainnya. Aku juga tidak pernah iri ataupun hasad kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.”
Mendengarnya perkataan tersebut, takjublah Abdullah bin Amr bin Ash. Ia yakin sifat tak pernah iri, dengki, dan hasad membuat pria itu masuk surga. Ia pun malu karena banyak dari Muslimin yang tak memperhatikan akhlak tersebut.
Tak hanya ibadah semata yang mengantarkan manusia merasakan surga Allah, tetapi juga amalan kebaikan, termasuk sifat dan akhlakul karimah. “Kemungkinan amalan inilah yang membuatmu mendapatkan derajat yang tinggi. Ini adalah amalan yang sangat sulit untuk dilakukan,” ujar Abdullah girang mendapat jawaban sekaligus pelajaran berharga.
****
Tak sia-sia Abdullah menginap tiga hari bersama sang calon penghuni surga. Karena, ia mendapatkan pelajaran yang amat patut dicontoh dirinya maupun Muslimin secara umum.
Berdasarkan kisah tersebut, banyak pelajaran yang dapat dipetik Muslimin. Sifat hasad, baik iri dan dengki, sangat dilarang dalam Islam. Bahkan, dari kisah ini tampak seorang yang tak pernah memiliki sifat itu merupakan penghuni surga Allah. Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian saling iri dan dengki.” (HR Muslim).
Senin, 22 April 2013
Jenis-jenis Manusia
Ulama kenamaan Imam Ghazali rahimahullah pernah menjelaskan, manusia itu ada empat jenis. Pertama, manusia yang yadri wa yadri annahu yadri. Maksudnya, orang yang tahu dan dia tahu kalau dirinya itu tahu.
Ini adalah jenis manusia yang paling baik. Jenis manusia yang memiliki
kemapanan ilmu, dan dia tahu kalau dirinya itu berilmum, maka ia
menggunakan ilmunya. Ia berusaha semaksimal mungkin agar ilmunya
benar-benar bermanfaat bagi dirinya, orang sekitarnya, dan bahkan bagi
seluruh umat manusia. Dalam bahasa pakar manajemen global, manusia
jenis ini adalah manusia yang kreatif, selalu belajar, dan tidak
berhenti berinovasi.
Manusia jenis ini adalah manusia unggul.
Dalam bahasa Syaikh Muhammad Ahmad Al Rasyid, manusia jenis inilah yang
yang mampu merubah dunia kearah yang lebih baik, mereka layak menjadi
pelopor “shina’atul hayah” atau “lifemaking”. Jumlah manusia jenis ini tidak banyak, tapi keberadaan mereka menjadi nyawa bagi kehidupan umat manusia.
Konon, kemajuan Amerika Serikat dalam
“bidang-bidang tertentu” ditentukan oleh pikiran-pikiran orang-orang
pilihan, tak lebih dari lima puluh ribu orang. Mereka bukan orang yang
suka mabuk-mabukan , dan juga bukan yang hidup glamor di Hollywood.
Mereka adalah para pemikir, para dosen
dan peneliti, para pengamat politik dan ekonomi yang kredibel, para
manajer perusahaan besar dan bank yang berpengaruh di dunia, para wakil
komunikasi dalam dan luar negeri, para anggota dan mantan anggota
kongres, tokoh-tokoh hakim dan pengacara, unsur-unsur mafia, para kepala
sindikat, orang-orang di Gedung Putih sepuluh orang di Citibank dan
Charter bank, sembilan orang di pusat Aramco, delapan orang di lobi-lobi
bank dunia, tujuh orang pimpinan redaksi, dan enam orang ketua
organisasi Yahudi dan Fremansori. Selebihnya jutaan orang lainnya hidup
di pinggir pentas peradaban Amerika.
Hal yang sama juga terjadi di Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, China, Jepang, India dan juga Indonesia.
Jenis kedua adalah manusia yang la yadri wa yadri annahu la yadri, manusia yang tidak tahu, tidak berlimu, dan dia menyadari kalau dirinya tidak berilmu.
Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab,
ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Ia bisa
mengintropeksi diriya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang
sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar.
Dengan belajar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan
tahu kalau dirinya berilmu. Meskipun tergolong baik, tapi ini bukan tipe
manusia yang bisa membuat perubahan bagi lingkungannya. Sebab, tanpa
ilmu pengetahuan yang cukup, maka manusia tidak bisa berinovasi.
Baiknya, tipe manusia ini dengan kesadaran dan akal sehatnya tidak akan
menghalangi sebuah proses perubahan kearah yang lebih baik. Dan manusia
jenis kedua ini, dia tidak akan berani nekat memegang amanah yang ia
rasa tidak memiliki kapasitas untuk memegangnya. Sebab ia tahu siapa
dirinya.
Jenis ketiga, adalah manusia yang yadri wa yaladri annahu yadri, yaitu manusia yang tahu, tapi tidak tahu kalau dirinya tahu.
Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah
menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Manusia jenis ini
sering kita jumpai di sekeliling kita. Terkadang kita menemukan orang
yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu
kalau memiliki potensi.
Ada orang yang sudah puluhan tahun
belajar di pesantren. Puluhan kitab telah ia khatamkan, tapi saat ia
kembali ke tengah-tengah masyarakat, dia tidak mencerminkan sebagai
orang yang berilmu. Apa yang dia pelajari seolah tidak seolah tidak ada
bekasnya. Ia sama sekali tidak mau ikut andil memberantas kejahiliahan
yang ada di sekelilingnya. Bahkan, ia diam saja ketika ada yang
mengajarkan hal-hal yang sesat dan menyesatkan.
Manusia jenis ini menurut Imam Ghazali,
perlu disadarkan. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia yang diberikan
Allah kepadanya. Padahal, karunia itu jika ia manfaatkan sunguh-sungguh
akan menjadi sebab mengalirnya kebaikan bagi banyak orang.
Di negari ini, sering kali kita menemukan
orang yang telah puluhan tahun belajar di dalam maupun luar negeri, ia
bahkan menyandang gelar ilmiah paling tinggi, tapi ilmu yang ia pelajari
tidak sama sekali ia amalkan. Ia bahkan bekerja di bidang yang bahkan
kurang ia kuasai. Akibatnya bidang yang sebenarnya memerlukan
spesialisasinya dinegeri ini tidak maju dan bidang yang ia garap karena
bukan spesialisasi terbaiknya juga kurang maju. Banyak alasan yang
menyebabkan fenomena ini terjadi, tapi tetap saja kondisi ini perlu
dikoreksi, demi kemajuan umat dan negeri ini.
Jenis keempat, dan ini menurut Imam Ghazali, adalah jenis manusia yang paling buruk, yaitu manusia yang la yadri wa la yadri annahu la yadri, yaitu orang yang tidak tahu tapi dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.
Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu,
selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya
manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan
membantah sebaba ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia
seperti ini, paling susah dicari kebaikannya.
Repotnya lagi dinegeri, jenis manusia
seperti ini terlalu banyak bergentayangan. Pemilu wakil rakyat beberapa
waktu yang lau adalah buktinya. Sejatinya menjadi wakil rakyat tidaklah
mudah. Karena wakil rakyat jugalah yang membuat undang-undang misalnya
harus cukup memiliki bekal ilmu hukum dan perundang-undangan. Namun,
terbukti ratusan ribu orang merasa berhak menjadi wakil rakyat. Bahkan
ada yang tidak pernah lulus sekolah dari manapun, hanya bisa baca tulis,
ia mencalonkan jadi wakil rakyat. Ijazah yang menjadi syarat
administrasi dimanipulasi. Dan ia merasa bisa menjadi wakil rakyat.
Seorang penulis pemula, ada yang datang
kepada saya. Dia bertanya kepada saya adakah memiliki buku tentang
Palestina? Saya balik bertanya buku tentang Palestina yang seperti apa?
Dia menginginkan buku tentang Palestina yang membahas tentang
geografisnya, keadaan alam dan cuacanya.
Saya lalu menjawab bahwa saya mempunyai
buku-buku Palestina, tapi dalam bahasa Arab. Dia mengatakan kalau
berbahasa Arab, maka tidak akan bisa membacanya. Saya lalu bertanya.
“Kok mencari buku Palestina, memangnya mau menulis tentang apanya?”
Dengan semangat berkobar, ia menjelaskan
akaan membuat novel tantang Palestina. Dia ingin membangkitkan semangat
juang membela Palestina. Sayapun tersenyum, saya kagum pada semangatnya
yang berapi-api. Lalu saya bertanya asal-asalan saja, saya bertanya
tentang tokoh yang sering jadi pemberitaan selama ini tentang Palestina.
“Kenal Ahmad Yasin?” Siapa itu Ahmad Yasin?”
Dia menjawab sama sekali tidak kenal.
Saya katakan bagaimana kamu mau menulis tentang Palestina kalau tokoh
seterkenal Ahmad Yasin saja kamu tidak kenal, bahkan kamu belum pernah
mendengarnya.
Penulis pemula ini tetap ngotot ingin
menulis tentang Palestina. Karena saya sangat mengargainya, saya ingin
dia matang jadi penulis yang baik, maka saya memberitahu apa yang
seharusnya ia lakukan. Ia harus banyak membaca dan mengadakan riset yang
serius. Dia sebelumnya pernah cerita ada penerbit yang memintanya
menulis tentang Palestina, maka dia mengejar itu. Dan saya tahu dia
kurang suka membaca dan pengetahuannya tentang Palestina baru sebatas
Palestina sekarang masih perang sama Israel. Maka saya katakan,
“Kira-kira bagaimana kalau ada penulis mau menulis tentang Islam, lalu
saya tanya kenal tidak kamu dengan Muhammad, dia menjawab tidak kena
sama sekali. Dan dia ngotot mau menulis kesejatian Islam, padahal dia
sama sekali tidak kenal Muhammad Saw sebagai pembawa Rialah Islam?”
Penulis pemula yang masih sangat muda
itu, lalu diam seribu bahasa. Saya ingin dia tidak termasuk golongan
jenis manusia yang keempat, manusia yang tidak tahu tapi dia tidak tahu
kalau dirinya tidak tahu. Atau manusia yang tidak tahu tetapi selalu
merasa tahu. Dan dewasa ini banyak sekali jenis manusia tipe ini yang
menulis tentang Islam, tapi dia tidak tahu Islam. Bahkan ada yang
berapi-api membela Islam, bahkan dengan menyitir puluhan ayat. Padahal na’uzubillah
pemahamannya akan Al Qur’an-menurut sebuah hadist-tidaklah melewati
tenggorokannya. Semoga kita terhindar dari sifat-sifat seperti itu.
Amin!
Habiburahhman El Shiraz
Airmata Rosululloh SAW
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan
salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak
mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah
yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, “ kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,”kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, sungguh dahsyat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingiin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu).”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii” (”Umatku, umatku, umatku”) Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
ikhwani akhwati fillah..sudahkah kita mencintai Rosululloh layaknya Rosululloh mencintai kita sebagai ummatnya..?Setidaknya dalam sehari sholawat dan salam limpahkanlah untuk Rosululloh tercinta.selebihnya mengikuti suri tauladannya,semoga kita menjadi salah seorang yg mendapat syafaatnya kelak di youmal akhir..amiin.
Mari kita sama-sama mengucpkan sholawat " Allohumma sholli 'ala Muhammad wa barik wa saliim alaihi."
Wallohua'lam bissowwaab.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, “ kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,”kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, sungguh dahsyat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingiin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu).”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii” (”Umatku, umatku, umatku”) Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
ikhwani akhwati fillah..sudahkah kita mencintai Rosululloh layaknya Rosululloh mencintai kita sebagai ummatnya..?Setidaknya dalam sehari sholawat dan salam limpahkanlah untuk Rosululloh tercinta.selebihnya mengikuti suri tauladannya,semoga kita menjadi salah seorang yg mendapat syafaatnya kelak di youmal akhir..amiin.
Mari kita sama-sama mengucpkan sholawat " Allohumma sholli 'ala Muhammad wa barik wa saliim alaihi."
Wallohua'lam bissowwaab.
Kisah Dialog Rasulullah SAW Dan Iblis Yang Menyamar
Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis
agar menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu segala rahasianya,
baik yang disuka maupun yang dibencinya.
Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.
Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan berkata : “Hai Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw. Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur.
Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih”.
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan, maka segera ia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar sebagai orang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai yang panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam sampai 3 (tiga) kali salam, Rasulullah saw tidak juga menjawabnya, maka Iblis berkata : “Ya Rasullullah! Mengapa engkau tidak menjawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah : “Hai musuh Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Jangan kau coba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam as sehingga beliau keluar dari syurga, kau hasut Qabil sehingga ia tega membunuh Habil yang masih saudaranya sendiri, ketika sedang sujud dalam sembahyang kau tiup Nabi Ayub as dengan asap beracun sehingga beliau sengsara untuk beberapa lama, kisah Nabi Daud as dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wa jalla, tapi aku diharamkan Allah menjawab salammu. Aku mengenalmu dengan baik wahai Iblis, Raja segala Iblis. Apa tujuanmu menemuiku?”.
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Engkau dapat mengenaliku karena engkau adalah Khatamul Anbiya. Aku datang atas perintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam as hingga akhir zaman nanti. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, aku tidak berani menyembunyikannya”.
Kemudian Iblispun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata : “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatahpun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu”.
Ketika mendengar sumpah Iblis itu, Nabipun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah kesempatanku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar seluruh sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1) :
“Hai Iblis! Siapakah musuh besarmu?”
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara musuh-musuhku di muka bumi ini”.
Kemudian Nabipun memandang muka Iblis dan Iblispun gemetar karena ketakutan. Sambung Iblis : “Ya Khatamul Anbiya! Aku dapat merubah diriku seperti manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suarapun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah. Andaikan aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu.
Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu juga aku berusaha menarik mereka kepada kekafiran, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan yang benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku”.
Pertanyaan Nabi (2) :
“Hai Iblis! Apa yang kau perbuat terhadap makhluk Allah?”
Jawab Iblis : “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, berbuai dengan makanan dan minuman, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda, emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan yang haram.
Demikian juga ketika pesta di mana lelaki dan perempuan bercampur. Di sana aku lepaskan godaan yang besar supaya mereka lupa peraturan dan akhirnya minum arak. Apabila terminum arak itu, maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga perbuatan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka sadar akan kesalahan mereka lalu hendak bertaubat dan berbuat amal ibadah, akan aku rayu supaya mereka membatalkannya. Semakin keras aku goda supaya mereka berbuat maksiat dan mengambil isteri orang. Jika hatinya terkena godaanku, datanglah rasa ria’, takabur, iri, sombong dan melengahkan amalnya. Jika lidahnya yang tergoda, maka mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat”.
Pertanyaan Nabi (3) :
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambah laknat yang besar dan siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?
Jawab Iblis : “Semuanya itu adalah anugerah dari Allah Yang Maha Besar. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa diriku telah beribu-ribu tahun menjadi Ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke langit yang lebih tinggi. Kemudian aku tinggal di dunia ini beribadah bersama para Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan manusia yang pertama (Nabi Adam as) dan seluruh Malaikat diperintah supaya memberi hormat sujud kepada lelaki itu, hanya aku saja yang ingkar. Oleh karena itu, Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu berubah menjadi keji dan menakutkan. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikaruniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itupun aku masih belum puas dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga hari kiamat kelak.
Sebelum engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia, tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadah dan balasan pahala serta syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia dan memberitahu manusia yang lain tentang apa yang sebenarnya aku dapatkan dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan kehancuran.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak diijinkan oleh Allah untuk naik ke langit dan mencuri rahasia karena banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku memaksa untuk naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tentaraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu, maka semakin beratlah pekerjaanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut manusia”.
Pertanyaan Nabi (4) :
Rasullullah bertanya “Hai Iblis! Apa yang pertama kali kau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis : “Pertama kali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir dan juga dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, akan aku tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikuti kemauanku”.
Pertanyaan Nabi (5) :
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Sungguh penderitaan yang sangat besar. Gemetarlah badanku dan lemah tulang sendiku, maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda manusia pada setiap anggota badannya.
Beberapa iblis datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, lupa bilangan raka’atnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, hilang khusyuknya, matanya senantiasa melirik ke kanan dan ke kiri, telinganya senantiasa mendengar percakapan orang dan bunyi-bunyi yang lain.
Beberapa iblis yang lain duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya tidak kuat sujud berlama-lama, penat waktu duduk tahiyat dan dalam hatinya selalu merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, itu semua membuat berkurangnya pahala. Jika para iblis tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan hukuman yang berat”.
Pertanyaan Nabi (6) :
“Jika umatku membaca Al-Qur’an karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Jika mereka membaca Al-Qur’an karena Allah, maka terbakarlah tubuhku, putuslah seluruh uratku lalu aku lari dan menjauh darinya”.
Pertanyaan Nabi (7) :
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis : “Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”.
Pertanyaan Nabi (8) :
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis : “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya buatku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatat dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemudian orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya dan dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa, barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasanya”.
Pertanyaan Nabi (9) :
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis : “Seluruh sahabatmu termasuk musuh besarku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satupun tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata : “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk”.
Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Lagipula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Sayyidatina Aisyah yang juga banyak menghafal Hadits-haditsmu.
Adapun Sayyidina Umar bin Khatab, aku tidak berani memandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah seluruh tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan : “Jikalau ada Nabi sesudah aku, maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Sayyidina Usman bin Affan, aku tidak bisa bertemu karena lidahnya senantiasa membaca Al-Qur’an. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak 2 (dua) kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang menghampiri dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan : “Barangsiapa menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim pada kitab atau kertas-kertas dengan tinta merah, niscaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid”.
Sayyidina Ali bin Abi Thalibpun aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadah dan beliau adalah golongan orang pertama yang memeluk agama Islam serta tidak pernak menundukkan kepalanya kepada berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu” dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata : “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Lagipula dia menjadi menantumu, aku semakin ngeri kepadanya”.
Pertanyaan Nabi (10) :
“Bagaimana tipu dayamu kepada umatku?”
Jawab Iblis : “Umatmu itu ada 3 (tiga) macam. Yang pertama, seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril as : “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat”. Yang kedua, umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal saleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga, umatmu seperti Fir’aun, terlampau tamak dengan harta dunia dan dihilangkan amal akhirat, maka akupun bersuka cita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku ajak kemana saja mengikuti kemauanku. Jadi dia selalu bimbang kepada dunia dan tidak mau menuntut ilmu, tidak pernah beramal saleh, tidak mau mengeluarkan zakat dan malas beribadah.
Lalu aku goda agar manusia minta kekayaan lebih dulu dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka aku rayu supaya lupa beramal, tidak membayar zakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia selalu bimbang akan hartanya dan berangan-angan hendak merebut kemewahan dunia, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan”.
Pertanyaan Nabi (11) :
“Siapa yang serupa denganmu?”
Jawab Iblis : “Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang yang belajar agama Islam”.
Pertanyaan Nabi (12) :
“Siapa yang membuat mukamu bercahaya?”
Jawab Iblis : “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu dan suka ingkar janji”.
Pertanyaan Nabi (13) :
“Apa yang kau rahasiakan dari umatku?”
Jawab Iblis : “Jika seorang Muslim buang air besar dan tidak membaca do’a terlebih dahulu, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari”.
Pertanyaan Nabi (14) :
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, apa yang kau lakukan?”
Jawab Iblis : “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya dan membaca do’a pelindung syaitan, maka aku lari dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak, maka anak itu akan gemar berbuat maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku santap makanannya lebih dulu daripadanya. Walaupun mereka makan, tidaklah mereka merasa kenyang”.
Pertanyaan Nabi (15) :
“Apa yang dapat menolak tipu dayamu?”
Jawab Iblis : “Jika berbuat dosa, maka cepat-cepatlah bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah, segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya”.
Pertanyaan Nabi (16) :
“Siapakah orang yang paling engkau sukai?”
Jawab Iblis : “Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu”.
Pertanyaan Nabi (17) :
“Hai Iblis! Siapakah saudaramu?”
Jawab Iblis : “Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka di waktu Subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian juga pada waktu Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat”.
Pertanyaan Nabi (18) :
“Apa yang dapat membinasakan dirimu?”
Jawab Iblis : “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Qur’an dan sholat tengah malam”.
Pertanyaan Nabi (19) :
“Hai Iblis! ?” Apa yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang duduk di dalam masjid dan beri’tikaf di dalamnya”.
Pertanyaan Nabi (20) :
“Apa lagi yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang taat kepada kedua ibu bapaknya, mendengar kata mereka, membantu makan, pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda : Syurga itu di bawah tapak kaki ibu”.
Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.
Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan berkata : “Hai Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw. Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur.
Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih”.
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan, maka segera ia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar sebagai orang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai yang panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam sampai 3 (tiga) kali salam, Rasulullah saw tidak juga menjawabnya, maka Iblis berkata : “Ya Rasullullah! Mengapa engkau tidak menjawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah : “Hai musuh Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Jangan kau coba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam as sehingga beliau keluar dari syurga, kau hasut Qabil sehingga ia tega membunuh Habil yang masih saudaranya sendiri, ketika sedang sujud dalam sembahyang kau tiup Nabi Ayub as dengan asap beracun sehingga beliau sengsara untuk beberapa lama, kisah Nabi Daud as dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wa jalla, tapi aku diharamkan Allah menjawab salammu. Aku mengenalmu dengan baik wahai Iblis, Raja segala Iblis. Apa tujuanmu menemuiku?”.
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Engkau dapat mengenaliku karena engkau adalah Khatamul Anbiya. Aku datang atas perintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam as hingga akhir zaman nanti. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, aku tidak berani menyembunyikannya”.
Kemudian Iblispun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata : “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatahpun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu”.
Ketika mendengar sumpah Iblis itu, Nabipun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah kesempatanku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar seluruh sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1) :
“Hai Iblis! Siapakah musuh besarmu?”
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara musuh-musuhku di muka bumi ini”.
Kemudian Nabipun memandang muka Iblis dan Iblispun gemetar karena ketakutan. Sambung Iblis : “Ya Khatamul Anbiya! Aku dapat merubah diriku seperti manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suarapun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah. Andaikan aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu.
Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu juga aku berusaha menarik mereka kepada kekafiran, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan yang benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku”.
Pertanyaan Nabi (2) :
“Hai Iblis! Apa yang kau perbuat terhadap makhluk Allah?”
Jawab Iblis : “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, berbuai dengan makanan dan minuman, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda, emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan yang haram.
Demikian juga ketika pesta di mana lelaki dan perempuan bercampur. Di sana aku lepaskan godaan yang besar supaya mereka lupa peraturan dan akhirnya minum arak. Apabila terminum arak itu, maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga perbuatan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka sadar akan kesalahan mereka lalu hendak bertaubat dan berbuat amal ibadah, akan aku rayu supaya mereka membatalkannya. Semakin keras aku goda supaya mereka berbuat maksiat dan mengambil isteri orang. Jika hatinya terkena godaanku, datanglah rasa ria’, takabur, iri, sombong dan melengahkan amalnya. Jika lidahnya yang tergoda, maka mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat”.
Pertanyaan Nabi (3) :
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambah laknat yang besar dan siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?
Jawab Iblis : “Semuanya itu adalah anugerah dari Allah Yang Maha Besar. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa diriku telah beribu-ribu tahun menjadi Ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke langit yang lebih tinggi. Kemudian aku tinggal di dunia ini beribadah bersama para Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan manusia yang pertama (Nabi Adam as) dan seluruh Malaikat diperintah supaya memberi hormat sujud kepada lelaki itu, hanya aku saja yang ingkar. Oleh karena itu, Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu berubah menjadi keji dan menakutkan. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikaruniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itupun aku masih belum puas dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga hari kiamat kelak.
Sebelum engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia, tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadah dan balasan pahala serta syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia dan memberitahu manusia yang lain tentang apa yang sebenarnya aku dapatkan dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan kehancuran.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak diijinkan oleh Allah untuk naik ke langit dan mencuri rahasia karena banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku memaksa untuk naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tentaraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu, maka semakin beratlah pekerjaanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut manusia”.
Pertanyaan Nabi (4) :
Rasullullah bertanya “Hai Iblis! Apa yang pertama kali kau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis : “Pertama kali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir dan juga dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, akan aku tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikuti kemauanku”.
Pertanyaan Nabi (5) :
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Sungguh penderitaan yang sangat besar. Gemetarlah badanku dan lemah tulang sendiku, maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda manusia pada setiap anggota badannya.
Beberapa iblis datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, lupa bilangan raka’atnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, hilang khusyuknya, matanya senantiasa melirik ke kanan dan ke kiri, telinganya senantiasa mendengar percakapan orang dan bunyi-bunyi yang lain.
Beberapa iblis yang lain duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya tidak kuat sujud berlama-lama, penat waktu duduk tahiyat dan dalam hatinya selalu merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, itu semua membuat berkurangnya pahala. Jika para iblis tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan hukuman yang berat”.
Pertanyaan Nabi (6) :
“Jika umatku membaca Al-Qur’an karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Jika mereka membaca Al-Qur’an karena Allah, maka terbakarlah tubuhku, putuslah seluruh uratku lalu aku lari dan menjauh darinya”.
Pertanyaan Nabi (7) :
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis : “Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”.
Pertanyaan Nabi (8) :
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis : “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya buatku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatat dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemudian orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya dan dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa, barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasanya”.
Pertanyaan Nabi (9) :
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis : “Seluruh sahabatmu termasuk musuh besarku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satupun tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata : “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk”.
Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Lagipula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Sayyidatina Aisyah yang juga banyak menghafal Hadits-haditsmu.
Adapun Sayyidina Umar bin Khatab, aku tidak berani memandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah seluruh tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan : “Jikalau ada Nabi sesudah aku, maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Sayyidina Usman bin Affan, aku tidak bisa bertemu karena lidahnya senantiasa membaca Al-Qur’an. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak 2 (dua) kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang menghampiri dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan : “Barangsiapa menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim pada kitab atau kertas-kertas dengan tinta merah, niscaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid”.
Sayyidina Ali bin Abi Thalibpun aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadah dan beliau adalah golongan orang pertama yang memeluk agama Islam serta tidak pernak menundukkan kepalanya kepada berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu” dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata : “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Lagipula dia menjadi menantumu, aku semakin ngeri kepadanya”.
Pertanyaan Nabi (10) :
“Bagaimana tipu dayamu kepada umatku?”
Jawab Iblis : “Umatmu itu ada 3 (tiga) macam. Yang pertama, seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril as : “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat”. Yang kedua, umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal saleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga, umatmu seperti Fir’aun, terlampau tamak dengan harta dunia dan dihilangkan amal akhirat, maka akupun bersuka cita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku ajak kemana saja mengikuti kemauanku. Jadi dia selalu bimbang kepada dunia dan tidak mau menuntut ilmu, tidak pernah beramal saleh, tidak mau mengeluarkan zakat dan malas beribadah.
Lalu aku goda agar manusia minta kekayaan lebih dulu dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka aku rayu supaya lupa beramal, tidak membayar zakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia selalu bimbang akan hartanya dan berangan-angan hendak merebut kemewahan dunia, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan”.
Pertanyaan Nabi (11) :
“Siapa yang serupa denganmu?”
Jawab Iblis : “Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang yang belajar agama Islam”.
Pertanyaan Nabi (12) :
“Siapa yang membuat mukamu bercahaya?”
Jawab Iblis : “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu dan suka ingkar janji”.
Pertanyaan Nabi (13) :
“Apa yang kau rahasiakan dari umatku?”
Jawab Iblis : “Jika seorang Muslim buang air besar dan tidak membaca do’a terlebih dahulu, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari”.
Pertanyaan Nabi (14) :
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, apa yang kau lakukan?”
Jawab Iblis : “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya dan membaca do’a pelindung syaitan, maka aku lari dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak, maka anak itu akan gemar berbuat maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku santap makanannya lebih dulu daripadanya. Walaupun mereka makan, tidaklah mereka merasa kenyang”.
Pertanyaan Nabi (15) :
“Apa yang dapat menolak tipu dayamu?”
Jawab Iblis : “Jika berbuat dosa, maka cepat-cepatlah bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah, segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya”.
Pertanyaan Nabi (16) :
“Siapakah orang yang paling engkau sukai?”
Jawab Iblis : “Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu”.
Pertanyaan Nabi (17) :
“Hai Iblis! Siapakah saudaramu?”
Jawab Iblis : “Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka di waktu Subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian juga pada waktu Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat”.
Pertanyaan Nabi (18) :
“Apa yang dapat membinasakan dirimu?”
Jawab Iblis : “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Qur’an dan sholat tengah malam”.
Pertanyaan Nabi (19) :
“Hai Iblis! ?” Apa yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang duduk di dalam masjid dan beri’tikaf di dalamnya”.
Pertanyaan Nabi (20) :
“Apa lagi yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang taat kepada kedua ibu bapaknya, mendengar kata mereka, membantu makan, pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda : Syurga itu di bawah tapak kaki ibu”.
Rabu, 27 Maret 2013
SAIYIDINA ABU BAKAR AS-SIDDIQ R.A.
Nama Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq
R.A. adalah tidak asing lagi bagi sekelian ummat Islam,
baik dahulu mahupun sekarang. Dialah manusia yang
dianggap paling teragung dalam sejarah Islam sesudah
Rasulullah S.A.W. Kemuliaan akhlaknya, kemurahan hatinya
dalam mengorbankan harta benda dan kekayaannya,
kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah ummat,
ketenangannya dalam menghadapi kesukaran, kerendahan
hatinya ketika berkuasa serta tuturbahasanya yang lembut
lagi menarik adalah sukar dicari bandingannya balk
dahulu mahupun sekarang. Dialah tokoh sahabat terbilang
yang paling akrab dan paling disayangi oleh Rasulullah
S.A.W.
Nama sebenar Saiyidina Abu Bakar
Al-Siddiq adalah Abdullah Bin Qahafah. Sebelum Islam,
beliau adalah seorang saudagar yang tersangat kaya serta
datangnya dan keluarga bangsawan yang sangat dihormati
oleh masyarakat Quraisy. Bahkan sebelum memeluk Islam
lagi, Abu Bakar telah terkenal sebagai seorang pembesar
Quraisy yang tinggi akhlaknya dan tidak pernah minum
arak sebagaimana yang lazimnya dilakukan oleh
pembesar-pembesar Quraisy yang lain.
Dan segi umur, Saiyidina Abu Bakar
R.A. adalah dua tahun lebih muda dan Rasulullah S.A.W.
dan telah menjalin persahabatan yang akrab dengan
baginda Rasul lama sebelum Rasulullah S.A.W. menjadi
Rasul. Beliaulah tokoh sahabat besar yang dianggap
paling banyak sekali berkorban harta benda untuk
menegakkan agama Islam di samping Nabi Muhammad S.A.W.
Kerana besarnya pengorbanan beliau itulah Rasulullah
S.A.W. pernah mengatakan bahawa Islam telah tegak di
atas harta Siti Khadijah dan pengorbanan Saiyidina Abu
Bakar R.A. Adapun gelaran Al-Siddiq yang diberikan
kepadanya itu adalah kerana sikapnya yang selalu
membenarkan apa sahaja kata-kata mahupun perbuatan Nabi
Muhammad S.A.W. Dalam hal ini elok kita petik suatu
kisah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud yang
dicenitakan sendiri kepadanya oleh Saiyidina Abu Bakar,
tentang bagaimana Saiyidina Abu Bakar R.A. memeluk agama
Islam.
Kata Saiyidina Abu Bakar R.A. ketika
menceritakan suatu kisah mengenai dirinya kepada Ibnu
Mas'ud, "Aku pernah mengunjungi seorang tua di negeri
Yaman. Dia rajin membaca kitab-kitab dan mengajar banyak
munid. Dia berkata kepadaku:
"Aku kira tuan datang dan Tanah
Haram.
"Benar, jawabku.
"Aku kira tuan berbangsa Quraisy?
"Benar, ujarku lagi.
"Dan apa yang aku lihat, tuan dan
keluarga Bani Taiyim?
"Benarlah begitu, tambahku
selanjutnya.
Orang tua itu terus menyambung,
katanya, "Ada satu lagi hal yang hendak aku tanyakan
dari tuan, iaitu tentang diri tuan sendiri. Apakah tak
keberatan jika aku lihat perutmu?
Maka pada ketika itu aku pun berkata,
"Aku keberatan hendak memperlihatkan selagi tuan tidak
nyatakan kepadaku perkara yang sebenarnya.
Maka ujar orang tua itu, "Aku
sebenarnya melihat dalam ilmuku yang benar bahawa
seorang Nabi Allah akan diutus di Tanah Haram. Nabi itu
akan dibantu oleh dua onang sahabatnya, yang seorang
masih muda dan seorang lagi sudah separoh umur.
Sahabatnya yang muda itu berani berjuang dalam segenap
lapangan dan menjadi pelindungnya dalam sebarang
kesusahan. Sementara yang separoh umur itu putih
kulitnya dan berbadan kurus, ada tahi lalat di perutnya
dan ada suatu tanda di paha kirinya. Apalah salahnya
kalau tuan perlihatkan kepadaku.
Maka sesudah dia berkata itu aku pun
membuka pakaianku lalu orang tua itu pun melihatlah tahi
lalat hitam di atas bahagian pusatku seraya berkata,
"Demi Tuhan yang menguasai Kaabah, tuanlah orangnya itu!
Kemudian orang tua itu pun memberi
sedikit nasihat kepadaku. Aku tinggal di Yaman untuk
beberapa waktu kenana mengurusi perniagaanku dan sebelum
meninggalkan negeri itu aku sekali lagi pergi menemui
orang tua tersebut untuk mengucapkan selamat tinggal
kepadanya. Kemudian dia lalu bertanya, "Bolehkah tuan
menyampaikan beberapa rangkap syairku?
"Boleh sahaja, jawabku.
Setelah itu aku pun membawa pulang
syair-syair itu ke Mekah. Setibanya aku di Mekah, para
pemuda bergegas datang menemuiku seraya berkata, "Adakah
engkau tahu yang sudah terjadi? Maka ujarku pula,
"Apakah yang terjadi itu?
Jawab mereka, "Si yatim Abu Talib
kini mengaku menjadi Nabi! Kalaulah tidak mengingat
engkau hai Abu Bakar, sudah lama kami selesaikan dia.
Engkaulah satu-satunya yang kami harapkan untuk
menyelesaikannya.
Kemudian aku pun meminta mereka
pulang dahulu sementara aku sendiri pergi menemui
Muhammad. Setelah menemuinya aku pun mengatakan, "Wahai
Muhammad, tuan telah mencemarkan kedudukan keluarga tüan
dan aku mendapat tahu tuan terang-terang telah
menyeleweng dan kepercayaan nenek moyang kita.
Maka ujar baginda, "Bahawa aku adalah
Pesuruh Allah yang diutuskan untukmu dan untuk sekelian
ummat!
Aku pun bertanya kepada baginda, "Apa
buktinya?
Jawabnya, "Orang tua yang engkau
temui di Yaman tempoh hari.
Aku menambah lagi, "Orang tua yang
mana satukah yang tuan maksudkan kerana ramai orang tua
yang aku temui di Yaman itu?
Baginda menyambung, "Orang tua yang
mengirimkan untaian syair kepada engkau!
Aku terkejut mendengarkannya lalu
bertanya, "Siapakah yang telah memberitahu tuan, wahai
sahabatku?
Maka ujar baginda, "Malaikat yang
pernah menemui Nabi-nabi sebelumku.
Akhirnya aku benkata, "Hulurkan
tangan tuan, bahawa dengan sesungguhnya aku naik saksi
tiada Tuhan yang kusembah melainkan Allah, dan tuan
(Muhammad) sebenarnya Pesuruh Allah.
Demikianlah kisah indah yang
meniwayatkan bagaimana Islamnya Saiyidina Abu Bakan
Al-Siddiq. Dan memanglah menurut riwayat beliau
merupakan lelaki yang pertama yang beriman kepada
Rasulullah S.A.W.
Keislaman Saiyidina Abu Bakan
Al-Siddiq R.A. telah membawa penganuh besar di kalangan
kaum bangsawan Quraisy kerana dari pengaruh keislamannya
itulah maka beberapa orang pemuda bangsawan Quraisy
seperti Saiyidina Uthman Bin Affan, Abdul Rahman Bin
Auf, dan Saad Bin Waqqas menuruti jejak langkahnya.
Semenjak beliau memeluk Islam, Saiyidina Abu Bakan R.A.
telah menjadi pembela Islam yang paling utama serta
seorang sahabat yang paling akrab serta paling dicintai
oleh Rasulullah S.A.W. Sebagai memperlihatkan kecintaan
baginda terhadap Saiyidina Abu Bakar R.A., dapat kita
ketahui dan satu dialog yang terjadi antara baginda
Rasul dengan Amru Bin Al As. Amru seorang sahabat
Rasulullah S.A.W. pernah suatu han menanyakan Rasul,
"Siapakah di antara manusia yang paling tuan sayangi?
Baginda menjawab, "Siti Aisyah, dan kalau laki-laki
adalah bapanya.
Selain danipada itu Saiyidina Abu
Bakar Al-Siddiq R.A. adalah seonang sahabat yang
terkenal kerana keteguhan imannya, cendas akal, tinggi
akhlak, lemah lembut dan penyantun. Rasulullah S.A.W.
pernah menyanjungi sahabatnya itu dengan sabdanya, "Jika
ditimbang iman Abu Bakan Al-Siddiq dengan iman sekelian
ummat maka berat lagi iman Abu Bakan. Demikian teguhnya
iman Saiyidina Abu Bakan R.A. demi apakala kita
memperhatikan pengertian yang terkandung pada sabda
Rasulullah S.A.W. mengenai dirinya itu. Gelaran AlSiddiq
yang dibenikan orang terhadap diri Saiyidina Abu Bakan
R.A. adalah lantaran memandang sikap serta pendiriannya
yang teguh dalam membenarkan serta membela din
Rasulullah S.A.W. Andainya sekelian ummat manusia akan
mendustakan Muhammad S.A.W. Abu Bakar R.A. akan pasti
pula tampil dengan penuh keyakinan untuk membelanya.
Tidak beberapa lama setelah memeluk
agama Islam, Saiyidma Abu Bakar yang terkenal sebagai
saudagar yang kaya itu telah meninggalkan perdagangannya
dan meninggalkan semua usaha peribadi lain-lainnya lalu
menyerahkan segenap kekayaan dan jiwa raganya untuk
melakukan penjuangan menegakkan Islam bersama Nabi
Muhammad S.A.W. sehingga oleh kerana kegiatannya maka
Agama Islam mendapat kemegahan dengan Islamnya beberapa
pemuda Quraisy yang lain seperti yang telah disebutkan
itu. Beliau telah mengorbankan seluruh hanta bendanya
untuk menebus orang-orang yang ditawan, orang-orang yang
ditangkap atau disiksa. Selain danpada itu beliau juga
telah membeli hamba-hamba yang kemudian dimerdekakannya.
Salah seorang hamba yang dibelinya lalu kemudian
dibebaskan yang paling terkenal dalam sejarah ialah
Bilal Bin Rabah.
Tatkala Nabi Muhammad selesai
melakukan Isra' dan Mikraj segolongan orang yang kurang
mempercayai apa yang telah dikhabarkan Rasulullah S.A.W.
telah pergi menemui Saiyidina Abu Bakan R.A. untuk
mendengarkan apa pendapatnya tentang dakwaan Muhammad
S.A.W. itu. Tujuan kedatangan mereka mendapatkan Abu
Bakar R.A. tidak lain dengan prasangka tentunya Abu
Bakar R.A. kali ini akan mendustakan kisah yang tidak
masuk akal pada fikiran mereka itu. Setelah pertanyaan
itu disampaikan kepada Abu Bakar R.A. lalu beliau pun
berkata, "Adakah Muhammad berkata begitu? Sahut mereka,
"Benar! Maka ujar Saiyidina Abu Bakar R.A. "Jika
Muhammad berkata begitu maka sungguh benarlah apa yang
diceritakan itu. Lalu mereka pun terus menyambung,
"Engkau percaya hai Abu Bakar bahawa Muhammad sampai ke
tanah Syam lebih sebulan perjalanan pulang, di malam
semalam tadi? Maka sahut Abu Bakan sungguh-sungguh,
"Benar! Aku percaya! Malah lebih dan itu aku percaya
kepadanya. Aku percaya akan berita dan langit
diberitakannya baik pada waktu slang mahupun di waktu
malam! Demikian hebatnya sambutan sahabat yang paling
utama itu. Kerana tegas dan teguhnya iman beliau
terhadap agama yang dibawa oleh Muhammad dan terhadap
apa yang dikhabarkan oleh baginda maka beliau telah
diberi oleh Rasulullah S.A.W. dengan gelaran Al-Siddiq,
entinya yang benar.
Dan memanglah tidak menghairankan
sekali sikap Abu Bakar itu. Beliau telah kenal akan
Muhammad S.A.W. bukan sehari dua, melainkan sudah boleh
dikatakan seumur manusia. Beliau tahu bahawa sahabatnya
itu benkata benar, tak pernah bohong; orang amin.
Mustahil baginda akan khianat kepada pengikutnya yang
pencaya kepadanya. Beliau mengimani sahabatnya itu
Pesunuh Allah Yang Maha Kuasa, menenima wahyu danipada
Tuhannya. Beliau sudah bertahun-tahun mengikutkan
petunjuk yang diwahyukan oleh Allah kepada sahabatnya
itu maka telah teguhlah iman dalam hatinya.
Tatkala keadaan kekejaman orang-orang
musynikin Quraisy tenhadap kaum Muslimin yang sedikit
jumlahnya di Mekah semakin hebat dan membahayakan, Nabi
Muhammad S.A.W. telah mengadakan permusyuaratan di numah
Saiyidina Abu Bakan R.A. untuk mencani jalan keluar
danipada kesulitan yang sedang dihadapi oleh pihak kaum
Muslimin. Ketika itulah Rasulullah S.A.W. menjelaskan
kepada Saiyidina Abu Bakan R.A. bahawa Allah S.W.T.
telah memerintahkan baginda supaya melakukan hijrah ke
Madinah serta meminta Saiyidina Abu Bakar R.A. supaya
menemaninya dalam peristiwa hijrah tersebut. Dengan
perasaan gembira tanpa sedikit kebimbanganpun Saiyidina
Abu Bakar R.A. menyambut penmintaan Rasulullah S.A.W.
Dari pintu belakang rumah Saiyidina
Abu Bakar R.A. Rasulullah S.A.W. bersama-sama Saiyidina
Abu Bakar menuju ke Gunung Tsaur dan bersembunyi di gua
yang dibeni nama Gua Tsaur. Pada saat suasana amat
kritis, Saiyidina Abu Bakar R.A. diserang rasa
kegelisahan dan cemas kerana khuatir kalau-kalau musuh
dapat mengetahui di mana Rasulullah sedang bensembunyi,
maka pada saat itu turun ayat suci Al Quran dari Surah
Taubah yang isinya memuji Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq,
sebagai orang kedua sesudah Nabi s,a.w. dalam Gua Tsaur.
Dalam pada itu Rasulullah S.A.W. pun mengerti akan
situasi dan kegelisahan sahabatnya itu yang oleh
kerananya Rasul benkata, "Apakah yang menggelisahkanmu,
bukankah Allah menemani kita?
Kemudian Rasulullah S.A.W.,
diriwayatkan berkata selanjutnya untuk menghilangkan
kebimbangan Saiyidina Abu Bakan, "Kiranya mereka masuk
juga ke dalam gua ini kita masih dapat melepaskan diri
dari pintu belakang itu, ujar Rasul sambil menunjukkan
ke belakang mereka. Saiyidina Abu Bakar R.A. pun menoleh
ke belakang. Betapa terkejutnya beliau bila dilihatnya
pintu belakang yang ditunjuk oleh Rasul itu, padahal
pintu tersebut tadinya tidak ada sama sekali. Sebenarnya
kebimbangan Abu Bakar R.A. tatkala di dalam gua itu
bukanlah kerana takutkan nyawanya akan diragut oleh
pihak musuh tetapi yang lebih dibimbangkannya ialah
keselamatan jiwa baginda Rasul. Beliau pennah berkata,
"Yang saya bimbangkan bukanlah mengenai diri saya
sendiri, kalau saya terbunuh, yang tewas hanyalah
seorang manusia biasa. Tapi andaikata tuan sendiri dapat
dibunuhnya maka yang akan hancur ialah satu cita-cita
yang suci murni. Yang akan runtuh ialah keadilan dan
yang akan tegak pula ialah kezaliman.
Ucapan antara dua orang sahabat
tatkala dalam gua itu ada tersebut dalam Al Quran dalam
Surah Al Taubah ayat 40:
إِلَّا
تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ
الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي
الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ
اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ
وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ
الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ
الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (40)
"Kalau kamu tidak menolongnya
(Muhammad) ketika dia diusir oleh orang-orang kafir (dan
kampung halamannya), dalam keadaan berdua orang sahaja
di dalam suatu gua, Di kala itu dia (Muhammad) berkata
kepada sahabat karibnya (Abu Bakar): Jangan engkau
berdukacita; sesungguhnya Tuhan bensama kita. Tuhan
menurunkan ketenanganNya kepadanya, dan dikuatkannya
dengan tentera yang tidak kamu lihat. Dan Tuhan
menjadikan perkataan orang yang kafir itu paling rendah
dan perkataan Tuhan itu yang amat tinggi. Dan Tuhan Maha
Kuasa dan Bijaksana.
Demikian satu lagi keistimewaan
Saiyidina Abu Bakar AlSiddiq sebagai seorang sahabat
yang sama-sama mengalami kesukaran dan kepahitan
bersama-sama Rasulullah dalam menyampaikan seruan Islam.
Saiyidina Abu Bakar R.A. tidak bercerai jauh dengan
baginda Rasul sepanjang hidupnya dan menyertai semua
peperangan yang dihadapi oleh baginda. Beliau bukan
sahaja berjuang menegakkan Agama Islam dengan segenap
jiwa raganya bahkan juga dengan harta kekayaannya.
Sungguh beliaulah yang paling banyak sekali berkorban
harta untuk menegakkan Agama Islam. Bahkan seluruh
kekayaannya telah habis dipergunakannya untuk
kepentingan penjuangan menegakkan kalimah Allah. Di
kalangan para sahabat beliaulah tergolong onang yang
paling murah hati dan dermawan sekali.
Dalam Perang Tabuk misalnya,
Rasulullah S.A.W. telah meminta kepada sekelian kaum
Muslimin agar mengorbankan hartanya pada jalan Allah.
Tiba-tiba datanglah Saiyidina Abu Bakan R.A. membawa
seluruh harta bendanya lalu meletakkannya di antara dua
tangan baginda Rasul. Melihat banyaknya harta yang
dibawa oleh Saiyidina Abu Bakar R.A., bagi tujuan jihad
itu maka Rasulullah S.A.W. menjadi terkejut lalu berkata
kepadanya:
"Hai sahabatku yang budiman, kalau
sudah semua hanta bendamu kau korbankan apa lagi yang
akan engkau tinggalkan buat anak-anak dan isterimu?
Pertanyaan Rasulullah S.A.W. itu
dijawab oleh Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dengan tenang
sambil tersenyum, ujarnya. "Saya tinggalkan buat mereka
Allah dan RasulNya.
Allah telah merakamkan kedermawanan
Abu Bakar dalam ayat 18-21 surah al-Lail.
الَّذِي
يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (18) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ
مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ
رَبِّهِ الْأَعْلَى (20) وَلَسَوْفَ يَرْضَى (21)
"Yang mendermakan hartanya
dengan tujuan membersihkan dirinya dan harta bendanya,
Sedang dia tidak menanggung budi sesiapapun, yang patut
di balas, Hanyalah mengharapkan keredaan Tuhannya Yang
Maha Tinggi; Dan demi sesungguhnya, dia tetap akan
berpuas hati (pada hari akhirat, dengan mendapat segala
yang diharapkannya)". ayat 18-21 Surah
al-Lail.
Demikianlah kehebatan jiwa Saiyidina
Abu Bakar AlSiddiq, suatu contoh kemurahan hati yang
memang tidak dijumpai bandingannya di dunia.
Memandangkan besarnya pengorbanan beliau terhadap Islam
maka wajarlah kalau Rasulullah bersabda bahawa tegaknya
Agama Islam itu adalah lantaran hanta benda Siti
Khadijah dan juga Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq.
Tepatlah juga tatkala baginda bersabda bahawa kiranya
iman seluruh ummat ditimbang bersama iman Saiyidina Abu
Bakan R.A. maka berat lagi iman Saiyidina Abu Bakan R.A.
Beliau memang manusia luar biasa kebesarannya yang telah
ditakdirkan oleh Allah S.W.T. untuk menjadi teman akrab
Rasulullah s.a.w
Pada suatu ketika di saat Rasulullah
membaca khutbah yang antara lain menyatakan bahawa
kepada seseorang hamba Allah ditawarkan untuk memilih
dunia dan memilih ganjaran yang tersedia di sisi Allah,
dan hamba Allah tersebut tidak akan memilih dunia,
melainkan memilih apa yang tersedia di sisi Tuhan...
Maka ketika meñdengar khutbah Nabi demikian itu
Saiyidina Abu Bakar R.A. lalu menangis tersedu-sedu,
kenana sedih dan terharu sebab beliau mendengar dan
mengerti bahawa yang dimaksud dalam isi khutbah tersebut
ialah bahawa umur kehidupan Rasul di dunia ini sudah
hampir berakhir. Demikian kelebihan Saiyidina Abu Bakar
R.A. di- banding dengan para sahabat yang lain kerana
beliaulah yang mengetahui bahawa umur Rasul hampir
dekat.
Keunggulan beliau dapat dilihat
dengan jelas selepas wafatnya Rasulullah S.A.W. di kala
mana ummat Islam hampir-hampir menjadi panik serta tidak
percaya kepada kewafatannya. Bahkan sahabat besar
Saiyidina Umar Al Khattab sendiri telah diselubungi
kekacauan fikinan dan tampil ke muka umum sambil
mencabar dan mengugut sesiapa sahaja yang berani
mengatakan baginda telah wafat. Ujan Umar n.a.,
"Rasulullah tidak wafat, dia hanya pergi menghadap Allah
sahaja seperti perginya Nabi Musa yang telah
menghilangkan diri dan kaumnya selama empat puluh hari,
kemudian pulang semula kepada kaumnya setelah
diheboh-hebohkan wafatnya.
Ketika kegawatan itu berlaku
Saiyidina Abu Bakar sedang berada di suatu kampung
Al-Sunnah. Tatkala berita kewafatan Rasulullah itu
sampai kepadanya, beliau dengan segera menuju ke
Madinah. Di sana beliau dapati ramai orang sedang
benkumpul mendengarkan pidato Saiyidina Umar Al Khattab
tadi. Tanpa lengah-lengah lagi Saiyidina Abu Bakar terus
ke rumah puterinya Siti Aisyah dan di sanalah beliau
dapati mayat Rasulullah S.A.W. terbujur di satu sudut
rumah. Beliau lantas membuka wajah Rasulullah dan
mengucupkannya, sambil berkata, "Wahai, betapa cantiknya
engkau ketika hidup dan betapa cantiknya engkau ketika
mati! Kemudian beliau pun keluar mendapatkan orang ramai
yang sedang dalam panik itu lalu berkata dengan nada
yang keras:
أَيّهَا
النّاسُ إنّهُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمّدًا فَإِنّ
مُحَمّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللّهَ فَإِنّ
اللّهَ حَيّ لَا يَمُوتُ .
"Wahai kaum Muslimin! Barangsiapa
yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati.
Tetapi barangsiapa yang menyembah Allah maka Allah
selama-lamanya hidup tidak mati.
Seraya menyambung
membacakan sepotong ayat dan Al Qun'an:
وَمَا
مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ
الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى
أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ
يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
(144)
"Muhammad itu tidak lebih dari
seorang rasul seperti rasul-rasul yang terdahulu
darinya. Jika ia mati atau terbunuh patutkah kamu
berundur ke belakang. Sesiapa yang surut ke belakang,
dia tidak akan membahayai Allah sedikit pun dan
sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada
orang-orang yang bersyukur. Ali Imran
: 114
Sejurus sahaja mendengar ayat itu,
Saiyidina Umar Al Khattab pun terus rebah hingga barulah
beliau dan orang ramai Islam yang telah mendengar
pidatonya tadi mendapat kepastian bahawa Rasulullah
sudah wafat. Kaum Muslimin tentunya telah pernah dengar
ayat ini sebelumnya, kerana ayat itu telah turun semasa
peperangan Uhud, ketika Rasulullah S.A.W. telah
diberitakan mati terkorban dan menyebabkan banyak
pejuang-pejuang Islam berundur ke Madinah. Tetapi mereka
tidaklah memahami maksud ayat ini seperti yang difahami
oleh Saiyidina Abu Bakar R.A. Ini jelas membuktikan
kecerdasan Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dalam memahami
Islam.
Ketika Rasulullah S.A.W. wafat,
baginda memang tidak meninggalkan pesan tentang siapa
yang patut menggantikan baginda sebagai Khalifah ummat
Islam. Tetapi setelah lama berbincang kaum Muslimin
dengan suara ramai memilih Saiyidma Abu Bakan Al-Siddiq
sebagai Khalifah setelah namanya itu dicalunkan oleh
Saiyidina Umar Ibnul Khattab R.A. Pemilihan ini tentulah
tepat sekali kenana pada pandangan kaum Muslimin memang
beliaulah yang paling layak sekali memegang kedudukan
itu memandangkan kelebihan-kelebihannya dari para
sahabat yang lain. Apatah lagi beliaulah yang pernah
ditunjuk oleh baginda Rasul semasa hayatnya untuk
menggantikan baginda sebagai imam sembahyang tatkala
baginda sedang uzur.
Setelah dipilih oleh sebahagian besar
ummat ketika itu Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq pun
memberikan ucapannya yang tenkenal yang antana lainnya
baginda berkata:
أَيّهَا
النّاسُ فَإِنّي قَدْ وُلّيت عَلَيْكُمْ وَلَسْت
بِخَيْرِكُمْ فَإِنْ أَحْسَنْت فَأَعِينُونِي ؛ وَإِنْ
أَسَأْت فَقَوّمُونِي ؛ الصّدْقُ أَمَانَةٌ وَالْكَذِبُ
خِيَانَةٌ وَالضّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيّ عِنْدِي حَتّى
أُرِيحَ عَلَيْهِ حَقّهُ إنْ شَاءَ اللّهُ وَالْقَوِيّ
فِيكُمْ ضَعِيفٌ عِنْدِي حَتّى آخُذَ الْحَقّ مِنْهُ إنْ
شَاءَ اللّهُ لَا يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ
اللّهِ إلّا ضَرَبَهُمْ اللّهُ بِالذّلّ وَلَا تَشِيعُ
الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطّ إلّا عَمّهُمْ اللّهُ
بِالْبَلَاءِ أَطِيعُونِي مَا أَطَعْت اللّهَ وَرَسُولَهُ
فَإِذَا عَصَيْتُ اللّهَ وَرَسُولَهُ فَلَا طَاعَةَ لِي
عَلَيْكُمْ .
"Wahai sekelian ummat! Aku telah
dipilih menjadi pemimpin kamu padahal aku ini bukanlah
orang yang terbaik di antara kamu. Sebab itu jika
pemenintahanku baik, maka sokonglah, tetapi jika tiada
baik, maka perbaikilah. Orang yang lemah di antara kamu
adalah kuat pada sisiku hingga aku harus menolongnya
mendapatkan haknya, sedang orang yang kuat di antara
kamu adalah lemah pada sisiku, hingga aku harus
mengambil hak orang lain yang berada di sisi nya, untuk
dikembalikan kepada yang berhak semula. Patuhilah
kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan RasulNya.
Akan tetapi jika aku mendurhakai Allah, maka kamu
sekelian tak harus lagi patuh kepadaku.
Aku dipilih untuk memimpin urusan ini
padahal aku enggan menerimanya. Demi Allah aku ingin
benar kalau ada di antaramu orang yang cekap untuk
urusan ini. Ketahuilah jika kamu meminta kepadaku agar
aku berbuat sebagai yang telah dilakukan oleh Rasulullah
S.A.W. sungguh aku tidak dapat memperkenankannya,
Rasulullah adalah seorang hamba Allah yang dapat kurnia
wahyu dari Tuhan, kerana itu baginda terpelihara dari
kesalahan-kesalahan, sedang aku ini hanyalah manusia
biasa yang tidak ada kelebihannya dari seorangpun juga
di antara kamu.
Ini adalah satu pembaharuan dalam
pemerintahan yang belum pernah dikenali oleh rakyat
jelata kerajaan Rome dan Parsi yang memerintah dunia
barat dan timur ketika itu. Baginda telah mematuhi
manifesto politiknya. Baginda hidup seperti rakyat biasa
dan sangat tidak suka didewa-dewakan. Adalah
diriwayatkan bahawa pada satu masa ada orang
memanggilnya, "Ya Khalifah Allah! Baginda dengan segena
memintas cakap orang itu dengan katanya:
"Saya bukan Khalifah Allah, saya
hanya Khalifah RasulNya!
Adalah diriwayatkan bahawa pada
keesokan harinya iaitu sehari setelah baginda terpilih
sebagai Khalifah, Saiyidina Abu Bakan R.A. kelihatan
membawa barang perniagaannya ke pasar. Beberapa orang
yang melihat itu lalu mendekati baginda, di antananya
Abu Ubaidah Bin Janrah. Sahabat besar itu mendekati
baginda seraya berkata, "Urusan Khalifah itu tidak boleh
dicampuri dengan berniaga! Lalu Abu Bakar R.A. bertanya,
"Jadi dengan apakah aku hidup, dan bagaimana aku
membelanjai rumah tanggaku? Demikian sedihnya nasib yang
menimpa Saiyidina Abu Bakar R.A. sebab walaupun
kedudukannya sebagai Kepala Negara namun belum ada lagi
ketetapan untuk bagi seseorang kepala pemenintah Islam
memperolehi gaji dari hanta kerajaan.
Keadaan ini mendapat perhatian dari
para sahabat lalu mereka menentukan tunjangan secukupnya
buat baginda dan buat keluarga baginda yang diambil dari
Baitul Mal. Kemudian itu baharulah Khalifah Abu Bakar
meninggalkan usaha penniagaannya kerana hendak
memusatkan selunuh tenaganya untuk mengembangkan agama
Islam dan menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang
Khalifah. Semasa hertugas sebagai Khalifah ummat Islam
baginda hanya menerima penuntukan sebanyak enam ribu
dirham sahaja setahun iaitu kira-kira lebih kurang 1,200
dolar sahaja setahun. Peruntukan itu tidak
dibelanjakannya untuk keperluan dirinya malahan sebelum
wafatnya baginda telah memenintahkan supaya
pendapatannya itu diserahkan kembali kepada Baitul Mal.
Kebijaksanaan Abu Bakar R.A. juga
ternyata dalam polisinya menyamakan pemberian elaun
kepada orang-orang yang berhak agar mereka tidak
dipisahkan oleh jurang-jurang perbezaan yang jauh agar
tidak lahir satu golongan yang mendapat kedudukan yang
lebih istimewa dan golongan-golongan yang lain.
Sedangkan baginda sendiri hanya mengambil sekadar
keperluan-keperluan asasi buat diri dan keluarganya.
Sebelum baginda wafat, kepada
Saiyidina Umar Al Khattab baginda telah mewasiatkan agar
jangan menghiraukan jenazahnya nanti bila baginda pulang
ke rahmatullah, melainkan haruslah dia segera mengirim
bala tentera ke Iraq untuk membantu Al Muthanna yang
sedang bertempur di Iraq itu. Saiyidina Abu Bakar R.A.
tidak lupa mengingatkan Saiyidma Umar R.A. apa yang
dikerjakannya di waktu Rasulullah wafat dan bagaimana
cintanya kepada Rasul dan perhatiannya kepada jenazah
baginda yang suci itu tidak mengabaikannya dan
melaksanakan kewajipan bianpun yang demikian itu amat
berat bagi jiwanya. Dengarlah antara lain kata-katanya
kepada Umar Ibnul Khattab R.A.:
"Dengarlah hai Umar! Apa yang akan
kukatakan ini dan laksanakanlah. Aku mengharap akan
kembali ke hadrat Allah hari ini sebab itu sebelum
matahani terbit pada esok hari engkau hendaknya telah
mengirim bala hantuan kepada Al Muthanna. Janganlah
hendaknya sesuatu bencana bagaimana pun besannya dapat
melupakan kamu dan urusan agama dan wasiat Tuhan. Engkau
telah melihat apa yang telah ku lakukan tatkala
Rasulullah wafat sedang wafatnya Rasulullah itu adalah
satu bencana yang belum pernah manusia ditimpa bencana
yang sebesar itu. Demi Allah, andaikata di waktu itu aku
melalaikan perintah Allah dan RasulNya, tentu kita telah
jatuh dan mendapat siksaan Allah, dan pasti pula kota
Madinah mi telah jadi lautan api.
Dalam masa pemerintahannya yang
singkat Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq yang memerintah
hanya dalam masa dua tahun sahaja itu telah meletakkan
asas pembangunan sebuah pemenintahan Islam yang teguh
dan kuat setelah berjaya mengatasi berbagai macam
masalah dalam negeri dengan segala kebijaksanaan dan
kewibawaannya. Baginda telah memenuhi segenap
janji-janjinya dan dalam masa dua tahun pemerintahannya
itu telah terbentuk rantai sejarah Islam yang merupakan
lembaran-lembaran yang abadi.
Sungguh kehidupan Saiyidina Abu Bakar
Al-Siddiq adalah penuh dengan ibarat, penuh dengan
nasihat, penuh dengan ajaran serta kenang-kenangan yang
indah mulia. Selama dua tahun pemerintahannya itu
baginda telah berjaya menyusun tiang-tiang pokok dan
kekuatan Islam. Baginda telah membangunkan
kekuatan-kekuatan yang penting bagi memelihara
kepercayaan kaum Muslimin dan bagi memelihara keagungan
Agama Islam. Bahkan baginda telah mengakhiri niwayat
pemerintahan yang dipimpinnya dengan menundukkan
sebahagian daripada negeri Syam dan sebahagian danpada
negeri Iraq, lalu pulang ke rahmatullah dengan dada yang
lapang, ketika umur baginda menginjak 63 tahun. Baginda
dikebumikan di samping makam Rasulullah S.A.W. di Masjid
Madinah. Semoga niwayat serta penjuangan baginda menjadi
contoh ibadat yang murni bagi sekelian kaum Muslimin.
Langganan:
Postingan (Atom)
