Selasa, 05 Februari 2013

Detik Detik Kepergian Rosulullah Saw

Rasulullah saw berdiri dihadapan para Sahabat dan lebih dari 120 ribu orang jemaah yang ikut serta dalam Haji wadaa, saat itu Beliau mengucapkan salam perpisahan kepada ummatnya. Baginda berkata: "Wahai sekalian manusia ! Ketahuilah bahwasannya aku tidak akan bertemu dengan kalian lagi selepas tahun ini.."

Semua terdiam!
Suara itu seperti menggelegar menggetarkan, suasana haru meliputi wajah wajah Ummat. Mereka mendengarkan kata kata Rasulullah (Shalallahu 'Alaihi Wassalam). Baginda berwasiat serta menasihati mereka tentang Ikatan mereka bersama, tentang RABB serta Agama Mereka.

Disaat itulah, Allah Ta'ala menurunkah ayat terakhir Nya kepada Rasulullah (Shalallahu 'Alaihi Wassalam):

"...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu". (Al Maidah : 3)

Setelah peristiwa itu Rasulullah kemudian pulang ke Madinnah.

Saat itu memasuki awal bulan Rabiul Awal, Baginda mulai merasakan letih di badannya. Baginda ditimpa demam yang menyebabkannya tubuhnya terjatuh kebumi.

Baginda sakit!
Baginda saat itu meminta tubuhnya agar di sirami air, setelah disirami air Rasulullah (Shalallahu 'Alaihi Wassalam) sedikit lebih segar. Rasulullah keluar melangkahkan kakinya dibimbing oleh Imam Ali Bin Abu Thalib dan Fadhol Bin Abbas Radiyallahu Anhu.

Rasulullah menghadapkan wajahnya yang muliah kepada para sahabat.
Para sahabat bergembira melihat Rasulullah(Shalallahu Alaihi Wassalam) muncul kembali dihadapan mereka. Baginda duduk diatas Mimbarnya dan para sahabat terdiam mendengarkan Khutbah perpisahan dari kekasihnya.

Rasulullah berwasiat kepada Sahabat agar berbuat baik kepada keluarganya, berbaik kepada wanita dan berpesan; "Jangannlah kamu kembali menjadi kafir selepas kepergianku, dan kamu saling berperang antara satu dengan yang lain.."

Para sahabat merasa amat tersentuh dengan perpisahan yang akan dilalui antara mereka dengan Rasulullah, mereka bertanya: "Wahai Rasulallah! Jikalau engkau wafat, siapa yang akan memandikannmu?"

Rasulullah saw menjawab: "Seseorang dari keluargaku"

"Dengan apakah kami akan mengkafankanmu?"

Airmata Baginda berlinang ketika melihat keresahan para sahabat,
Baginda menjawab: "Dengan pakaianku ini, atau kain dari Yaman, atau jubah dari Syam ataupun kapas dari Mesir"

Mereka bertanya lagi:
"Siapakah yang akan mengurus penguburanmu? Adakah dari keluargamu?"

Para sahabat terus bertanya tanya mengenai persiapan serta kepergian Baginda, Baginda pun menangis.

Baginda Berkata:
"Berlembutlah dengan Nabimu".
Baginda berdiri dan melangkah memasuki kerumahnya dan merebahkan dirinya di pembaringan.

Sahabat bertambah bimbang..
Saat itu kumandang adzan di masjid Rasulullah telah selesai, sedangkan Imam mereka (Rasulullah) tidak keluar untuk shalat bersamam mereka, para sahabat semakin khawatir, mereka meninggalkan segala aktivitas mereka dan berkumpul sana untuk mengetahui perkembangan kesehatan Rasulullah saw.. .

Mereka bertambah khawatir...

Rasulullah saw berkata kepada Aisyah Ra;
"Perintahkanlah Abu Bakar Untuk mengimani Shalat"

Aisyah Berkata; "Ayahku adalah seorang yang kurus dan Aku Meragukannya, beliau menangis dan tak mampu untuk berdiri.. perintahkanlah Umar Wahai Rasulullah.."

Karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tetap menginginkan Abu Bakar untuk mengimani Shalat sebagai penggantinya, maka Abu Bakarpun bangun meng-Imami Shalat di mesjid saat itu dan seterusnya..

Baru pada waktu shubuh, Senin 12 Rabiul Awal, kesehatan Rasulullah saw membaik..
Rasulullah menyingkapkan tirai pintu rumahnya. Beliau menatap wajah para sahabat.. mereka Shalat dengan khusyuk dan tunduk dihadapan Allah di belakang sayidinna Abu Bakar.

Segala Puji bagi Allah..
Masjidnya bercahaya dengan kemunculan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, beliau memperhatikan para sahabatnya,..

Dikisahkan para sahabat berkata;
"Kami hampir hampir lalai dari shalat kami, ketika wajah Rasulullah muncul dari tirainya. Abu Bakar hampir saja mundur dari tempatnya menjadi Imam shalat.. dan para sahabat hampir hampir berpaling.. Tapi kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menunjuk dengan tangannya "Tetaplah ditempatmu.." kemudian Baginda menutup tirai di pintu dan masuk lagi ke rumahnya. Itulah hari terakhir Baginda memandang sahabat-sahabatnya.."

Para sahabat saat itu bergembira ketika melihat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memperhatikan mereka dari pintu rumahnya. Mereka mengira Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kembali sehat hingga sebagian mereka kembali ke pekerjaan masing masing dan tetap mengira bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kembali sehat.

Aisyah ra, mengisahkan;
"Rasulullah saw meminta izin kepada semua istrinya untuk dirawat di rumahku, dan mereka mengizinkannya. Hari senin, yaitu hari wafat beliau pun tiba.. Ruh baginda diambil di rumahku dan dalam dekapanku"

Aisyah ra berkata;
"Sebelum itu kami mendengar gerakan dibalik pintu dan itulah Jibril meminta izin dari Rasulullah untuk Masuk, dan Rasulullah mengizinkannya. Kemudian aku mendengar Rasulullah berkata kepadanya; "Wahai Jibril! Allah Ta'ala, Allah Ta'ala!"

Kemudian Aku bertanya: "Apa yang terjadi wahai Rasulullah?"

Rasulullah saw menjawab:
"Itulah Jibril berkata bahwa Malaikat maut berada didepan pintu meminta izin.." Jibril berkata: "Malaikat maut itu tidak pernah meminta izin dari sesiapapun sebelum dan sesudahmu.. Allah menyampaikan Salam kepadamu,.. Allah telah merinduimu?"

Malaikat Ijrail berkata:
"Jika engkau menghendaki aku akan mencabut ruh mu untuk menemui Allah, jikalau tidak aku akan biarkan sesuai masa waktu yang engkau inginkan.."

Dan Rasullullah saw memilih Allah ta'ala..

Kemudian malaikat mautpun masuk rumah Rasulullah, dia mengucapkan salam kepada Nabi dan berkata; "Wahai Rasulullah! Apakah engkau mengizinkanku?"

Baginda menjawab:
"Terserah kepadamu, berlembutlah ketika mencabut nyawaku..."

"Ahhhh..."
(Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam Kesakitan)

Rasulullah saw berkata kepada Malaikat maut;
"BERLEMBUTLAH KEPADAKU, WAHAI SAUDARAKU MALAIKAT MAUT"

Malaikat maut mencabut nyawa yang sangat mulia itu..
Keringat bercucuran dari dahi Rasulullah... laksana butiran permata yang berbau kasturi. Nabi mengusap peluh dari dahinya..

Baginda berteriak:
"Ahhhh...! Ahhhh.. Ahhh..! Kematian itu Amat menyakitkan!. Ya Allah! Ringankan kesulitan maut terhadapku.. ringankan kesulitan maut terhadap ummatku.."

Maka para Malaikat dari langitpun turun dan berkata: "Ya Rasulullah! sesungguhnya salam dan sejahtra keatasmu.."

MAKA MENANGISLAH RUH BAGINDA..
Dalam kesakitan sakaratul maut baginda berdoa: "Ya Allah Ringankanlah Kesulitan maut untuku dan Ummatku"

YA ALLAH!
RINGANKANLAH KESULITAN MAUT TERHADAPKU DAN UNTUK UMMATKU...
Ringankanlah kesulitan maut untuku dan ummatku.."

Rasulullah terbaring,
Lidahnya tidak bisa bertutur lagi dan tidak terdengar apa apa dari baginda..
Hal terakhir yang diucapkan Baginda adalah: "Allah. Allah. Shalat. Shalat"

Adakah hati yang tidak bergetar mendengarnya...?
Begitu sayangnya beliau kepada kita, Ummatnya..
Hingga disaat saat paling menyakitkan...
Disaat sakaratulmaut ..
Disaat saat terakhir di bumi ini...
Disaat saat nafas terakhirnya, saat Ruh itu hampir terlepas dari raga..
Beliau masih menyempatkan sebuah do'a untuk kita...

Seperti sabdanya...
"Kematian itu 70 kali lebih sakit dari tusukan pedang"

Tapi..
Diantara kesakitan itu
Beliau masih mengingat kita..
Dan berdo'a untuk kita..
Maafkan kami...
Wahai Rasul Allah...
Wahai kekasih Allah..
Maafkan kelalaian kami dalam menapaki sunnah sunnahmu..

Jazakumullahu ya Rasulallah,
Jazakallah ya Rasulallah Shalallahu Alaihi Wassalam..

Ruh bagindapun sampai kepada halqumnya.
Cahaya memancar dari wajahnya, meliputi keluarganya.
Baginda membuka kedua belah matanya untuk terakhir kali. Baginda menunjukan syarat dengan jari ketauhidannya, Baginda menghirup nafas terakhirnya di dunia ini dan menyerahkan ruhnya kepada Tuhannya.

Sejahtralah jasad Baginda..
Setelah melalui hari harinya yang penat dan meletihkan..
Untuk kita, umatnya.

Sejahtralah jasad Baginda...
Beliau bisa beristirahat setelah perutnya yang di ikat dengan batu karena kelaparan untuk kita,.
Sejahtralah jasad yang pernah dilempari batu sehingga terluka untuk kita.

Sejahtralah gerhamnya yang pernah patah untuk kita, Umatnya.
Sejahtralah jasad yang pernah pernah terluka dan mengalir darahnya...

Sejahtralah jasad yang pernah tertusuk daging pipinya untuk kita.
Sejahtralah jasad yang kakinya bengkak disebabkan pengabdiannya pada Allah serta dakwah untuk kita.

Sejahtralah jasad yang memikul kesukaran, keletihan, kesakitan dan kelaparan untuk kita, Ummatnya.

Rumah itu diselubungi dengan tangisan, menyaksikan kepergian peminpin mereka setelah ruh meninggalkan jasadnya..
Masjidpun diselubungi dengan kesedihan..

"Ketahuilah! Bahwa kepedihan telah menimpa Nabi.."

Berita itu pun tersebar keseluruh Kota Madinah..

Sayyidina Alli bin Abi Thalib berada disamping Baginda.
Aisyah radiyallahu anha menangis, ruhnya terguncang. Sayyidina Alli membawa dan meletakan tubuh Rasulullah saw di kamarnya, sayyidina Ali pun terjatuh. Beliau tidak kuat berdiri, ..

Ditengah tangisan yang menyelubungi rumah duka itu, tiba tiba terdengar satu suara yang tidak diketahui dari mana asalnya: "Kita adalah milik Allah, dan padanya kita akan Kembali. Wahai penghuni rumah, Allah membesarkan pahalamu, bersabarlah dan bermuhasabahlah dengan musibah itu. Sesungguhnya Rasulullah mendahuluimu sekalian di Syurga".

Mereka terdiam dan menjadi tenang sesaat.
Setelah suara itu berhenti, mereka menangis lagi...

Demi Allah, kita ini tidak pernah diberi musibah seperti yang mereka rasakan, tiada satu rumahpun yang merasa kehilangan seperti yang mereka rasakan saat itu..

Khabar itu pun tersebar keseluruh Madinah..,

Para sahabat panik.
Sebagian mereka menyeru; "Wahai para sahabat! Tidak kah kamu mengetahui bahwsannya Baginda adalah Manusia dan akan wafat?"

Sebagian mereka berkata: "Ya. Tapi kehidupannya kekal didalam diri kami dan memberi tamparan hebat kepada jiwa kami"

BERGETARLAH HATI PARA SAHABAT..

Sayyidina Umar Bin Al-Khatab mengeluarkan pedangnya dan mengacungkannya di jalan. Beliau hilang pertimbangan karena kesedihan itu, beliau berteriak:

"Sekelompok dari orang-orang munafik berkata bahwa Rasulullah telah mati. Rasulullah tidak mati. Akan tetapi Rasulullah menuju kepada Rabbnya sebagaimana perginya nabi Musa dan Baginda kembali kepada kita. Siapa yang mengatakan bahwa Rasulullah telah mati, aku akan menyentuhnya dengan pedangku ini "

Sayyidina Utsman bin Affan membisu
Ia tidak berkata apa apa. Ketika fikiran mereka terganngu, hati mereka pun kebingungan..

Kemudian sampailah berita ini kepada Abu Bakar Assidiq,
Diapun merasakan keadaan yang begitu menyedihkan itu. Dia segera menuju Madinnah dan langsung menuju masjid Nabawi, melintasinya dan sampailah kekamar Rasulullah. Beliau meminta izin kepada penghuni rumah itu untuk masuk dan lalu dizinkan masuk.

Sayyidina Abu Bakar masuk dalam keadaan dadanya yang berdebar debar dan keluh kesah seakan nyawanya yang dicabut. Beliau menangis, terdengar seperti suara yang menggeletar yang memasuki air. Dia berpaling, airmatanya bercucuran melihat jasad Nabi diliputi kain, beliau membuka kain yang menutupinya untuk menatap wajah yang paling mulia itu.

Beliau memandang wajah Nabi dalam dalam,
Beliau mendekapkan wajahnya dan mencium wajah dan pipi Rasulullah saw.

Beliau menangis sambil berkata:
"Demi ibu dan ayahku wahai Rasulullah, betapa mulianya kehidupan dan kewafatanmu. Allah tidak akan merasakan untukmu kewafatan kedua kalinya untukmu. Jikalau tangisan itu bermanfaat bagimu, niscaya air mata ini akan terus berlinangan. Tetapi tiada tempat mengadu melainkan Allah. Kita Milik Allah dan kepadanya kita akan Kembali

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kamu wahai Muhammad adalah utusan Allah..
Engkau telah sampaikan risalah dan sampaikan amanah, hingga engkau meninggalkan kami diatas jalan yang bersih"

Nafas beliau tersedu sedu dalam tangisan,
Beliau memandang jasad Rasulullah saw dan berkata kata lagi: "Ingatlah kami disisi Tuhanmu wahai Muhammad..."

Hari itu madinah menjadi layu..

Subhanallah..
Wahai Allah yang Maha Hidup dan Menghidupkan..
Wahai Allah penggerak langit dan Bumi..
Bantulah kami untuk senantiasa mengingat, mensyukuri dan beribadah kepadamu dengan cara yang Engkau ridhai

Wahai Allah..
Perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran
Arahkanlah kami untuk mengikuti cahaya kebenaran itu menuju keridhaan Mu

Wahai Allah..
Ampunkanlah kami dengan taubatannasuha,
Bersihkanlah debu debu dosa yang meliputi hati kami, bersihkan tubuh dan ruh kami.
Beri kekuatan untuk menolak kemaksiatan..
Cerdaskanlah kami untuk bertaubat kepada Mu..

Ya Allah peliharalah kami.
Ampunilah dosa kami yang telah lalu, dan kumpulkanlah jemaah kami pada hari kiamat beserta Rasulullah dan Sahabat serta orang orang yang dikasihi.

Ya Allah hidupkanlah kecintaan kepada Rasulullah dalam hati kami..
Ya Allah hidupkanlah kami dengan mencintai sunnah sunnahnya

Hidupkan cahaya Rasulallah dalam batin kami.
Hidupkan hidayahnya dalam zahir kami. Hidupkan perjalanannya dalam rumahtangga dan kehidupan kami.

WAHAI ALLAH !
JANGAN ENGKAU TANGGALKAN DARI HATI KAMI CAHAYA IKATAN DENGAN SAYYIDINA MUHAMMAD SHALALLAHU ALAIHI WASSALAM

Amiin ya Allah ya Robbal Alamiin..

=== === ===
Sahabat Situslakalaka,
Catatan diatas adalah kisah shahih yang saya terjemahkan dari narasi Rekaman Video Habib Ali Aljufri saat kunjungannya ke Malaysia beberapa tahun lalu.

Versi aslinya adalah bahasa Arab dengan teks melayu,
Telah saya sesuaikan kembali kedalam bahasa Indonesia dengan berbagai penyesuaian diksi dan intonasi agar menyentuh makna terdalam hati kita dengan tidak menghilangkan pesan yang ingin disampaikan narator.

Semoga Catatan ini menyentuh dan menyegarkan kembali ingatan kita kepada jalanan Rasulullah saw dan Sunnah Sunnahnya. Semoga dari pena sederhana ini, bisa sedikit menahan dan mengingatkan jiwa yang sering lalai dan terbuai, termasuk nasihat pada diriku sendiri.

Silahkan dishared kepada teman temannya..
Untuk memacu semangat Jihad dan menyongsong fajar Ramadhan yang telah kita jejaki saat ini...
=== === ===

Create on Desember 2010
Revised on July 01, 2011 at 00:45

Jazakallah khairan,
NURUDDIN AL INDUNISSY - RIYADH 2011

Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu !!!

TERSEBUTLAH seorang menteri di masa Nabi Dawud alayhis salaam yang bernama Jalil al-Qadri. Ketika Nabi Dawud meninggal, ia menjadi menteri pula di masa Sulaiman ibn Dawudalayhimas salaam.

Suatu pagi, Nabi Sulaiman alayhis salaam mengadakan pertemuan bersama menteri-menterinya, termasuk dengan menteri Jalil al-Qadri.

Tiba-tiba masuklah seorang lelaki ke majlis itu. Ia memberikan salam dan berbisik kepada Nabiyullah Sulaiman alayhis salaam. Setelah itu, sebelum lelaki tersebut keluar, ia memandang dengan tajam kepada Jalil al-Qadri, sehingga sang menteri ketakutan.

Ketika lelaki itu keluar, sang menteri pun bertanya kepada Nabi Sulaiman alayhis salaam, “Wahai Nabi Allah, siapakah lelaki yang baru saja keluar tadi .. ? Sungguh tatapan matanya telah membuatku ketakutan.”

Nabi Sulaiman alayhi salam pun menjawab, “Sesungguhnya ia adalah malaikat maut(malakul mawt) yang mendatangiku dalam wujud manusia.”

Seketika gemetarlah menteri itu. Sambil menangis ia pun berkata, “Wahai Nabi Allah, demi Allah aku memohon kepadamu agar engkau memerintahkan angin, agar ia membawaku ke tempat yang paling jauh, yaitu India.”

Nabi Sulaiman alayhis salaam pun memenuhi permintaannya. Sang menteri akhirnya pergi saat itu juga menuju India dengan berkendaraan angin.

Esok harinya, malaikat maut datang kembali menemui Nabiyullah Sulaiman alayhis salam. Nabi Sulaiman pun bertanya kepadanya, “Wahai malakul maut, sungguh engkau telah membuat sahabatku ketakutan. Mengapa engkau kemarin menatapnya dengan demikian tajam .. ?”

Malaikat maut pun menjawab, “Wahai Nabi Allah, saat aku mendatangimu kemarin pagi, aku terkejut melihat Jalil al-Qadri masih ada bersamamu di tempat ini. Padahal sebelumnya, Allah Ta’ala telah memerintahkanku untuk mencabut nyawanya ba’da dzuhur di India.”

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,” (QS. Al-Jumu’ah ayat 8).

(Dikutip dari kitab Hadaiqul Mawt, tulisan Syaikh Muhammad ibn Abdurrahman al-’Arifi)

Beginilah Cara Rasulullah Menentukan 1 Ramadhan

AWAL Ramadhan seringkali menjadi polemik, karena adanya perbedaan cara penghitungan atau cara penetapannya. Begitu juga penetapan awal Syawwal. Rasulullah sebenarnya sudah memberikan petunjuk cara menetapkan awwal Ramadhan, melalui hadits yang masih tercatat sampai sekarang. Cukup simpel, mudah, dan tidak memberatkan.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang bulan Ramadhan lalu Beliau bersabda:

Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal dan jangan pula kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Apabila kalian terhalang oleh awan maka perkirakanlah jumlahnya (jumlah hari disempurnakan),” (Shahih Bukhari. No. Hadist: 1773)

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Satu bulan itu berjumlah dua puluh sembilan malam (hari) maka janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihatnya. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlahnya menjadi tiga puluh,” (Shahih Bukhari. No. Hadist: 1774)

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad berkata, aku mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, atau katanya Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh,” (Shahih Bukhari. No. Hadist: 1776)

Dari hadist-hadist di atas, Rasulullah tidak membebani umatnya dengan hal-hal yang memberatkan, hanya saja kadang umatlah yang membebani diri sendiri dengan hal-hal yang berat.

Dari hadits di atas sungguh teramat jelas, bahwa penentuan awal Ramadhan adalah dengan melihat bulan sabit di penghabisan tanggal 29 sya’ban, bukan tanggal 28, 27. Tanggal 28 itu masih disebut bulan mati, secara akalpun tak akan bisa dilihat. Sedangkan benda yang menjadi pijakan dalam hal penentuan awal Ramadhan adalah bulan sabit.

Metoda yang dilakukan Rasulullah adalah dengan melihat..........bukan menghitung. Melihat berarti membuktikan bahwa bulan memang terlihat, sedangkan ketika kita menghitung dan menetapkan, seakan-akan semua itu pasti adanya. Padahal di dunia ini tidak ada yang pasti. Apakah ketika hitungan kita mengatakan tanggal sekian bulan terlihat, itu akan pasti terlihat? Belum tentu, kita harus bisa membuktikan dengan melihat. Akhir dari segala keputusan adalah dengan melihat.

Ketika akhir tanggal 29 sya’ban kita tidak bisa melihat bulan sabit, maka petunjuk Rasulullah, genapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Tidak terlihatnya mungkin dikarenakan memang belum muncul, atau terhalang mendung.

Sosok Ini Tidak Terkenal di Bumi Tapi Sangat Terkenal di Langit

Matanya biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan. Kulitnya kemerah-merahan. Dagunya menempel di dada kerana selalu melihat pada tempat sujudnya. Tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya.

Ahli membaca al-Quran dan selalu menangis, pakaiannya hanya dua helai dan sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya digunakannya sebagai selendang. Tiada orang yang menghiraukan, tidak terkenal dalam kalangan manusia,namun sangat terkenal di antara penduduk langit.

Tatkala datangnya hari Kiamat, dan tatkala semua ahli ibadah diseru untuk memasuki Syurga, dia justeru dipanggil agar berhenti dahulu seketika dan disuruh memberi syafa'atnya.

Ternyata Allah memberi izin padanya untuk memberi syafa'at bagi sejumlah bilangan qabilah Robi'ah dan qabilah Mudhor, semua dimasukkan ke Syurga dan tiada seorang pun ketinggalan dengan izin-Nya.

Dia adalah 'Uwais al-Qarni'.......

Tidak banyak yang mengenalnya, apatah lagi mengambil tahu akan hidupnya. Banyak suara-suara yang mentertawakan dirinya, mengolok-olok dan mempermainkan hatinya.

Tidak kurang juga yang menuduhnya sebagai seorang yang membujuk, seorang pencuri serta berbagai macam umpatan demi umpatan, celaan demi celaan daripada manusia.

Suatu ketika, seorang fuqoha' negeri Kuffah, datang dan ingin duduk bersamanya. Orang itu memberinya dua helai pakaian sebagai hadiah. Namun, hadiah pakaian tadi tidak diterima lalu dikembalikan semula kepadanya. Uwais berkata: "Aku khawatir, nanti orang akan menuduh aku, dari mana aku mendapatkan pakaian itu? Kalau tidak daripada membujuk pasti daripada mencuri."

Uwais telah lama menjadi yatim. Beliau tidak mempunyai sanak saudara, kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh tubuh badannya. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa.

Bagi menampung kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai pengembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup-cukup untuk menampung keperluan hariannya bersama ibunya. Apabila ada wang berlebihan, Uwais menggunakannya bagi membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan.

Kesibukannya sebagai pengembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya. Dia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam ketika seruan Nabi Muhammad S.A.W tiba ke negeri Yaman. Seruan Rasulullah telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya menarik hati Uwais. Apabila seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, kerana selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.

Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad S.A.W secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbaharui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais apabila melihat setiap tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah bertamu dan bertemu dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang dia sendiri belum berkesempatan.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih. Namun apakan daya, dia tidak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah. Lebih dia beratkan adalah ibunya yang sedang sakit dan perlu dirawat. Siapa yang akan merawat ibunya sepanjang ketiadaannya nanti?

Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tidak terbendung dan hasrat untuk bertemu tidak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, "Bilakah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dengan dekat?"

Bukankah dia mempunyai ibu yang sangat memerlukan perhatian daripadanya dan tidak sanggup meninggalkan ibunya sendiri. Hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa Rasulullah.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya. Dia meluahkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan untuk pergi menziarahi Nabi S.A.W di Madinah.

Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau amat faham hati nurani anaknya, Uwais dan berkata, "Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Apabila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang."

Dengan rasa gembira dia berkemas untuk berangkat. Dia tidak lupa untuk menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama mana dia pergi.

Sesudah siap segala persediaan, Uwais mencium sang ibu. Maka berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak lebih kurang empat ratus kilometer dari Yaman.

Medan yang begitu panas dilaluinya. Dia tidak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari. Semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi S.A.W yang selama ini dirinduinya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi S.A.W, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina 'Aisyah R.A sambil menjawab salam Uwais.

Segera sahaja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata baginda tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tidak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi S.A.W dari medan perang.

Bilakah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman.

Atas ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi S.A.W.

Dia akhirnya dengan terpaksa memohon untuk pulang semula kepada sayyidatina 'Aisyah R.A ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi S.A.W dan melangkah pulang dengan hati yang pilu.

Sepulangnya dari medan perang, Nabi S.A.W langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad S.A.W menjelaskan bahawa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit dan sangat terkenal di langit.

Mendengar perkataan baginda Rasulullah S.A.W, sayyidatina 'Aisyah R.A dan para sahabatnya terpegun.

Menurut sayyidatina 'Aisyah R.A memang benar ada yang mencari Nabi S.A.W dan segera pulang kembali ke Yaman, kerana ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah S.A.W bersabda: "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya."

Sesudah itu Rasulullah S.A.W, memandang kepada sayyidina Ali K.W dan sayyidina Umar R.A dan bersabda: "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi."

Tahun terus berjalan, dan tidak lama kemudian Nabi S.A.W wafat, hinggalah sampai waktu khalifah Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq R.A telah digantikan dengan Khalifah Umar R.A.

Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi S.A.W tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali K.W untuk mencarinya bersama.

Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, mereka berdua selalu bertanya tentang Uwais al-Qarni, apakah ia turut bersama mereka. Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa hairan, apakah sebenarnya yang terjadi sampai ia dicari oleh beliau berdua.

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qarni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah.

Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar R.A dan sayyidina Ali K.W mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.

Rombongan itu mengatakan bahawa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawapan itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qarni.

Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar R.A dan sayyidina Ali K.W memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri solatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi S.A.W.

Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
"Siapakah nama saudara?"
"Abdullah." Jawab Uwais.

Mendengar jawapan itu, kedua sahabat pun tertawa dan mengatakan,
"Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?"
Uwais kemudian berkata "Nama saya Uwais al-Qarni."

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia.
Itulah sebabnya, dia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan sayyidina Ali K.W. memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah,"Sayalah yang harus meminta doa daripada kalian."

Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, "Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar daripada anda."

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa dan membacakan istighfar.

Setelah itu Khalifah Umar R.A berjanji untuk menyumbangkan wang negara daripada Baitulmal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera sahaja Uwais menolak dengan halus dengan berkata,

"Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi."

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak terdengar beritanya.

Beberapa waktu kemudian, tersiar khabar Uwais al-Qarni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafan, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafankannya.

Demikian juga ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,

"Ketika aku ikut menguruskan jenazahnya hingga aku pulang daripada menghantarkan jenazahnya, lalu aku ingin untuk kembali ke kubur tersebut untuk memberi tanda pada kuburnya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas di kuburnya."

(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qarni pada masa pemerintahan sayyidina Umar R.A.)

Kepergian Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat menghairankan. Sedemikian banyaknya orang yang tidak kenal datang untuk mengurus jenazah dan pengebumiannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang.

Sejak dia dimandikan hingga jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa? Kerjanya hanyalah sebagai penggembala?"

"Namun, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya."

Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al-Qarni.

"Dialah Uwais al-Qarni, tidak terkenal di bumi tapi sangat terkenal di langit."

Ingatlah Ketika Sel-Sel Tubuh Kita Menjadi Saksi....

Ini berita yang dimuat di detik.com tahun 2008, yang masih saya simpan dengan rapi karena sangat menarik.
Sonny Graham, setelah menderita penyakit jantung kronis mendapatkan donor transplantasi jantung dari Terry Cottle, pria 33 tahun yang tewas bunuh diri dengan menembak kepalanya. Operasi ini berjalan sukses, 12 tahun yang lalu.

Tak berapa lama, Graham menghubungi pihak badan donor organ, ia ingin mengucapkan terima kasih pada pihak keluarga donor. Dia lalu mendapatkan alamat keluarga Cottle. Graham menulis surat untuk janda Cottle, Cheryl (39). Tak berapa lama kemudian mereka saling jatuh cinta dan menikah pada tahun 2004. Mereka tinggal di Georgia, AS.

Dalam artikel di koran tahun 2006, Graham bercerita bahwa ia merasakan kedekatan instan yang tak biasa saat bertemu Cheryl.

”Saya seperti telah mengenalnya bertahun-tahun. Saya tak bisa memalingkan pandangan saya darinya. Saya terus menatapnya,” tutur Graham, 69 tahun.

Tapi sekarang, kehidupan Cheryl kembali mengalami tragedi. Graham yang telah menjadi suaminya, melakukan hal yang persis sama dilakukan mendiang suaminya dulu, Cottle. Graham tewas bunuh diri! Dengan pistol, dia menembak kepalanya sendiri, persis sama yang dilakukan Cottle.

Kematian Graham sangat membingungkan teman-temannya. Mereka tidak melihat tanda2 depresi pada Graham sebelum kematiannya.

Menurut para ilmuwan, ada lebih 70 kasus yang dilaporkan dari pasien tranplantasi yang meniru sebagian kepribadian pendonor organ.
So what?
Apa yang menyebabkan Graham meniru persis tindakan Cottle?
Karena pada sel-sel jantung yang dia dapat dari Cottle telah ada rekam jejak perilakunya dari awal hidup hingga akhir hayatnya, termasuk cara dia menghabisi nyawanya sendiri. Memori pada sel2 jantung ini yang tetap bekerja pada tubuh Graham, sehingga dia langsung mencintai Terry, menikahinya, lalu meninggal dengan cara yang persis sama seperti pemilik jantung aslinya.
Seluruh sel tubuh kita ibarat hard disk yang merekam dengan baik semua ucapan, pikiran, perbuatan kita. Memori ini sudah tergores di sana, dan siap dipanggil kapan saja. Meskipun terdelete, mudah saja bagi ahli komputer untuk melacak bekas-bekas data yang sudah terlanjur masuk dalam hard disk, dengan bahasa simbol tertentu (yang saya sebagai orang awam programming tentu tak paham).
Oleh karena sel tubuh kita itu mampu merekam jejak apapun yang mampu kita lakukan, maka, sangat logis untuk membayangkan anggota tubuh kita akan mudah saja, tidak keliru satu titik pun saat menjadi saksi tentang segala perbuatan yang pernah kita lakukan, nanti di hadapan Allah.
Ah, memang keburukan, selalu meninggalkan bekas yang tak hilang!
Seperti riwayat yang terkenal tentang seorang sholeh dengan anaknya. Si anak yang bengal, membuat sang ayah bersedih hati. Setiap satu kemaksiatan yang dilakukan anaknya dia tancapkan paku di tembok rumahnya. Dia terus berdoa dan berupaya agar suatu saat anaknya bertaubat.
Syahdan, Allah membukakan pintu hati si anak. Dia mulai menginsyafi kesalahannya. Pelan-pelan dia mencoba memperbaiki diri dengan kebaikan, Sang ayah yang bahagia melihat perubahan perilaku anaknya, bertahap mencabuti paku di tembok. Setiap satu perbuatan baik dilakukan anaknya, dicabutlah 1 paku dari tembok. Begitu seterusnya, hingga paku-paku di tembok tercabuti semua, karena si anak banyak melakukan perbuatan baik.
Akan tetapi, meski paku telah tercabut semua, si anak tetap saja bersedih. Sang ayah yang heran kenapa anaknya tetap saja bersedih, bertanya,”Bukankah seluruh paku telah tecabut semua anakku? Bukankah kebaikan yang kau tabung telah menghapus keburukan-keburukanmu dulu?”
Si anak menjawab masgul, ”Betul ayah. Memang paku-paku keburukan itu telah tercabut semua. Namun lihatlah ayah, tembok bekas tempat tertancapnya paku2-paku tadi, kini menjadi berlubang-lubang, tidak mungkin bisa indah dan halus lagi seperti semula. Bekas kelakuan burukku, tak kan pernah terhapus,
Ayaaaahh.. ”
Masihkah kita tak menyadari hal ini? Bahwa keburukan tetap berbekas, sungguh pun usaha untuk menutupinya dengan kebaikan akan terus coba diupayakan? Apalagi jika tanpa ditutup dengan kebaikan, Astaghfirullah...., akan seperti apa persaksian untuk kita di hari pengadilan nanti?
Duhai, terbayang betapa malunya saat borok-borok diri dibuka satu-persatu di depan umat manusia sejagad. Tak cukup tangan dan kaki yang menjadi saksi dari kenistaan diri, tapi juga rambut, perut jemari, telinga,kuku.. .. semua anggota tubuh, hingga sel-sel yang bermilyar2 itu. Mereka dengan gemuruh akan berkata, bersumpah tentang apa yang telah mereka lakukan. Dan mulut pun terkunci tak mampu menyangkalnya.
Tangan yang berani menjamah atau mengambil sesuatu yang haram baginya, kaki yang berani melangkah ke tempat maksiat, telinga yang terbiasa mendengarkan gunjingan, gosip atau hiburan yang merusak hati, mata yang terbiasa melihat aurat orang lain diumbar, perut yang tidak lagi mampu menyeleksi mana makanan haram mana halal, jemari yang memberikan kesaksian palsu lewat tulisan atau tanda tangan, lintasan hati yang gak keruan atau menduakan cintaNya....semua! Semua bagian tubuh, hingga sel-sel tubuh yang terkecil sekalipun, akan berlomba-lomba memberikan kesaksiannya. Astaghfirullah...
Robbana dzolamnaa anfusana, wainlam taghfirlanaa
watarhamnaa lanakuu nanna minal khoosiriin

Masihkah Kita Mendustakan Siksa Kubur ???

BBC-London (12/3/2011)-Foto diatas adalah foto dari seorang pemuda berusia 18 tahun yang meninggal di salah satu rumah sakit di Oman dikarenakan over dosis minuman keras. Mayat pemuda tersebut digali kembali dari kuburnya setelah 3 jam di makamkan yang di saksikan oleh ayahnya sendiri. Pemuda tersebut meninggal dirumah sakit dan setelah di mandikan di makamkan secara islam di hari itu juga.

Tetapi setelah pemakaman ayahnya merasa ragu atas diagnosa dokter dan menginginkan untuk di identifikasi kembali tentang kebenaran penyebab atas kematian anaknya tersebut. Seluruh kerabat dan teman-temannya begitu terkejut saat mereka melihat kondisi dari mayat pemuda tersebut. Mayat tersebut begitu berbeda dalam 3 jam. Dia berubah tampak ke abu-abuan seperti orang yang sudah tua.

Dengan tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras dan dengan tulang-tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga ujung-ujungnya sehingga menekan kebadannya. apakah benar ini adalah siksa kubur itu benar adanya?

Seluruh badan dan mukanya memar. Matanya yang terbuka memperlihatkan ketakutan, kesakitan dan keputus-asaan. Darah yang begitu jelas menandakan bahwa pemuda tersebut sedang mendapatkan siksaan yang amat berat.

Alam kubur adalah awal kehidupan hakiki dari seorang manusia. Mempelajari apa-apa yang terjadi di alam kubur banyak memberikan faedah. Seseorang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur tentu akan berusaha sebisa mungkin selama ia masih hidup agar menjadi orang yang layak mendapatkan nikmat kubur kelak.

Seseorang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada adzab kubur juga akan berusaha sebisa mungkin agar ia terhindar darinya kelak. Nikmat dan adzab kubur adalah perkara gaib yang tidak terindera oleh manusia. Manusia yang merasakannya pun tentu tidak dapat mengabarkan kepada yang masih hidup akan kebenarannya. Maka satu-satunya sumber keyakinan kita akan adanya adzab dan nikmat kubur adalah dalil Qur’an dan Sunnah.

Dan banyak sekali dalil dari Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ para sahabat dan tabi’in yang menetapkan adanya alam kubur. Namun sebagian orang dari kalangan ahlul bid’ah mengingkarinya karena penyimpangan mereka dalam memahami dalil-dalil syar’i.

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS. Al An’am: 93)


“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al Baqarah: 154)

“Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur yang aku dengar.” (HR. Muslim 7393, Ahmad 12026, dari sahabat Anas bin Malik radhilallahu’anhu)”

“Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasuulullah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27)” (HR. Bukhari 1369, Muslim 7398)

Ini adalah dalil Al Qur’an sekaligus As Sunnah. Karena merupakan bukti bahwa surat Ibrahim ayat 27 berbicara tentang adzab kubur dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menafsirkan demikian.

“Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya. Beliau bersabda, ‘Keduanya sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar (menurut mereka bedua)’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diadzab karena tidak membersihkankan bekas kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)” (HR. Bukhari 6055, Muslim 703)

Dan masih banyak lagi dalil dari hadits-hadits yang shahih mengenai adzab kubur, artikel ini tentu bisa berpuluh-puluh halaman jika kami bawakan semua.

Wallahu a’lam

Wasiat Rosulullah Tentang Sholat !!!

Sesungguhnya bencana yang dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian masyarakat pada salat lima waktu, salat Jumat dan salat jamaah, padahal semua itu adalah ibadah-ibadah yang dengannya Allah meninggikan derajat dan menghapuskan dosa-dosa maksiat. Dan salat adalah cara ibadah seluruh penghuni bumi dan langit.


Rasulullah SAW bersabda: "Langit merintih dan memang ia pantas merintih, karena pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (salat) kepada Allah Azza Wa Jalla." (HR Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Orang yang meninggalkan salat karena dilalaikan oleh urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya.

Dengarkanlah nasihatku tentang nasib orang yang meninggalkan salat, baik semasa hidup maupun setelah meninggal. Sesungguhnya Allah merahmati orang yang mendengarkan nasihat kemudian memperhatikan dan mengamalkannya.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman." (QS An-Nisa`, 4:103)

Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Setelah Isya’ aku bersama Umar bin Khottob RA pergi ke rumah Abu Bakar AsShiddiq RA untuk suatu keperluan. Sewaktu melewati pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan. Kami pun terhenyak dan berhenti sejenak. Kami dengar beliau menangis dan meratap.

"Ahh..., andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap salat. Ahh..., aku sungguh menyesali umatku."

"Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,’ kata Umar RA.
Umar kemudian mengetuk pintu. ‘Siapa?’ tanya Aisyah RA. ‘Aku bersama Abu Hurairah."

Kami meminta izin untuk masuk dan ia mengizinkannya. Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya:

“Duhai Tuhanku, Engkau adalah Waliku bagi umatku, maka perlakukan mereka sesuai sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”

"Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?"

"Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah sehabis mengerjakan salat di mesjid, Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu,’ kemudian ia berkata, ‘Bacalah!’

"Apa yang harus kubaca?"

"Bacalah: "Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan." (QS Maryam, 19:59)

"Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan salat?"

"Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan salat, mengakhirkan salat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar lebih berharga daripada salat.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA.

Abu Darda` berkata, “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berdzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan salat.”

Diriwayatkan pula bahwa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah adalah salat. Jika salat seseorang cacat, maka seluruh amalnya akan ditolak.

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk salat, karena Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.”

Atha’ Al-Khurasaniy berkata, “Sekali saja seorang hamba bersujud kepada Allah di suatu tempat di bumi, maka tempat itu akan menjadi saksinya kelak di hari kiamat. Dan ketika meninggal dunia tempat sujud itu akan menangisinya.”

Rasulullah SAW bersabda:“Salat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama. (HR Baihaqi).
Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (HR Bazzar dari Abu Darda`)

“Barang siapa bertemu Allah sedang ia mengabaikan salat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikan kebaikannya.” (HR Thabrani)
“Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka terlepas sudah darinya jaminan Muhammad.” (HR Ahmad dan Baihaqi)

“Allah telah mewajibkan salat lima waktu kepada hambaNya. Barang siapa menunaikan salat pada waktunya, maka di hari kiamat, salat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya. Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpul-kan bersama firaun dan Haman.” (HR Ibnu Hibban dan Ahmad)